Berantem Terus Setelah Punya Bayi? Lakukan 7 Hal Ini!

Ditulis oleh: Rachel Kaloh

Transition to Parenthood (TTP) yang bikin kagok bisa memicu keributan dengan pasangan. Namun, hal ini bisa dihindari, kok!

Kehadiran seorang anak itu memang melengkapi sebuah keluarga. Tapi, tidak sedikit pasangan suami istri yang kemudian mengalami yang namanya Transition to Parenthood (TTP), alias kagok saat jadi orangtua baru, sehingga bawaannya malah berantem terus-menerus. Kira-kira, kenapa hal ini terjadi dan bagaimana supaya frekuensi “keributan” di rumah ini bisa berkurang? Coba kita pelajari pelan-pelan, ya…

Berantem Terus Setelah Punya Bayi? Lakukan 7 Hal Ini! - Mommies Daily

Perjanjian soal cuti melahirkan

Hal yang paling utama buat seorang ibu baru adalah support system. Siapa lagi selain suami yang paling bisa diandalkan, nggak semua ibu beruntung, lho, punya orangtua yang bisa membantu urus anak. Karena itulah, ada baiknya kita dan pasangan sudah membicarakan soal cuti menjelang due date. Siapkan cuti yang lebih panjang bila memungkinkan, karena di Indonesia belum diterapkan cuti melahirkan untuk ayah yang setara dengan para ibu. Waktu cuti yang cukup dapat membantu kita dan pasangan dalam beradaptasi dengan kebiasaan yang baru.

Lelah itu pasti, maka ubahlah ekspektasi

Dr. Leah Ruppaner, Ph.D, seorang sosiologis keluarga dan gender dari The University of Melbourne, mengatakan bahwa sebagai orangtua baru (terutama para ibu), kita perlu membuang jauh pikiran akan tuntutan menjadi orangtua yang ideal. Menurutnya, hal ini hanya akan membuat seorang ibu tertekan ketika merasa tidak bisa menjadi ibu yang sempurna. Terutama di jaman sekarang, saat postingan di Instagram seringkali jadi ukuran untuk seseorang menjadi ibu panutan. Karena kenyataannya, menjadi orangtua itu melelahkan, percuma berusaha menjadi yang sempurna.

Bagi-bagi peran, nggak perlu perang

Suami yang melakukan pekerjaan rumah bukan artinya membantu istri, karena pekerjaan rumah adalah tanggung jawab berdua, sebagai si pemilik rumah. Begitu pula mengurus anak, karena anak adalah tanggung jawab kedua orangtua. Ganti popok, nidurin si kecil, cuci piring, ngepel rumah, nyetrika, dan segudang aktivitas lainnya bisa dilakukan oleh kita, maupun pasangan. Lagipula, nggak semua pekerjaan rumah ini perlu dilakukan setiap saat, cuci baju kan bisa dilakukan seminggu sekali saat akhir pekan.

Cara ibu bukan patokan

Mentang-mentang lebih sering berurusan dengan anak, si ibu seperti punya mantra sendiri terhadap apapun. Semua hal harus sesuai dengan cara yang selama ini ia lakukan, nggak boleh melenceng. Haruskah demikian? Tentu tidak! Selama hal tersebut tidak berbahaya terhadap si kecil, seorang ibu sebaiknya tidak memasang “standar” dalam soal pengasuhan. Suami pasti punya cara sendiri saat memandikan si kecil, menyuapinya maupun menyiapkan susu, tanpa si ibu capek-capek ngomel mesti begini dan begitu saat lihat ada yang nggak sesuai dengan caranya.

Menjaga keintiman di luar seks

Esther Perel, M.A., L.M.F.T., seorang psikoterapis dan penulis buku “Mating in Captivity: Unlocking Erotic Intelligence”, menjelaskan bahwa kehadiran seorang anak membuat orangtua perlu mengatur ulang struktur kehidupannya, termasuk kehidupan seks. Butuh waktu untuk membuat seks itu kembali nyaman, baik bagi istri maupun suami. It takes time! Namun, selama “puasa” seks, hubungan intim antar suami dan istri jangan sampai benar-benar berhenti. “Setiap malam saat si kecil sudah tidur, saya dan suami menikmati waktu berdua. Sambil memijat kaki saya dan sesekali saya bersandar di dadanya sambil bertukar cerita, rasanya nggak jauh berbeda dengan perasaan ketika selesai berhubungan seks”, ungkap salah seorang teman sesama ibu.

Me Time, Me Time, and Me Time…

Pembagian peran mungkin bisa berhasil diterapkan dalam urusan pekerjaan rumah. Namun, saat mengurus anak, khususnya bayi baru lahir, peran ibu memang bisa diakui tetap dominan, apalagi urusan menyusui. Sebetulnya, ibu nggak butuh piknik, karena piknik bersama bayi itu sesungguhnya tetap melelahkan. Lebih tepatnya, ibu butuh me time! Apapun bentuk aktivitas yang akan dilakukan, namanya me time pasti sangat berharga. Jadi, untuk para suami yang bisa colongan me time saat kerja, berikanlah juga waktu buat istri untuk bisa menikmati kesendiriannya.

Cari bantuan!

Sebagai ibu yang jauh dari sempurna, ingatlah kalau kita punya hak untuk mendapatkan bantuan, terutama ketika semua hal menjadi semakin di luar kendali. Seringkali, keributan antara suami dan istri terjadi karena salah satu pihak tidak membiarkan dirinya mendapatkan bantuan. Sudah terlalu lelah mengatur pekerjaan rumah dan mengurus anak? Mungkin saatnya mencari bala bantuan. Andalkan support system lain, yaitu mereka yang bisa membantu meringankan beban kita sehari-hari.

Baca juga:

Konselor Laktasi Rekomendasi Para Ibu

Selamat mencoba!

Sumber dari sini. 


Post Comment