Tips Mudah Penuhi Kebutuhan Energi Anak Juara

Kebutuhan energi anak selama satu hari bisa sebesar kebutuhan energi untuk berlari setengah marathon. Ini cara mudah memenuhinya.

Selama cuti 3 hari ini, saya selalu mendapati Dhia (11) pulang sekolah dengan keringat mengucur dan badan bau matahari. Memang, sih, cuaca akhir-akhir ini sedang panas-panasnya. Tapi apa iya hanya itu penyebabnya? Terbayang, Dhia di sekolah pasti main sampai heboh, sehingga saat pulang membawa oleh-oleh berupa bau matahari! Hahahaha.

Saat kami sarapan bersama, saya pun mengajak Dhia ngobrol dan bertanya, apa saja, sih, yang dia lakukan di sekolah? Jawabannya sungguh panjang, diceritakan dengan mata berbinar seakan sedang pamer betapa dia sangat bahagia bermain dan belajar di sekolah. Tanggapan saya? Hati serasa membludak saking senangnya dan diam-diam bersyukur tidak salah memilihkan sekolah untuknya. Jadi, nggak kenapa-kenapa deh pulang sekolah dioleh-olehin bau matahari. :)

Kalau dipikir-pikir, kegiatan anak kelas 5 SD memang banyak. Awalnya saya tak yakin Dhia bisa melewati semua itu. Tapi, dari matanya yang berbinar saat cerita pagi itu, saya yakin Dhia baik-baik saja. Jadi, di sekolahnya saja, Dhia sudah menghabiskan waktu sekitar 7-8 jam. Ini belum termasuk bila ada ekstrakulikuler. Sampai rumah, ganti baju dan istirahat sebentar, kemudian dia sudah bersiap kembali untuk mengaji di komplek rumah. Tentu dengan bumbu bermain, yang lagi-lagi berupa lari-larian atau bermain sepeda.

Saat jam istirahat sekolah, jangan harap anaknya benar-benar istirahat seperti duduk-duduk manis sambil makan camilan. “Tadi aku main galasin pas istirahat. Ibu tahu galasin, kan? Itu seru sekali, bu! Aku hampir saja kalah,” cerita Dhia suatu hari yang membuat saya agak melongo. Bahkan di jam istirahatnya, dia pun sibuk (berlarian)! Belum lagi bila ada pelajaran olahraga.

Ah, kalau sudah begini, satu hal yang terpikir. “Saya harus memastikan asupan makan Dhia cukup.” Sebab saya tahu, makanan adalah satu-satunya sumber energi untuknya. Dhia jelas membutuhkan energi yang banyak untuk menunjang aktivitasnya di sekolah.

Untuk anak seusia Dhia, rata-rata anak membutuhkan asupan makan sebesar 2.000 – 2.100 kilo kalori dalam sehari. Kalau dibagi menjadi 3 kali makan, berarti anak harus mengonsumsi makanan dengan kandungan kalori sebesar 700 kilo kalori. Karena Dhia melewati jam makan siang selama berada di sekolah, maka saya harus memastikan ia benar-benar makan dengan kandungan kalori sebesar itu.

Bila ‘diterjemahkan’ dalam satu hidangan makanan, makanan dengan kandungan 700 kilo kalori ini dapat dipenuhi dengan mengonsumsi nasi 1 porsi, lauk hewani 2 porsi, lauk nabati 1 porsi, sayur 1 porsi, buah 1 porsi, ditambah susu tinggi lemak 1 gelas. Terbayang, ya, makan segitu banyaknya! Sudah pasti wajah kecil Dhia akan manyun dan memilih untuk tidak jadi makan.

Untuk menghindari itu, saya mengakali dengan membagi lagi jam makan Dhia menjadi 5-6 kali sehari. Yaitu 3 kali makan utama dan 2-3 kali makan selingan. Dengan pembagian ini, Dhia menjadi lebih mudah menghabiskan makanannya. Lagi pula, di antara jam makan atau saat jam istirahat, dia pasti lapar dan ingin ngemil. Naahhh, saat inilah saat yang tepat untuk dimanfaatkan dengan menyediakan makanan camilan yang  nutrisi dan energinya seimbang dan tentunya sehat.

Bekal camilan ini selalu saya siapkan dari rumah. Karena saya orang yang praktis, bekal camilan Dhia juga praktis. Tapi bukan berarti tidak padat energi dan sehat. Seperti hari ini, saya menyiapkan bekal camilan berupa roti tawar isi selai kacang, buah semangka potong, dan satu gelas MILO.

Kenapa MILO? Sebab MILO Tonic kemasan sachet baru yang beratnya 22 gram memberikan tambahan kalori yang cukup banyak bagi Dhia. Selain itu, rasa MILO-nya juga lebih nendang, Dhia menyukainya. Tak hanya itu, MILO baru ini kandungan gulanya lebih rendah, yaitu 25 persen lebih rendah dan lebih banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan anak aktif. Yang lebih menyenangkan lagi, Dhia semakin semangat minum MILO karena rasa MILO-nya lebih nendang.


Post Comment