10 Tanda Kekurangan Zat Gizi pada Anak

Ditulis oleh: Lariza Putri

Pernah terpikir, nggak, kalau anak kita mengalami kekurangan gizi? Tanda-tandanya bikin kita tidak mengira bahwa anak kita sedang kekurang gizi!

10 Tanda Kekurangan Zat Gizi pada Anak - Mommies DailyImage: by kazuend on Unsplash

Waktu Dhia dan Gia lahir dengan berat badan normal, saya sama sekali tidak terpikir tentang keadaan anak yang bisa mengalami kurang gizi. Apalagi proses menyusui dan MPASI saya bisa dibilang minim drama. Rasanya pun dunia makan anak saya baik-baik saja. Kelihatannya. Hingga saat Dhia masuk SD, saya baru perhatikan bahwa tubuhnya terbilang lebih mungil bila dibandingkan teman-temannya. Ya, saya tahu, mengukur pertumbuhan anak memang tidak boleh dilakukan dengan membandingkan tubuhnya dengan temannya. Meskipun informasi itu sudah nglotok, tapi tetap saja, kaaaannn, jadi agak cemas gitu, takut Dhia kurang gizi.

Selain itu pula, kalau ngomongin tentang ukuran tubuh, banyak orang yang mengaitkan hal tersebut dengan genetik dari ayah dan ibunya. Benar, sih, genetik bisa berperan terhadap ukuran tubuh anak. Tapi, itu hanya sedikit. Faktor lain yang jelas memberi pengaruh terhadap pertumbuhan anak adalah asupan makan, dalam hal ini asupan zat gizi. Kekurangan zat gizi biasanya tidak disadari orangtua. Sebab, tanda-tandanya yang biasanya tersembunyi. Tidak seperti penyakit menular seperti cacar air yang akan mengeluarkan bintik merah di seluruh tubuh saat anak terkena cacar.

Sehingga, ada baiknya kita tahu tentang tanda defisiensi atau kekurangan zat gizi pada anak. Ini 10 tanda defisiensi zat gizi pada anak:

1. Depresi atau rasa cemas berlebih

Depresi atau rasa cemas berlebihan dimulai dari otak. Dan ternyata hal ini dapat disebabkan oleh kekurangan salah satu zat gizi, seperti protein. Protein mengandung asam amino yang dibutuhkan otak untuk mendukung fungsi neurotransmitter. Nah, saat keseimbangan neurotransmitter terjadi, maka kita akan merasa bahagia dan tenang. Konsumsi makanan cukup protein, baik protein hewani maupun nabati adalah kunci untuk untuk memperbaiki ketidakseimbangan tersebut.

2. Hiperaktif

Hiperaktif berkaitan dengan kemampuan otak dalam memproses informasi dan tetap tenang pada saat yang sama. Namun, pada anak-anak yang hiperaktif proses ini cenderung tidak berhasil. Menurut beberapa ahli hal ini akibat ‘terhambatnya’ informasi akibat si anak memiliki flora dan pencernaan bakteri yang buruk. Kok, bisa? Sebab, pencernaan yang buruk mempersulit tubuh untuk menyerap berbagai zat gizi., termasuk zat gizi yang dibutuhkan untuk memproses informasi tadi. Untuk mencegah hal ini, beberapa dokter bahkan sudah merekomendasikan untuk mengeliminasi beberapa jenis makanan , seperti makanan olahan, makanan dengan tambahan pemanis, dan makanan dengan tambahan pewarna.

3. Keterlambatan perkembangan bahasa atau bicara

Anak yang mengalami keterlambatan pada perkembangan bahasa atau bicara dapat dikaitkan dengan defisiensi vitamin B12. Namun demikian, menambahkan langsung vitamin B12 tidaklah direkomendasikan. Untuk mencegahnya, ada baiknya anak mendapatkan asupan makan yang mengandung vitamin B12 seperti daging, ayam, ikan, kerang, susu dan telur.

4. Kulit dan rambut kering

Kulit dan rambut kering juga berkaitan dengan kekurangan vitamin, terutama vitamin larut lemak, yaitu vitamin A, D, E dan K. Vitamin ini bisa didapatkan dari buah-buahan dan sayuran, serta minyak hati ikan yang biasanya diberikan dalam bentuk suplementasi.

5. Pertumbuhan gigi

Hubungan pertumbuhan gigi anak dengan defisiensi zat gizi tertulis dalam sebuah buku berjudul Nutrisi dan Degenerasi Fisik, oleh DR. Weston A. Prince. Di dalamnya disebutkan bahwa anak yang mengonsumsi makanan modern seperti makanan olahan dan ibunya yang makan dengan asupan gizi yang buruk saat hamil cenderung memiliki anak yang memiliki struktur dan jarak gigi yang buruk. Sementara itu, anak yang diberi makanan dengan gizi seimbang akan memiliki gigi dengan rapi, bahkan disebutkan bahwa jarak gigi tersebut memiliki cukup ruang untuk gigi bungsu.

6. Gigi berlubang

Permen menjadi salah satu makanan yang sering disalahkan bila mendapati gigi anak berlubang. Padahal gigi anak berlubang juga berkaitan dengan kekurangan mineral tertentu, seperti kalsium. Selain itu, ia juga mengalami kekurangan asupan vitamin larut lemak yang dibutuhkan untuk menyerap mineral tadi.

7. Sering mengalami flu

Sejak masuk kelas 1 SD, Dhia cenderung sering mengalami flu. Kemudian, saya mengubah pola makannya, dengan memperbanyak protein dan sayur dalam piringnya. Saya juga lebih perhatian terhadap kebersihan sekitar rumah. Pada dasarnya, anak seusia Dhia harusnya sudah memiliki kekebalan tubuh yang cukup baik. Sehingga, bila hidupnya sehat dan makanannya sehat, tubuhnya harusnya dapat menangkal virus flu yang bertebaran. Jadi, alih-alih saya bolak balik ke dokter dan meminta obat, saya berfokus pada perbaikan pola makan dan menjaga kebersihan rumah.

8. Sering cranky

Jangan dikira anak cranky hanya karena keinginannya tak terpenuhi. Ternyata anak yang sering cranky juga berhubungan dengan kurangnya beberapa zat gizi. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa lemak, terutama asam lemak omega 3, sangat penting untuk stabilisasi suasana hati. Selain itu, lemak yang didapat dari mentega dan minyak kelapa juga membantu menjaga omega 3 di dalam otak. Tentunya dalam jumlah yang tepat.

9. Struktur langit-langit lidah dan tulang tengkorak

Sebuah penelitian oleh Dr. Weston A. Price yang membuat buku Nutrisi dan Degenerasi Fisik, menemukan bahwa perkembangan langit-langit mulut dan perkembangan tulang tengkorak sangat meningkat ketika ibu mengonsumsi makanan tinggi lemak baik, protein dan biji-bijian saat hamil.

10. Obesitas

Mungkin mommies tidak terpikir bahwa obesitas berhubungan dengan kekurangan zat gizi. Namun, kenyataannya hal tersebut memang terjadi pada anak yang alami obesitas. Akibat anak tidak mengonsumsi makanan padat gizi, maka tubuh merasa lapar terus menerus. Sehingga anak pun cenderung makan makanan apa saja yang ia sukai demi memenuhi rasa lapar tersebut, termasuk makanan yang rendah gizi. Bila kondisi ini dibiarkan terus menerus, maka anak akan kelebihan asupan lemak dan kekurangan zat gizi lain yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya.

 


Post Comment