10 Kalimat yang Seringkali Dipendam Para Ibu Hingga Menangis

Ditulis oleh: Rachel Kaloh

Sebenarnya ingin sekali mengeluarkan unek-unek ini, tapi apa daya, outputnya seringkali malah nangis dan mengeluh.

Mungkin kita sebagai ibu setuju kalau suami seringkali kita ajak menebak-nebak keinginan kita. Padahal, apa susahnya ya untuk ngomong langsung? Kadang emosi dan rasa lelah akibat seharian berkutat dengan urusan si kecil dan pekerjaan rumah tangga lainnya hanya memampukan kita untuk menangis.

Pada akhirnya, suami mesti menguras pikiran untuk mencari tahu, sebenarnya apa sih yang membuat kita mengeluh, marah-marah, bahkan tiba-tiba… menangis! Padahal kalau kata-kata ini terucap, bisa jadi suami juga mau membantu. Bisa jadi ia hanya menyebalkan karena tidak tahu kalau hal-hal ini membuat kita ingin menangis saking sebalnya.

Saat Hidup Menjadi Ibu Terasa Berat… - Mommies Daily

“Aku lelah… banget!”

Begadang saat si kecil panas, sementara besok harus bangun paling pagi di antara semua orang demi kelancaran hari yang akan datang. Kalau mengeluh, rasanya dosa banget. Maka, menangislah kita. Padahal tangisan itu hanyalah ketidakmampuan kami mengutarakan kalimat ini.

“Ini anakmu juga!”

Anak nangis… “Mah!” Anak lapar… “Mah!”. Padahal, nggak selamanya kita bisa membuat keadaan lebih baik. Ada kalanya, si kecil akan lebih nyaman dan lebih cepat berhenti menangis saat dipeluk dan ditenangkan oleh ayahnya. Dan lagi, orangtuanya kan bukan hanya kita.

“Kamu nggak bisa urus diri sendiri, sebentar saja?”

Khususnya di pagi hari, saat semua sedang bersiap-siap: anak mau ke sekolah, suami mau ke kantor, bahkan kita juga perlu menyiapkan diri sebelum berangkat kerja. Sementara, kita juga mesti siapin sarapan, bekal, dan memastikan si kecil aman di rumah (beserta siapapun yang akan menjaganya). Tiba-tiba mesti dengar kalimat, “Cariin kaos kakiku, dong, Ma!”,”Dompet aku di mana, ya?”, “HP-ku ditaruh di mana, ya?” Padahal, dia sendiri yang lupa.

“Aku butuh waktu sejenak, sendirian tanpa mendengar tangisan si kecil”

Ada kalanya si kecil nggak berhenti menangis seharian dan nggak mau ditinggal. Boro-boro bisa mandi dan makan. Kalau sudah begini, rasanya tuh kepingin serah terima anak, lalu kabur sebentar, begitu suami pulang dari kantor. Note, this, Fathers: Bukan artinya kita mau lepas tanggung jawab, ya!

“Aku butuh piknik (hiburan)!”

Seharian mengurus anak-anak di rumah, si kakak iseng terus sama adiknya, si adik nangis terus diisengin si kakak. Kepingin teriak, tapi suara sudah keburu habis. Sesekali dalam seminggu, kita akan bahagia lho, kalau dikasih waktu buat jalan-jalan, apalagi dikasih tambahan uang jajan.

“Aku pingin selesaikan pekerjaan dengan konsentrasi”

Ibu-ibu yang kerjanya di rumah seringkali nggak dapat waktu buat ‘colongan’ kerja, akibat si kecil yang kebetulan lagi rewel. Alhasil, jam kerja kita dimulai saat jam tidur malam si kecil tiba. Begitu suami kedapatan pulang malam saat si kecil sudah tidur, jangan heran kalau kita sambut dengan muka kenceng, hanya karena kebiasaan suami nyiumin si kecil sampai dia kebangun. Grrrr….

“Aku ingin jadi ibu yang baik”

Percayalah, ini adalah keinginan semua ibu. Sementara, tantangan yang harus kita hadapi sehari-hari lebih sering membuat kita merasa jauh dari menjadi ibu yang baik. Situasi yang sering banget terjadi adalah seperti ini: Ibu sudah seharian jagain si kecil di rumah, tahu-tahu si kecil jatuh atau terbentur, yang disalahin siapa lagi, kalau bukan ibunya? Padahal, siapa, sih, yang kepingin anaknya kenapa-kenapa?

“Aku juga ingin selalu jadi istri yang terbaik”

Selain ibu yang baik, tentu semua ibu ingin menjadi istri yang baik juga. Namun, kita kan juga manusia, yang seringkali merasa lelah. Nggak sempat masak makan malam atau sering ketiduran saat suami pulang malam juga cukup membuat kita merasa bersalah, beneran, deh! Jadi, harap maklum dengan keadaan ini.

“Aku sadar aku menyebalkan…”

Bukan lantas seorang ibu selalu harus dimaklumi. Kita sadar betul, kok, kalau kita sering menjadi orang yang sangat menyebalkan, tapi malah nyalahin suami. Andai suami juga tahu, meski kita tidak mengungkapkan kalimat ini, tapi kita sering memikirkannya di dalam hati.

“Kamu saja yang ngomong!”

Kalimat ini biasanya terlintas di kepala saat kita sudah terlalu lelah, bahkan untuk berdebat dengan orang lain yang mengkritisi cara kita mengasuh anak. Orangtua, mertua, bahkan orang yang tidak dikenal seringkali mengeluarkan pendapat yang nggak perlu. Kita berharap suami bisa menjadi tameng buat meladeni omongan-omongan tersebut, supaya nggak berlanjut dan hanya membuat kita jadi down.


Post Comment