3 Tiga Alasan Perempuan Melakukan Orgasme Palsu

Kenapa orgasme yang seharusnya menjadi titik klimaks menyenangkan hubungan intim dengan pasangan harus dipalsukan? Ini dia tiga alasan tertinggi menurut penelitian.

Orgasme palsu - Mommies DailyImage: Becca Tapert on Unsplash

Jauh sebelum saya menikah, dan masih bekerja di sebuah majalah, saya sempat menjadi bagian tim penyusun pertanyaan tentang survei orgasme palsu ini. Sejujurnya canggung banget, sih, pas diskusi dengan supervisor saya, ahahaha. Wong belum menikah, ibarat kata anak bawang soal hubungan suami istri :D

Baca juga: 10 Fakta Unik Tentang Orgasme

Tapi yang jadi menarik adalah (setelah “melahap” semua informasi soal orgasme ini), saya jadi bertanya-tanya juga dalam hati, “Kenapa juga kok orgasme dipalsukan sebagian orang, bukannya hal ini justru menjadi target dari hubungan intim?.” *Disclaimer, pertanyaan dari anak kecil yang waktu itu belum tahu bahwa pulang kerja lalu mengurus anak, sangat melelahkan Ferguso :p

Jangan tanya hasil surveinya waktu itu, ya, hahaha. Karena sudah lamaaa sekali, dan majalah yang memuat data-data surveinya, tak tahu kemana rimbanya.

Nah, sekian tahun berlalu, saya menemukan survei teranyar yang dilansir pada bulan November 2019, dalam Archives of Sexual Behavior oleh Debby Herbenick dan rekannya soal orgasme palsu. Dengan sampel survei sebanyak 1.008 perempuan, dengan rentang usia 18-94 di Amerika menunjukkan 58,8% peserta mengaku berpura-pura orgasme.

Baca juga: Mau Mencapai Orgasme Bersama? Coba 3 Cara Ini

Lalu apa alasan mereka memalsukan orgasme?

  1. Mereka ingin pasangannya mereka sukses (57,1%)
  2. Mereka ingin seks berakhir karena mereka merasa Lelah (44,6%), hmmm sounds familiar?
  3. Tidak ingin pasangan merasa buruk (37,7%)

Dikutip dari psychologytoday.com, alasan di atas muncul karena kurangnya komunikasi antar pasangan. Makin jadi masalah di sini, mengingat kita mengadaptasi budaya timur. Masih beranggapan bicara soal seks (bahkan dengan pasangan) adalah sesuatu yang tabu.

Hal yang sama ternyata juga terjadi lho di kalangan sampel yang saya sebutkan di atas. Menunjukkan 40,2%, tidak nyaman untuk melakukan perincian seksual lewat obrolan dengan pasangan.  

Padahal masih dari sumber yang sama, orgasme palsu bisa dihindari dengan blak-blakan sama suami. Memberi tahu pasangan kita, bagian tubuh mana, dan dengan cara apa kita ingin disentuh. Masing-masing perempuan punya daerah sensitif yang bisa dijadikan andalan menambah kenikmatian seksual, lho. Atau apapun yang bisa menghambat terjadinya orgasme, misalnya perempuan tuh kalau lagi banyak pikiran, jangan kan orgasme, buat turn on aja susah banget.

Baca juga: Agar Sesi Mesra-mesran Terasa Lebih Nikmat

Dan sebaliknya, obrolin juga tentang bagian tumbuh mana yang sebaiknya tidak usah dieksplor lebih lanjut. Jika komunikasi semacam ini tidak dijalankan, kesempatan pasangan bisa saling terpenuhi kebutuhan dan tujuan seksual makin menipis. Nggak mau kan, kalau orgasme hanya didominasi oleh satu pihak, karena kita enggan menyeruakan apa yang kita butuhkan?

 


Post Comment