Mengapa Saya Tidak Pernah Memberi Hadiah Pada Anak

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Saya belajar bahwa tanpa reward pun anak bisa menerapkan kebiasaan baik.

Pasti kita sering mendengar, orang tua yang memberikan iming-iming hadiah spesial untuk anak, jika mereka berhasil mencapai target tertentu. Entah itu, nilai rapor, NEM UN, ranking kelas, kejuaraan turnamen, hafalan kitab suci, dan sebagainya. Atau bahkan, ada juga yang memberikan hadiah kalau anak mau melakukan suatu kebiasaan.

Dulu, saya juga melakukannya. Ketika anak saya Pi (12) merengek minta dibelikan game Minecraft seharga 26,95 dolar AS, saya langsung berpikiran, boleh aja sih, asal nggak gratis. Dia harus mau melakukan sesuatu, dan game itu sebagai reward. Saat berdiskusi dengan suami, kami pun berdebat, suami malah bilang, “Suruh aja dia ngepel rumah tiap hari.” Sedangkan, saya tidak setuju. Sebab, mengepel rumah memang tugasnya. Tanpa hadiah pun selama ini sudah dia lakukan, asal disuruh. Akhirnya disepakati, hadiah itu diberikan kalau ia bisa menyelesaikan tugas review satu buku.

Jujur, saya termasuk orang yang jarang memberi hadiah ke anak. Setiap hari ulang tahunnya, ia bahkan tidak pernah menerima hadiah fisik. Misal, oleh ayahnya, ia mendapat ‘hadiah’ berupa uang. Hadiah itu dibelikan saham yang kelak akan menjadi tabungannya. Dari hasil baca-baca, saya menemukan teori yang memperkuat keyakinan saya tentang tidak diperlukannya pemberian hadiah untuk anak. Ternyata saya berada di jalur yang benar.

Mengapa Saya Tidak Pernah Memberi Hadiah Pada Anak - Mommies Daily

Hadiah hanya akan mengikis minat intrinsik anak

Banyak penelitian menunjukkan bahwa hadiah memang dapat memberikan efek kepatuhan, tetapi sifatnya sementara. Dan, ketika digunakan dalam jangka panjang, berakibat mengikis minat intrinsik anak dalam aktivitas apa pun yang mereka diberi imbalan. Merujuk pada tokoh pendidikan asal Inggris Charlotte Mason, anak memiliki hasrat alamiah akan pengetahuan. Hasrat dan rasa ingin tahu itu bisa dilumpuhkan, atau dibuat lemah, jika ada hasrat-hasrat lain dibiarkan mengganggu relasi antara anak dengan pengetahuan yang tepat baginya. “Ranking bisa memicu kompetisi, penghargaan bisa memicu sifat rakus, hadiah bisa memicu ambisi, pujian bisa memicu kesombongan. Semua ini bisa menjadi batu sandungan bagi si anak,” begitu menurut Charlotte.

Hadiah membentuk sikap entitlement (merasa berhak)

Dalam teori positive parenting, pemberian hadiah juga sangat dihindari. Menurut Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solutions, contoh sederhana, jika kita mengiming-imingi hadiah kue, kalau anak mau membersihkan kamar, mungkin ia akan mematuhinya. Tetapi, pada saat berikutnya kita memintanya menyelesaikan tugas lain, kue yang kita tawarkan itu tidak akan menarik lagi bagi anak. Ia akan meminta sesuatu yang lebih lagi. Dan begitu seterusnya.

Kewajiban sehari-hari, tidak perlu hadiah

Anak perlu dilatih agar memiliki rasa tanggung jawab. Ia adalah bagian dari anggota masyarakat dalam lingkup terkecil, yakni keluarga. Ia perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kewajiban. Sebagai anak, ia juga memiliki tugas dan kewajiban, yang disesuaikan dengan usianya, dan disepakati bersama. Untuk membuat anak mau melakukan kewajibannya, jadikan kebiasaan rutin dan terjadwal setiap harinya. Kita bisa mengatur jadwal untuk meletakkan prioritas pada hal-hal yang tidak menyenangkan (seperti membereskan kamar, merapikan mainan, menyelesaikan PR, memberi makan kucing, dan sebagainya), maka setelah itu, mereka dapat melakukan hal-hal yang menyenangkan (seperti menonton TV atau Youtube, bermain bersama teman, atau jajan).

Beri pujian pada usaha, bukan hasil

ujian bisa bermakna positif, bisa juga berakibat negatif. Masalah dengan pujian, meskipun bermaksud baik, bisa menjadi bumerang bagi anak, dalam jangka panjang. Misal anak yang selalu dipuji pintar. Apa yang terjadi ketika ia mendapat nilai 5 di sekolah? Alih-alih memuji, gunakan dorongan untuk menumbuhkan motivasi internal anak. “Pastikan untuk memperhatikan kerja keras anak, sikap, atau semangatnya. Sampaikan betapa kita menghargai hal-hal tersebut,” saran Amy McCready.

Beri ‘hadiah’ bukan sebagai hadiah, tetapi kebutuhan

Ketika usia anak sudah layak untuk memiliki ponsel, maka ponsel perlu diberikan sebagai kebutuhan. Begitu juga tas baru, baju baru, sepatu baru, mainan baru, dan sebagainya. Setiap barang yang dimilikinya menandai milestone yang telah dilewati anak. Begitu juga, ketika bersama keluarga sesekali piknik, makan di restoran, atau menonton film kesukaan di bioskop, ataupun aktivitas pleasure lain, tanamkan pada anak bahwa aktivitas tersebut bisa dilakukan bukan dalam rangka pemberian reward, tetapi aktivitas yang sesekali perlu dilakukan untuk keluar dari rutinitas.


Post Comment