10 Kesulitan Orangtua Millennials Dibanding Generasi Sebelumnya

Jadi orangtua di zaman digital ini ternyata ada kekurangan dan kelebihannya.

Meski jadi orangtua tak pernah mudah, tuntutan zaman ternyata “mempersulit” hidup orangtua zaman sekarang. Tak heran, kita-kita ini mudah sekali menyerah punya anak. Boro-boro belasan seperti anak zaman dulu, baru satu saja sudah langsung kibar bendera putih hahaha.

orangtua parenting 2019

Apa saja kesulitan alias tantangan orangtua millennials dibanding orangtua di generasi sebelumnya?

Pilihan sekolah semakin banyak

Dulu, sekolah negeri saja bangga karena tidak banyak juga pilihan sekolah swasta dengan kualitas yang jauh dengan negeri. Dulu, sekolah swasta kebanyakan hanya dibanggakan dari kedisiplinannnya saja.

Sekarang sekolah swasta banyak sekali ragam dan kurikulumnya sehingga memilih sekolah pun harus dari jauh-jauh hari. Agar cocok dengan gaya belajar anak dan value yang dipegang keluarga di rumah. Uang untuk masuk sekolah hingga kuliah pun sudah ditabung sejak jauh-jauh hari!

Parenting itu harus belajar

Dari IG story, seminar, workshop, bahkan tak sedikit ibu-ibu yang mengambil diploma montessori hanya karena ingin menerapkan montessori di rumah dengan benar bersama anak. Parenting harus dipelajari bersama ahli, mau tak mau ada waktu yang dikorbankan, ada uang yang harus keluar. We have it harder than our parents!

Ibu dan pekerjaan

Yes, karena semakin banyak kebutuhan dan kualitas anak yang dijaga baik-baik, jadinya banyak ibu yang harus juga bekerja demi meningkatkan kualitas diri plus tambahan uang demi masa depan anak. Masalahnya, ada ibu-ibu yang beruntung dengan kantor bisa jadi support system sebagai ibu, ada pula yang mau izin karena anak sakit pun masih disindir bos. Belum lagi karena internet, pekerjaan rasanya jadi menghantui 24 jam. Mama millennials harus jago multitasking!

Mental health jadi isu penting

Dulu, tak ada yang peduli ibu lelah bekerja dan masih harus mengerjakan tugas rumah tangga. Sekarang, ibu lebih peka pada kebutuhan diri dan kesehatan mental demi waras membesarkan anak dan jadi istri yang baik. Kepekaan ini, membuat orangtua millennials tak ragu untuk datang ke psikolog atau psikiater. Semakin banyak hal yang harus diperhatikan ya!

Biaya daycare yang mahal

Biaya daycare anak saya sekarang, dua kali lipat lebih dari cicilan rumah kami. Semahal itu karena daycarenya sekaligus preschool dan TK montessori. Tapi saya toh rela-rela saja membayar uang sejumlah itu dibanding menitipkan anak ke nanny atau tetangga apalagi orangtua dan mertua tinggal di luar kota. Sulit iya, tapi kami tidak punya pilihan lain ahahaha.

Anak dituntut menemukan passion sejak kecil

Kayanya saya tak menemukan satu pun anak teman yang aktivitasnya hanya sekolah. Mereka pasti punya les tambahan lain di luar sekolah. Lagian ya, jangankan yang sudah sekolah, bayi-bayi baru bisa merangkak pun sudah punya kelas sendiri kan. :)))

Bersosialisasi di dunia maya

Dulu, anak hanya diwanti-wanti soal penculik. Sekarang, anak harus dikenalkan dengan batasan berkomunikasi di dunia maya. Banyak predator berkeliaran dan jauh lebih sulit terdeteksi. Juga cyberbullying.

Orangtua senang mengabadikan kenangan

Liburan keluarga foto-foto dan story, kumpul keluarga juga demikian. Anak malah kadang sebal karena mama papanya sibuk terus foto. Saya sekarang sudah ada di titik foto apa adanya tapi nikmati waktu bersama keluarga. Tak perlu kok mengabarkan semua pada dunia atau tak perlu foto dengan angle tertentu kalau tujuannya hanya menyimpan kenangan semata.

Anti vaksin

Ini sedih sekali ya karena outbreak bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara lain. Dengan berbagai alasan dari agama sampai kembali ke alam, banyak orangtua yang menolak vaksin anaknya sehingga penyakit kembali menyebar. Padahal dulu kampanye vaksin dilakukan besar-besaran sampai penyakitnya tidak muncul sama sekali.

Mudah membandingkan

Dulu, orangtua tidak tahu apakah mereka membesarkan anak dengan cara yang sama dengan orang lain atau tidak. Sekarang, membandingkan itu jadi sangat sangat mudah. Kalau merasa “salah” maka kita biasanya inferior dan rendah diri. Tapi kalau merasa “benar” banyak yang jadi merasa berhak menasihati.

Sulit ya momsss! Siapa bilang jadi orangtua itu gampang ahahahaha.


Post Comment