Ibu, Ingat Selalu 5 Hal Ini Agar Tak Merasa Bersalah Lagi

Saat pertama kali menjadi ibu, yang saya rasakan adalah rentetan rasa bersalah yang tak kunjung henti.

Saya merasa bersalah karena tak bisa menyendawakan ia segera, saya merasa bersalah karena berkat sepotong telur yang saya makan, bayi saya menangis kesakitan semalaman. Saya merasa bersalah ketika ia sakit, saya merasa bersalah ketika harus kembali ke kantor untuk bekerja. Saya menangis seharian saat ia pertama kali masuk daycare dan rasanya ingin langsung mengajukan resign detik itu juga.

Lama kelamaan saya sadar kalau perasaan bersalah itu muncul karena saya secara tidak sadar punya standar sendiri tentang menjadi ibu. Standar yang entah saya dapat dari mana karena rasanya tidak realistis.

Beruntung saya hanya mengalami masa-masa rasa bersalah ini hanya selama 3-6 bulan. Setelah itu saya less-guilty, saya merasa selama saya melakukan yang terbaik, maka yang terjadi bukanlah kesalahan saya.

Ya meski ada saja sedikit perasaan bersalah seperti ketika ia sampai diare karena saya memberinya jajanan di pinggir jalan atau ketika ia jatuh sampai terluka agak parah sementara saya sedang bekerja di akhir pekan. :)

ibu ambisius

Me time itu investasi

Jangan pernah merasa bersalah kalau sedang me time! Yang satu ini saya tak pernah merasa bersalah sih karena saya sebetulnya tak tahan harus bersama anak seharian penuh. Anggap me time sebagai investasi agar saat bertemu anak, kita punya 100% waktu berkualitas untuknya. Dengan pikiran yang tenang dan emosi yang stabil.

Jadi ibu bekerja itu tidak apa-apa, apapun alasannya

Yes, bekerja demi uang boleh saja, bekerja demi kabur dari anak karena tak mampu menemaninya seharian juga tak apa. Bekerja demi hobi juga silakan! Menjadi ibu bekerja itu pilihan hidup sebagai individu dewasa, boleh dilakukan, apapun alasannya. :)

Jangan membuat standar ibu sempurna

Standar itu kadang tidak masuk akal. Sudah tahu tak sanggup hanya bersama anak seharian, eh bikin standar sendiri ibu yang baik adalah ibu yang tidak bekerja. Jadilah di rumah uring-uringan sendiri. Iya sih bersama anak 24 jam, tapi yang berkualitas berapa jam? Yang benar-benar menemani anak bermain tanpa distraksi berapa menit?

Membuat kesalahan itu wajar

Iya, sebagai ibu, sebagai manusia, salah juga tidak apa-apa kok. Apalagi kalau langsung sadar dan bertekad tak akan mengulanginya lagi. Salah itu wajar dan tidak apa-apa. Jangan terus tenggelam dalam kesalahan karena tidak akan membawa kita ke mana-mana!

Tidak ada yang “harus” dilakukan sebagai ibu

Selama tidak mengancam nyawa, tak ada yang harus selama jadi ibu. Harus apa? Harus sempurna? Harus langsung kurus setelah melahirkan? Harus diam di rumah 24 jam? Harus memberi ASI 2 tahun full? Tidak ada yang harus lho, semuanya pilihan.

Memilih pilihan yang membuat kita lebih sedikit stres dan waras, akan membuat kondisi mental kita lebih sehat dan lebih siap menghadapi anak. Bagaimana pun, menurut saya, anak lebih butuh ibu yang sehat lahir batin dibanding ibu yang “sempurna” entah menurut standar sempurna siapa.


Post Comment