DoReMi & You, Film Remaja yang Menyentil Orangtua

Berangkat nonton Gala Premier DoReMi & You dengan harapan dapat asupan bahan buat pasang rambu pergaulan dan ceramahin anak-anak saya yang masuk usia SMP dan (mau) SMA, yang ada malah saya yang tengsin sebagai orangtua *tutupin muka.

DoReMi & You - Mommies Daily

Sebetulnya plot ceritanya sendiri cukup sederhana dan mainstream. Persahabatan beberapa anak, ada masalah, lalu cari solusi, dengan bumbu roman ala preteen. Diperankan oleh aktor dan aktris cilik – Adyla Rafa Naura Ayu, Devano Nanendra, Fatih Unru, Nashwa Zahira, dan Toran Waibro.

Nah, saat konflik muncul dan anak-anak putar otak untuk menyelesaikannya, dan justru ditambah hambatan dari orangtua, saya gatal banget kenapa nggak pada ceritain aja, sih, masalahnya sama orangtua. Kan orangtua jadi bisa bantuin atau minimal kasih gambaran atau pencerahan yang bisa bantu mereka. Bukan malah menghambat proses penyelesaian masalah mereka. Iya, kan?

Not.

Saya justru diingatkan bahwa hambatan tersebut justru makin menantang anak untuk terus memutar otak, sampai ke tujuan. Membentuk anak-anak yang kreatif, problem solver, dan pantang menyerah. Di film ini, orangtua nggak kasih bocoran atau contekan solusi, selain clue yang itu pun tipis-tipis banget buat saya.

Nggak kayak saya *tutup muka lagi.

Sentilan lain yang saya dapat, adalah bahwa saya yang (merasa) sukses memandirikan anak, ternyata belum sukses memandirikan remaja. Membiarkan anak memilih, mengambil keputusan, dan menyiapkan sendiri keperluan hariannya nggak berhenti di bisa makan sendiri, pakai baju dan ikat tali sepatu sendiri, bahkan masak dan cuci baju sendiri.

There are a whole lot level more to be a responsible and independent adult. Tamparan keras buat saya yang masih sering menjajah keputusan anak ketimbang menjadi kamus saat anak perlu saja.

Adalah satu hal yang alami saat anak memutuskan untuk tidak perlu cerita sama orangtua ketika menghadapi masalah. Kita sendiri, apakah selalu mengadu ke orangtua kita pas ada masalah dengan anak atau suami, misalnya? Waktu dimarahi bos atau klien? Tentu nggak, kan? Karena menurut kita nggak semua perlu dan penting diketahui orangtua.
Pun demikian dengan masalah anak-anak.

Tapi tentunya kita sebagai orangtua tetap harus tanggap membaca situasi anak. Jangan sampai ternyata anak terlibat masalah yang rumit dan kita terlambat mengantisipasinya.

Iya, kak, jadi orangtua memang susah, ya *menghela napas dan kirim salam hormat pada semua orangtua.

Selain sentilan-sentilan di atas, detaill kebhinekaan khas Indonesia yang terselip di sepanjang film, sudah bikin mata saya ketusuk bawang bahkan sebelum tampilan nama pemeran utama usai di awal film.

Mungkin saya saja yang baper dengan situasi belakangan ini yang nampak meluntur semangat ke-Indonesia-annya. Pengkotak-kotakan atas nama kesukuan dan agama, pelan-pelan mengaburkan Indonesia yang ramah dan toleran. Menonton film ini jadi seperti bermimpi indah melihat relasi pertemanan anak-anak, yang mungkin sepuluh tahun lalu scene yang sama akan saya anggap biasa. Taken for granted.

Semoga bukan sekadar mimpi indah dan mewujud nyata di generasi anak-anak kita, ya.

Hayuk ‘lah pada nonto, film arahan sutrada BW Purbanegara ini mulai tanggal 20 Juni. Pas banget buat ngisi liburan kenaikan kelas, nih. Biar kita ramai-ramai kesentil *ternyata nyari teman kesentil :D

 


Post Comment