Kok, Si Kecil Senangnya Mukul dan Gigit?

Walau seringkali kepala rasanya mau pecah, namun kita perlu memahami apa yang sebenarnya memancing anak agresif.

Kalau dulu saat masih bayi, ngantuk sedikit, nangis, lapar, nangis, haus, nangis. Sekarang, kok, sedikit-sedikit agresif: “ringan tangan” alias gampang sekali memukul. Kaki meja, ditendang. Nggak bisa pakai sepatu, lalu frustasi, teriak-teriak sendiri. Belum lagi pakai acara gigit tangan kakaknya hanya karena cemburu saat si kakak dapat pelukan dari ayahnya. Meski kelakuannya selalu bikin geleng-geleng kepala, bisa dibilang hal ini normal.

Menurut dokter anak di Atlanta, Jennifer Shu, MD, “Anak di usia ini tidak memiliki kemampuan untuk mengatakan apa yang ia mau. Hal tersebut membuat mereka stres.” Peran orangtua di sini, bukan justru jadi ikut stres saking heran atas perbuatan si kecil (walau seringkali kepala rasanya mau pecah), namun orangtua perlu memahami apa yang sebenarnya memancing anak bertindak agresif.

Pada dasarnya, tindakan agresif merupakan cara yang dilakukan anak saat ia tidak bisa berkata-kata menggambarkan perasaannya. Namun, pada kasus lain, agresif dapat berarti si kecil sedang mencari perhatian. Ketika kelakuannya tersebut mengundang perhatian orangtuanya, maka ia pun sadar bahwa itulah cara yang tepat untuk mendapatkan respon Anda.

Hampir semua anak bertindak agresif dari waktu ke waktu, beberapa di antara mereka bahkan mengalami masa-masa ini lebih lama. Sifat ini biasanya akan berkurang ketika kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berbahasanya semakin meningkat.

Lalu bagaimana menghadapi tindakan agresif si kecil?

Anak agresif - Mommies Daily

Respon segera

Ketika si kecil kedapatan menggigit atau memukul orang lain, segera respon dengan tegas, bawa si kecil ke luar atau menjauh dari lawan mainnya. Jelaskan bahwa memukul itu menyakitkan dan kita tidak melakukan itu saat bermain. Penjelasan yang terlalu panjang tidak akan membuat si kecil lebih mudah mengerti. Justru, semakin anak terlibat dalam diskusi panjang, semakin banyak perhatian yang ia dapatkan melalui sikap agresif tersebut.

Tidak perlu berteriak

Kadang saat kita menghadapi tindakan agresif anak, justru kitalah yang lebih mudah terbawa emosi, termasuk bernada tinggi dalam merespon teriakannya. Hal ini tentu tidak akan membuatnya jera, melainkan akan membuat anak berpikir bahwa merespon dengan cara agresif itu sah-sah saja.

Batasi gadget dan televisi

Kita tidak pernah tahu sejauh apa si kecil “menyelam” dalam satu sesi screen time. Awalnya mungkin ia hanya melihat tontonan berupa review mainan di Youtube, namun bukan tidak mungkin lima menit kemudian video berubah ke permainan yang melibatkan perkelahian satu dengan yang lain yang bisa “menginsipirasi” si kecil untuk bertindak yang sama di kehidupan nyata. Berbagai studi telah membuktikan bahwa anak yang terpapar tayangan yang mengandung kekerasan cenderung akan menjadi lebih agresif.

Baca juga:

Cara Mengendalikan Marah Si Kecil

Kenalkan tentang emosi

Bicarakan tentang perasaan yang ia alami, ketika ia bertindak agresif. Tanyakan pada anak, “Kenapa kamu marah sama Kakak?”, “Kenapa tadi Kakak kamu gigit?” Jelaskan bahwa marah itu wajar, namun tidak perlu dengan cara menggigit, memukul, dan mendorong. Buku cerita yang mengisahkan tentang berbagai perasaan juga dapat dijadikan bacaan sehari-sehari bersama si kecil. Tidak hanya ia mendapatkan penjelasan bagaimana mengutarakan apa yang ia rasakan, ia pun akan belajar mengendalikan amarahnya.

Hadapkan dengan konsekuensi

Saat anak bertindak agresif dengan membanting-banting mainan, biarkan ia menghadapi konsekuensinya. Kalau tindakan tersebut terus-menerus dilakukan, maka mainannya akan rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Sebaliknya, bila ia kedapatan merusak mainan si kakak, ia bisa memperbaiki keadaan dengan membantu memungut mainan tersebut dan menyusunnya kembali. Ajarkan anak untuk mengucapkan maaf ketika tindakannya melukai Anda atau orang lain di sekitarnya.

Jangan lupa untuk…

Puji si kecil saat ia bisa mengendalikan emosinya. Layaknya ketika langsung menegur saat ia memukul atau menggigit, tunjukkan pula bahwa kita menghargai usaha anak untuk menahan diri dengan tidak marah-marah. Pastikan bahwa si kecil merasa diakui ketika melakukan tindakan yang tepat dan betapa bangganya kita melihat tindakan tersebut, agar ia selalu ingat untuk melakukan tindakan yang benar.

Kita patut khawatir ketika tindakan agresifnya tersebut…

Terjadi setiap hari atau terlalu sering terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Menjadi lebih parah bahkan melibatkan agresi terhadap dirinya sendiri (termasuk menyakiti diri sendiri), seiring bertambahnya usia anak.

Sumber dari sini. 


Post Comment