Mengajarkan Anak Menghadapi Peer Pressure Lewat Euforia Avengers: Endgame

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Di kelas anak saya, mungkin hanya dia satu-satunya anak yang belum nonton Avengers: Endgame. Tapi tak apa-apa. :)

Demam Avengers: Endgame memang sedang gila-gilaan. Sejak minggu lalu, ketika tiketnya pertama kali dibuka, tayang di bioskop nonstop 24 jam dan semua tiketnya ludes. Dinding linimasa dan media sosial saya juga dipenuhi oleh euforia Avengers. Foto tiket, nobar, sampai yang berskala spoiler berat.

Semua berseliweran. Mengabaikan Avengers adalah hal yang mudah buat saya, yang memang bukan fandom. Buat suami, walaupun fans, masih belum terasa efeknya karena ada kesibukan pekerjaan yang membuat perhatiannya teralih. Akan tetapi, saya sadari, pasti berat untuk anak saya Pi (12). Ia mengikuti hampir semua film-film superhero Marvel.

Euforia Avengers ini menurut pengamatan saya adalah apa yang disebut sebagai efek bandwagon. Sebuah upaya marketing untuk mendorong kita agar ‘bergabung dengan jutaan orang lain’. Tidak ketinggalan tren, hit, atau apa pun yang sedang kekinian. Orang cenderung akan mengikuti keramaian, melakukan apa yang dilakukan oleh banyak orang lain.

endgame-2
Saya tidak bermaksud untuk sengaja melarang anak menonton film yang pasti akan disukainya itu. Saya hanya sedang mendidik anak, untuk tidak mudah terpengaruh, mengikuti sesuatu hanya karena sedang tren, atau karena teman-temannya melakukannya.

Ini bukan kali pertama Pi tidak menjadi penonton ‘gelombang awal’. Setiap kali ada film baru yang heboh, -semacam film Blockbuster, film-film Marvel lainnya atau Star Wars- kami bisa saja menjadi penonton terakhir, di detik-detik terakhir sebelum film itu turun dari bioskop. Dan kalaupun terlewat, kami tetap baik-baik saja menonton film itu satu atau dua tahun kemudian di layar televisi, DVD, atau Netfilx.

Bahkan sering terjadi, ketika orang lain sudah lupa dengan filmnya, anak saya baru heboh sendiri karena habis nonton :p

Kalau beberapa tahun sebelumnya, concern saya adalah pada rating. Apakah rating film tersebut sudah sesuai dengan umur anak? Apakah adegan di film tersebut layak tonton untuk anak? Bagaimana mungkin saya membolehkan anak saya yang berusia di bawah 10 tahun menonton film dengan rating 13 tahun ke atas?

Dengan pertimbangan tersebut, menonton di televisi atau Netflix menjadi pilihan saya. Saya bisa dengan leluasa ‘menyensor’ adegan film yang belum sesuai untuk umurnya, dengan memencet remote mute atau fast forward button. Hal yang tidak bisa saya lakukan di bioskop.

Sekarang, ketika usia anak menginjak remaja, concern saya adalah pada efek bandwagon. Dalam kehidupan sehari-hari, akan selalu ada bandwagon, baik itu propaganda, iklan, atau teknik marketing yang disengaja, ataupun fenomena sosial yang muncul dengan sendirinya. Hanya karena semua orang melakukannya, bukan alasan kuat untuk kita ikuti.

Ada banyak contohnya dalam kehidupan anak. Semisal, semua temannya mengikuti satu grup whatsapp, memiliki akun Instagram dan ada grup Instagram, main game A, suka K-Pop, pakai iPhone, baju merek Supreme, sepatu converse, dan sebagainya. Capek kalau semua diikutin, kan?

Bandwagon berhubungan dengan peer pressure. Jangankan anak remaja, kita saja orang dewasa seringkali tanpa sadar terhanyut dalam bandwagon. Bukan hanya dalam hal tren, tapi bisa saja untuk sesuatu yang kita tahu itu salah, tetapi tetap saja kita lakukan. Akal sehat bisa dengan mudah dikalahkan oleh bandwagon.

Saya percaya, anak-anak harus dilatih, belajar memilih ide-ide mana yang mesti mereka terima atau tolak. Kalaupun diterima, ia harus punya sandaran logisnya sendiri.


Post Comment