Ketika Anak Langgar Kesepakatan Bersama

Ada rasa kesal karena merasa dikhianati ketika anak langgar kesepakatan bersama, tapi apa serta merta kita berhak marah tak terkendali sama anak? Gimana cara mengatasi situasi ini?

Anak langgar kesepakatan bersama - Mommies Daily

Beberapa waktu lalu, saya terpaksa menitip Jordy ke rumah orangtua. Singkat cerita, saya dapat laporan yang bikin naik darah, hahaha – Jordy makan mie instan dalam cup! Situasinya waktu itu, anak saya sedang ikut kakeknya ke bandara, menjemput kakak saya. Mereka menunggu pesawat yang kakak saya tumpangi mendarat, sambil makan di sebuah restoran. Saat itu, Jordy melihat ada orang yang makan mie instan. Merasa dia bersama dengan kakeknya yang akan mengabulkan apapun yang diminta, and tadaaaa, hadirlah mie yang dia dambakan di hadapannya.

Sesaat setelah mendapatkan laporan ini, saya berusaha diam dulu. Nggak dipungkiri sih, marah banget, ya. Karena kami sudah sering membicarakan kesepakatan ini. Jordy boleh makan mie instan, tapi nanti SD (kelas berapanya belum diputuskan, hahaha.)

Pertama, saya dekati dulu Jordy, tanya gimana seharian bersama kakeknya. Di bandara ngapain aja, apa yang Jordy lihat dan paling disenangi hari itu. Habis itu baru deh, saya tanya soal mie instan tadi. Dia mengangguk lemas. Wajahnya kentara takut kena “semprot” sama saya. Nah, pas sudah begini, saya langsung kasih pernyataan. “Bunda marah dan sedih, lho, kamu makan mie instan. Kan kita sudah sepakat, Jordy belum boleh.” Alasannya juga saya kasih tahu. Intinya kalau terlalu awal dan sering bisa bikin sakit.

Pas menyatakan alasannya, bisa menggunakan teknik komunikasi reflektif. “Duluuu, waktu bunda seumuran kamu, bunda juga belum boleh lho makan mie instan, soalnya bla bla bla…” Fiktif nggak masalah, yang penting anak punya gambaran di otaknya, kenapa dia dilarang.

Kedua, posisi kita pas bicara dengan anak harus sejajar alias eye level. Kontak mata soalnya ngaruh banget, sih, di saya bikin anak mengerti apa yang kita bicarakan. Selain itu, berikan sentuhan fisik yang membuat tenang, walau konteksnya sedang membicarakan disiplin diri.

Ketiga, kalau sudah dilarang lalu bolehnya makan apa? Kasih alternatif makanan yang bisa dimakan kalau ada atau nggak ada bundanya. FYI, saya sama sekali nggak anti MSG, Jordy masih boleh kok makan junk food, tapi memang frekuensinya saya batasi. Mommies bisa sebut, mie ayam, nasi goreng, cap cay, soto ayam, dan masakan rumah lainnya yang juga bisa ditemukan di restoran.

Keempat, harus terus dingatkan. Apa-apa saja yang jadi kesepakatan bersama. Setiap mau pergi ingatkan lagi ke anak. Berlaku juga untuk support system di rumah. Pasangan, orangtua , asisten rumah tangga dan sebagainya. Ini terjadi ketika Jordy lagi pergi berdua saja dengan ayahnya. Saya akan kirim pesan lewat What’s App ke suami, mengingatkan kembali mengenai term condition soal asupan makan dan minum Jordy.

-

Demi kebaikan tumbuh kembang disiplin diri si kecil, wajar kan kalau semuanya harus kompak soal kesepakatan tertentu, yang sudah ditegakkan sebelumnya?


Post Comment