Dwi Sasetyaningtyas, “Saya Orangnya Haus akan Ilmu”

Dwi Sasetyaningtyas, usianya belum genap 30 tahun, tapi sepak terjangnya menggaungkan gaya hidup zero waste, lewat usahanya Sustaination patut diacungi jempol. Seperti apa persisnya Tyas dibesarkan orangtuanya, hingga membentuk karakternya seperti sekarang?

Dwi Sasetyaningtyas - Mommies Daily

Orangtua Dwi Sasetyaningtyas, atau akrab disapa Tyas, berpesan supaya terus belajar. Tapi jangan hanya mengandalkan ilmu dari sekolah. Ilmu baru juga bisa didapat Tyas dari orang-orang yang baru dia temui.

Sangat mudah membuat lulusan S1 Teknik ITB & S2 di Delft University of Technology (TU Delft) Belanda Jurusan Sustainable Energy Technology ini bicara tentang diri dan kariernya. Percaya diri, tapi tidak tinggi hati. Kaya ilmu, tanpa merendahkan lawan bicara, adalah citra yang saya dapatkan sepanjang ngobrol dengan ibu satu anak ini.

Seperti bidang ilmu terakhir yang ia pelajari di S2, kini Tyas juga aktif mendedukasi masyarakat seputar gaya hidup minim sampah, atau istilah kerennya, zero waste. Lewat usahanya Sustaination, ia menjual sejumlah kebutuhan sehari-hari yang ramah lingkungan. Sambil menyelipkan informasi seputar isu-isu terkini soal lingkungan, dan apa  yang bisa kita lakukan untuk ambil bagian memperpanjang umur bumi.

Baca juga: Apa, sih, Zero Waste Itu?

Yuk, ikuti obrolan saya selengkapnya dengan Tyas.

Tiga hal yang paling kamu sukai dari diri kamu?

Saya orangnya ontime, tapi di sisi lain, punya harapan orang lain bisa ontime. Kedua saya adalah orang yang ramah, dan pada dasarnya saya gampang akrab sama orang yang baru dikenal, karena saya orangnya juga suka ngobrol, tentang isu apapun. Yang terakhir, saya itu merencanakan segala sesuatu.

Soalnya sebetulnya saya orangnya mudah insecure, jadi dengan merencanakan sesuatu, saya merasa lebih aman. Saya punya buku manual catatan khusus, yang berisi jadwal sehari-hari. Hingga mencatat hal-hal seperti perencanaan keuangan, misalnya rencana untuk punya rumah.

Ada nggak, sih, pengalaman masa kecil kamu, yang membentuk kamu hingga seperti sekarang?

Peran dari kedua orangtua, mereka mengajarkan saya untuk menghargai orang lain, karena ketika seseorang sudah membuat janji dengan kita, artinya dia atau mereka sudah meluangkan waktunya untuk kita. Jadi jangan sampai telat. Selain itu, kita juga harus baik dengan semua orang. Dan pada dasarnya saya termasuk ekstrovert.

Lucunya, papa saya itu kalau kami sedang jalan-jalan ke luar kota, dan ada bule, saya disuruh ngobrol sama mereka. Sekalian melatih Bahasa Inggris. Dan papa saya adalah seorang Financial Manager, apa-apanya dihitung. Kalau lagi kumpul-kumpul biasa, suka ditanya, SMP mau masuk ke mana dan seterusnya. Pas saya bilang masuk ITB saja, saya harus “jualan” ke mereka, kenapa saya pilih ITB.

Kenapa pada akhirnya, kamu tertarik membahas isu-isu tentang lingkungan?

Dwi Sasetyaningtyas - Mommies Daily

Awal mulanya, 2014 saya ambil license diving di pulau Pramuka. Harapan pertama kali saya sekolah menyelam, pas nyelam saya ingin melihat biota laut yang indah, tapi fakta di lapangan saya tidak melihat apa-apa, lautnya buram dan banyak plastik. Sama instruktur menyelam saya, diminta tolong sekalian ambilin plastik-plastik yang berserakan.

Di situ saya mulai tanya ke pacar (sekarang sudah jadi suami). Sebetulnya sampah-sampah ini asalnya dari mana? Dia bilang dari pulau seribu dan Jakarta. Dari situ saya mulai resah, nggak bisa seperti ini terus. Kita harus berbuat sesuatu sesuai dengan porsi kita masing-masing. Mulai deh saya baca-baca buku tentang perubahan iklim. Akhirnya saya memutuskan kuliah S2 Jurusan Sustainable Energy Technology, di Belanda.

Pas kuliah jauh di Belanda, saya berpikir mau berbuat sesuatu untuk Indonesia. Nah, isu sampah  di Indonesia cukup membuat saya patah hati. Malah berita-berita yang pernah saya dengar di luar negeri, Indonesia digadang-gadang sebagai penyumbang sampah di laut ke-3 terbesar di Indonesia. Sungai Citarum dibilang sungai paling tercemar di dunia. Sedih!

Setelah saya berpikir, sampah, memang sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian kita. Semua orang memproduksi sampah, tidak ada yang luput satu orang pun. Nah, makanya kita bisa mulai dari diri sendiri, rumah dan keluarga. Hal ini lebih masuk akal dan mudah.

Penggunaan kata-kata “zero waste,” atau minim sampah, adalah salah satu strategi marketing supaya mudah diingat masyarakat. Ke depannya saya berharap, tidak hanya minim sampah, tapi kita lebih bijak dalam mengonsumsi sesuatu, misalnya listrik dan air. Kerena dua unsur tadi merupakan sumber daya alam yang terbatas dan berharga.

Misalnya yang paling sederhana, nih, dan bikin saya gemas banget. Kalau cuci tangan, dimatikan dulu air kerannya, sampai nanti waktunya membilas untuk menghilangkan sabun. Begitu juga pas lagi sikat gigi di wastafel. Sayang kan, airnya terbuang percuma. Contoh lain kegiatan berwudhu, sebetulnya tidak perlu menghabiskan air terlalu banyak. Satu gayung sebetulnya sudah cukup, kalau mau menggunakan air mengalir dari keran, usahakan membuka alirannya sedikit saja, gunakan dengan efisien.

Dibutuhkan kesadaran per individu untuk menjaga sumber daya alam Indonesia yang melimpah ini. Kita kaya akan air, batu bara dan lain-lain. Jangan berpikir semua itu tidak akan bisa habis, suatu saat bisa habis.

Punya nggak buku atau film favorit, yang mengubah cara pandang kamu akan hidup atau sesuatu?

Ada! Buku, “Why Nation Fail,” ditulis oleh Daron Acemoglu dan James Robinson. Memang tidak ada hubungannya dengan lingkungan, buku ini tentang kenapa sebuah demokrasi di sebuah negara gagal. Buku ini lumayan membuat cara pikir saya berbeda. Bahwa tidak mudah mewujudkan suatu kebijakan di sebuah negara. Tidak semudah yang saya pikirkan.

Seribet itu, lho mengurus negara. Ya nggak apa-apa memberikan kritik pemerintah, karena mereka juga butuh itu. Tapi kalau sudah terjun langsung di pemerintahan, tidak semudah itu praktik melakukan sebuah kebijakan.

Pesan dari orangtua yang berkesan banget, dan jadi moto hidup?

Saya sama orangtua diajarkan untuk terus belajar, supaya terus mencari tahu. Tidak harus di sekolah, bisa belajar dari orang-orang sekitar saya, jadinya sekarang saya selalu haus ilmu. Ketemu sama komunitas-komunitas yang bergerak di bidang tertentu. Misalnya saya lihat ada orang yang pandai berkebun, itu bisa lho saya bikin janji sama orang itu, dan minta dia mengajarkan saya berkebun.

Jangan menyepelekan berkebun, karena lebih dari menyumbangkan oksigen, lho. Jadi gini, misalnya kita berkebun menanam sesuatu yang hasilnya bisa dikonsumsi, artinya kita sedang mengurangi emisi karbon dari barang-barang yang bisa diambil langsung di rumah. Sedangkan kalau kita pergi ke pasar atau supermarket, kan kita pakai kendaraan bermotor tuh, yang menghasilkan emisi karbon tadi.

-

Semoga obrolan saya dengan Tyas bisa memberikan pencerahan soal gaya hidup minim sampah dan turut serta menyelamatkan bumi dari kehabisan sumber daya alam. Misalnya yang paling sederhana soal bijak menggunakan air ketika cuci tangan dan gosok gigi, mencontohkannya di rumah di depan anak-anak. Lama-lama mereka juga akan menjadikan hal tersebut sebagai kebiasaan baik, hingga dewasa.

Terima kasih Tyas, semangat terus, ya! Kami dukung dari rumah masing-masing :)

 Baca juga: Cara Gampang Mengolah Sampah Rumah Tangga


Post Comment