Anak 20 Bulan Hanya Berbobot 5 Kg, Diduga Karena Diet Vegan

Meski sudah berusia 20 bulan, tapi perkembangan anak ini setera dengan anak berusia tiga bulan. Penyebab utamanya diduga karena si orangtua memberlakukan diet vegan terhadap si kecil.

Kasus pilu ini terjadi di Sydney, namun pengadilan Downing Centre merahasiakan nama orangtua dan anak, dengan alasan kode etik pengadilan. Si anak sudah diambil alih perawatannya oleh negara. Saat ditemukan, anak ini mempunyai berat badan hanya 4,89 kg, padahal usianya sudah 20 bulan. Bahkan belum tumbuh gigi.

Anak 20 Bulan Hanya Berbobot 5 Kg - Mommies DailyImage ilustrasi by Irina Murza on Unsplash

Perawat yang merawat si anak malang ini, mengatakan kondisinya sangat menakutkan. Sangat terbelakang dari anak-anak seumurannya. Tidak bisa berguling. Demi pemulihan, dirinya harus menjalani serangkain tes darah berulang kali. Dilansir dari news.com.au, polisi yang menyelidiki kasus ini, orangtua si kecil memberikan makan dengan pola diet ketat. Sehingga sangat kekurangan nutrisi untuk tumbuh kembangnya.

Ini adalah kali kedua orangtua si anak menghadapi pengadilan. Yang pertama pada Mei 2018 silam. Dua bulan setelah anak mereka kejang di rumah. Mereka mengaku bersalah, karena tidak meyanggupi menyediakan kebutuhan anaknya. Setelah itu, si kecil menghabiskan waktu satu bulan di rumah sakit. Dokter dan para perawat bekerja esktra, untuk memberikan makanan yang dia butuhkan.

Kini semenjak, perawatan si gadis kecil diambil alih oleh negara. Dalam kurun waktu 6 bulan, gadis kecil itu sudah bertambah bobotnya menjadi 6 kg. mampu merangkak dan berdidiri sendiri. Bukan angka yang fantastis, sih, ya. Mungkin tidak bisa dilakukan terburu-buru. Tapi mengingat yang awalnya, tidak bisa berguling, peningkatan semacam ini, sudah sangat luar biasa (IHMO.)

Asupan apa saja yang diberikan si ibu?

Catatan pengadilan menunjukkan, bahwa ibu balita memberi tahu dokter bahwa putrinya biasanya makan satu cangkir gandum dengan susu, dan setengah pisang di pagi hari. Dan hanya sepotong roti panggang dengan selai kacang untuk makan siang.

Sementara untuk menu makan malam, putrinya diberikan tahu, nasi atau kentang. Makanan semacam ini, mengakibatkan defisiensi nutrisi yang parah pada bayi, termasuk kekurangan kalsium, fosfat, vitamin B12, vitamin A, zat besi dan seng. Kadar vitamin D-nya – yang dapat menyebabkan penyakit tulang, jika ternyata terlalu rendah. Keadaan ini berpotensi menyebabkan anak mengalami Rakhiti, yaitu penyakit tulang yang dapat dicegah yang menyerang bayi dan anak kecil dan menyebabkan tulang lunak dan lemah. Anak-anak biasanya didiagnosis dengan rakhitis karena kekurangan vitamin D, kalsium atau fosfor.  

Profil si ibu

Pengacara ibu si anak mengatakan, dari laporan medis menyatakan, bahwa kliennya mengalami depresi. Dia meninggalkan rumah sakit hanya tidak jam setelah anaknya lahir. Tidak mengurus daftar kelahiran, atau meminta bayi diimunisasi.

Kliennya mempunyai masalah pernikahan, ia menduga pasangannya selingkuah dengan seorang rekan kerja suaminya di kantor. Akhirnya dia melabeli dirinya sendiri: “apakah saya seorang ibu yang tidak berguna?.”

Soal depresi yang dialami kliennya ini, disangkal oleh Psikolog Dr. Yvonne Skinner, ia mengatakan kepada pengadilan, tidak ada bukti berdasarkan catatan medis dan wawancara dengan ibu si bayi, bahwa terdakwa menderita depresi selama 19 bulan terakhir.

Hal ini terlihat dari ikatan antara anak dan ibu. Si ibu menikmati waktu kebersamaan mereka. Memeluk, dan menyusui misalnya.

Tak hanya si gadis kecil yang harus berjuang mengejar ketertinggalan tumbu kembangnya. Dua kakak laki-lakinya, yang berusia enam tahun dan empat, juga sedang dalam perawatan pemerintah, karena penyebab yang sama: diet vegan.

-

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari kasus ini? Hanya dokter subspesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak, yang berhak menerapkan diet tertentu pada anak. Misalnya ada alergi tertentu, dan kasus-kasus lainnya. Tidak sembarangan kita sebagai orangtua yang menerapkan satu metode diet pada anak, ya, mommies.


Post Comment