Anak Suka Sendirian, Yakin Tidak Kesepian?

Saya perhatikan mulai dari TK B hingga sekarang duduk di kelas 2, anak saya Rimba terlihat lebih banyak main sendiri. Memang, sih, kemampuan verbalnya masih agak terbatas, walau sejak menjalankan terapi wicara sudah banyak sekali kemajuannya.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah dia memang tipe anak soliter yang lebih suka main sendiri, dan melakukan segala sesuatu sendiri, atau sebenernya dia kesepian karena nggak pernah diajak main?

Untuk Mereka yang Menghasihani Anak Saya Karena Menjadi Anak Daycare - Mommies Daily

Menurut Dr. Donna Volpitta, Ed.D, lulusan Columbia University di bidang Learning Dis/Abilities, Teachers College, sebenarnya agak tricky menentukan apakah seorang anak itu memang senang sendiri, atau justru sedih karena merasa sendirian.

Dr. Volpitta yang juga merupakan salah satu founder Center for Resilient Leadership di Amerika Serikat memberikan tips, bahwa hal pertama yang harus diketahui adalah apakah dia merasa tidak enak menghabiskan waktu sendirian?

Kita bisa berbicara dengan gurunya untuk mencari tahu apakah dia bermain dengan teman-teman di sekolah atau memilih untuk menyendiri. Kita bisa bertanya kepada guru siapa teman-temannya atau siapa yang menurutnya teman yang membuat anak kita nyaman bergaul.

Berikut beberapa pertanyaan spesifik yang bisa kita tanyakan pada guru si Kecil.

“Di lingkungan rumah, (misalnya namanya) Adi, tampaknya lebih banyak menghabiskan banyak waktu sendirian. Kalau di sekolah, apakah ibu sering melihatnya sendiri atau dia main dengan anak-anak lain?”

“Saya ingin mengundang satu teman sekelas Adi akhir pekan ini, apakah ibu bisa memberi info sebaiknya siapa saja yang diundang?”

“Apakah Adi baik-baik saja dengan siswa lain di kelasnya? Menurut ibu, cukup mudahkah dia berteman dengan yang lain?”

Sementara untuk menentukan apakah si Kecil kesepian, atau simply dia adalah seorang anak yang nyaman dengan dirinya sendiri, selain, “Gimana tadi di sekolah?” kita bisa menanyakan beberapa pertanyaan spesifik seperti di bawah ini.

“Tadi di sekolah, makan siangnya sama siapa saja? Apa saja yang kalian bicarakan?”

“Waktu jam istirahat ngapain saja sama teman-teman? Siapa saja yang main?”

“Ada kerja kelompok tidak hari ini? Kamu lebih suka berkelompok sama siapa?”

“Kamu punya waktu luang di kelas hari ini? Apa yang kamu lakukan? Mengapa memilih itu? ”

“Ada nggak teman di kelas yang ingin kamu ajak main ke rumah?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sebenarnya dapat membantu kita menentukan apakah si kecil soliter atau kesepian. Kita juga bisa tahu apakah dia memelajari keterampilan sosial yang diperlukan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Yang penting diingat bahwa anak-anak dilahirkan dengan kepribadian yang berbeda.

Beberapa anak cenderung mudah bersosialisasi, punya banyak teman, sementara ada juga anak yang lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Merasa masih belum bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas? Mungkin sudah waktunya konsultasi ke psikolog anak.


Post Comment