Membayar Anak untuk Melakukan Pekerjaan Rumah, Boleh Nggak Sih?

Ya boleh aja sih kalau mommies mau ahahaha. Tapi kalau saya sih termasuk ibu yang tidak membayar anak untuk melakukan pekerjaan rumah.

Uang dan anak adalah dua hal yang menurut saya rumit banget. Saya sangat hati-hati mengenalkan uang pada anak dan tidak mau segala-gala dikaitkan pada uang.

Contoh: Meminta anak puasa dengan janji bayaran sekian uang per hari. Mmm, logikanya kalau anak belum mau berpuasa maka ia memang belum mengerti esensinya. PR kita untuk menjelaskan pada dia bukan mengimingi-iminginya dengan uang di balik alasan “yang penting latihan puasa”.

chores

Begitu pula dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Alasannya berbagai rupa. Ada yang untuk menyemangati anak membantu pekerjaan rumah dan ada pula yang untuk mengajari anak mencari uang.

Buat saya, rumah kan ditempati bersama, maka pekerjaan rumah pun dikerjakan bersama. Bukan untuk dikonversikan jadi uang. Uang hanya akan membuat anak bekerja demi uang, hal terburuk yang mungkin terjadi adalah ketika uangnya tidak ada atau menurutnya tidak worth it, maka ia berhenti mengerjakan pekerjaan rumah.

Iya, pasti ada titik di mana ia akan “aku nggak butuh uangnya jadi aku nggak mau cuci piring lagi” atau “ah aku nggak apa-apa kok nggak punya uang, asal aku nggak perlu bantu kerjaan rumah”.

Kalau begitu harus gimana? Pilihannya dua, naikkan “gaji”-nya atau ya sudah biarkan anak berhenti mengerjakan pekerjaan rumah.

Padahal pekerjaan rumah salah satu skill bertahan hidup lho! Sampai sekarang saya dan suami belum pernah punya asisten rumah tangga sendiri karena ya kami berdua terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah.

Hal ini juga akan jadi kebiasaan. Nantinya akan blur apa hal-hal yang harus dibayar padahal sebetulnya merupakan bantuan sederhana. Seperti hanya minta tolong jalan ke warung saja harus diberi uang dulu. :))))

Apa bisa anak membantu pekerjaan rumah tanpa dibayar? Bisalah, saya dan suami seumur hidup tidak pernah dibayar untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk mommies yang anaknya balita, diajarkannya bisa dari konsep tanggungjawab dulu.

Menumpahkan sesuatu lap sendiri, piring bekas makan simpan ke tempat cucian sendiri, baju yang sudah dipakai simpan ke tempat cuci baju sendiri. Semakin dia besar, dia sadar lho kalau dia harus mengerjakan juga pekerjaan rumah karena dia melihat ayah ibunya juga bergantian melakukan pekerjaan rumah.

Lalu kalau begitu bagaimana mengajarkan anak kalau cari uang itu susah?

Ya tergantung usia anaknya sih. Kalau masih umur 5 tahun, dia harus sudah mengerti konsep uang bukan keluar dari ATM begitu saja. Anak saya sudah mengerti sejak umur 4 tahun bahwa uang diberi oleh kantor ayah dan ibunya karena ayah dan ibu bekerja. Uangnya dimasukkan ke bank dan keluar lewat ATM.

Di usia SD anak seharusnya sudah bisa menghitung uang dan membelanjakan uang saku yang tentu terbatas. Kalau ia ingin sesuatu di luar kebutuhan sekolah maka ia harus menabung uang saku, menunggu ulang tahun, atau menunggu angpao hari raya.

Saat SMP, anak harus sudah bisa mengatur uang jajannya secara mingguan dan saat SMA ia harus sudah bisa membuat budget bulanan dan mengatur uang bulanannya sendiri. Itu cara anak untuk menghargai uang dan secara tidak langsung ia tahu uang itu terbatas sehingga harus diatur.

Memang jadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaaan rumah karena itu tadi, kenapa mengerjakan tugas bersama kok jadi harus dibayar?

Kalau mommies bagaimana, membayar anak untuk melakukan pekerjaan rumah nggak sih?


Post Comment