Bersiap Hadapi Drama Anak Usia Pra Sekolah

Siapkan mental mommies menerima fakta, si anak usia pra sekolah punya beberapa masalah klasik, ketika mereka pertama kali masuk sekolah.

Drama Anak Usia Pra Sekolah - Mommies DailyImage: Jerry Wang on Unsplash

Selalu ada momen pertama kali untuk semua hal, begitu juga anak-anak. Ketika mereka pertama kali dihadapkan dengan aktivitas yang berbau sekolah. Kemungkinan mommies menerima empat reaksi di bawah ini sangat besar, lebih baik mempersiapkan diri dari awal – sekaligus tahu kiat mengatasinya.

1. Nangis

Lingkungan dan orang-orang baru yang selama ini belum pernah ditemui, harus menjadi bagian keseharian mereka. Jadi wajar kalau anak menangis, sebagai bentuk reaksi tidak nyaman di hari pertama mereka sekolah. Validasi bentuk emosinya, agar si kecil merasa nyaman karena mendapatkan respon kita “iya, mama tahu kamu belum kenal ya sama bu guru dan teman-teman yang ada di sini. Kita kenalan yuk supaya bisa main bareng”. Jangan lupa kasih pelukan, ya.

2. Minta ditemani

Ingat banget deh saya, pas Jordy masuk PAUD pertama kali. Saya ditarik-tarik ke dalam kelas, minta ditemani. Wajahnya cemas pas lihat suasana kelas. Meski sebelum kami sudah penah survei dan trial terlebih dahulu. Menurut pengalaman saya satu atau dua kali ditemani, masih wajar. Berikutnya, pakai ilmu tega. Karena tujuan saya memasukkan anak PAUD, agar dia mengenal sosialisasi sesama usianya. Dua mingguan, anaknya sudah terbiasa kok.

3. Nggak mau masuk kelas

Di awal-awal ada penolakan seperti ini. Jangan dipaksakan, biarkan dia observasi apa yang akan dihadapi, bisa dimulai duduk di depan kelas. Terlebih jika kita tahu karakter anak kita tipe yang mana. Misalnya untuk Jordy, yang termasuk slow to warm up. Kata Psikolog Anak dan Keluarga, Mbak Anna Surti Ariani, untuk tipe anak seperti ini berikan banyak waktu untuk si anak bertemu dan bermain bersama teman-teman seumurannya. Mungkin dalam beberapa jam, atau dalam beberapa hari.

Satu hal lagi yang mesti dingat menyoal tipe berbagai tipe-tipe temperamen anak, menurut Mbak Nina “hargailah bahwa setiap anak punya keunikan. Akan jadi masalah kalau anak terlihat ketakutan bertemu orang lain, bahkan sengaja menciptakan berbagai cara agar tidak bertemu dengan orang lain. Jika sampai seperti itu, sebaiknya dikonsultasikan kepada psikolog anak”.

Masih dari Mbak Nina, jika si kecil merasa tidak nyaman dengan lingkungan barunya, jangan terlalu dipaksa, ya, Mommies. Berikan waktu, dan berikan keyakinan bahwa apapun keputusannya, orangtua akan mendukung dan tetap menyayanginya.

4. Susah bangun tidur

Kalau masalah ini, ada kaitannya dengan pembiasaan disiplin di rumah. Bagaimana kita mengenalkan mengenai rutinitas sehari-hari. Semua dilakukan sesuai jadwal, kecuali di akhir pekan, mau agak longgar, balik lagi ke value setiap keluarga. Makanya tidak bisa mengharapkan anak langsung terbiasa bangun tidur pagi untuk ke sekolah. Jauuuuuh hari sebelum dia sekolah, kita sudah mengenalkan tentang rutinitas bangun pagi, mandi, berpakaian untuk sekolah dan seterusnya.

-

Dari semua poin di atas, (IMHO) yang terpenting adalah kekuatan sounding ke anak. Menjelaskan dengan kalimat yang mudah dia mengerti, dibarengi dengan visual beruapa foto dan survei langsung. Yang dibahas di antaranya: apa itu sekolah?, bisa ngapain aja di sana, ada apa saja di sana, kegiatannya beragam bisa main dan belajar. Untuk meminimalkan empat poin di atas berlangsung berlarut-larut.

Baca juga: Persiapan Anak Masuk Daycare


Post Comment