4 Ketakutan Ibu Menyusui Jelang Menyapih Anak

Menyusui selalu disebut-sebut sebagai hal yang indah dan selalu ingin kita ulang.

Setelah menyusui untuk beberapa lama, kini datang waktunya untuk menyapih anak. Jelang proses penyapihan ini banyak sekali ibu yang galau karena berbagai kekhawatiran dan ketakutan.

Menyusui - Mommies Daily

Apa saja ketakutan itu?

Takut kangen masa menyusui

Bagi saya pribadi, saya ternyata tidak kangen-kangen amat momen menyusui. Mungkin karena saya menyusui 3 tahun lamanya. Saya dan Xylo sama-sama sepakat berhenti ketika kami berdua merasa sudah siap.

Jadi kuncinya di kesiapan ibu dan anak ya. Tidak perlu memaksa menyapih kalau memang ibu merasa masih ingin menyusui, begitu juga sebaliknya. Kalau anak masih sesering itu minta disusui ya susui saja. Tidak ada efek buruknya kok menyusui lebih dari 2 tahun itu.

Ya kecuali mommies hamil lagi jadi terpaksa harus menyapih ahahaha.

Takut tidak dibutuhkan anak lagi

Saya ternyata lebih suka quality time bersama anak dengan ngobrol dari hati ke hati. Cerita hari itu, bicara perasaan, menyebut hal-hal yang bikin senang. Dulu ketika masih nenen, saya sepertinya hanya dibutuhkan hanya karena puting belaka ahahahaha.

Dan ternyata anak masih lah butuh kita. Melihat suami yang masih menelepon mamanya setiap hari sih rasa-rasanya anak akan tetap terus butuh kita ya selama kita bisa menjaga bonding. Meski sudah tidak menyusui, kami masih tidur berpelukan kok. Ia masih mendatangi saya untuk minta peluk saat sedih atau kecewa.

Jadi poin ini invalid selama bonding masih bisa kita jaga!

Takut drama saat tidur

Nah, ini juga dulu bikin saya galau. Saya kalau ngantuk bisa cranky berat makanya saya merasa nggak sanggup kalau harus memaksa menyapih anak. Karena jika dipaksa, anak pasti akan drama sebelum tidur karena kegiatan favoritnya “diambil paksa”. Kalau sudah begitu mau tidak mau pasti begadang sama-sama kan.

Saya akhirnya menyapih dia di umur 3 tahun, saat ia sudah mengerti dan memutuskan untuk berhenti sendiri. 100% no drama! Malemnya tidur guling-guling sebentar lalu terlelap, tidak ada adegan nangis dulu yang bikin lelah ahahahaha.

Takut makannya kurang

Saat masih ASI kalau dia makannya sedikit, saya menghibur diri dengan “ah biar aja yang penting nenennya banyak”. Tapi ternyata setelah lepas ASI, ia lebih mudah makan karena mungkin perutnya tidak terus menerus terganjal ASI.

Ia juga jadi bisa menakar kapan lapar kapan kenyang dan nafsu makannya jauh lebih baik.

Jadi … kalau memang sudah siap lahir batin, jangan ragu untuk sapih mommies! Ketakutan itu belum tentu terjadi!


Post Comment