Surat untuk Anak Laki-lakiku: Tak Perlu Malu Menjadi Anak Mama

Dear anak laki-lakiku sayang,

Di umurmu yang belum genap 5 tahun ini kamu sudah mulai mengelap ciuman mama saat kamu sedang senang. Padahal sudah bertahun-tahun kamu berjanji akan terus memeluk dan mencium mama sampai berpuluh tahun ke depan. Iya, mama memang memaksamu berjanji.

Bukan tanpa alasan. Mama tidak mau kamu menjadi laki-laki sok kuat yang malu memeluk dan mencium orangtuanya. Menjadi laki-laki yang menganggap peluk cium adalah hal yang lembek. Padahal tidak seperti itu, sama sekali.

“Anak mama ini ya,” sering terdengar dari orang-orang saat kamu terus menerus hanya mau bersama mama. “Anak mama” sebuah panggilan yang entah kenapa berkonotasi negatif, seolah manja. Sementara “anak papa” selalu berkonotasi positif dan maskulin, seolah anak kuat dan selalu jadi juara.

Surat untuk Anak Laki-lakiku: Tak Perlu Malu Menjadi Anak Mama

Kata orang, anak akan lebih manja ketika mamanya ada di sekitar dia. Tak salah karena mama memang area nyaman kan bagi kita sekeluarga?

Tetap cuma mama yang kamu cari saat kamu terjatuh dan terluka. Tetap cuma mama yang kamu percaya untuk mengoleskan obat di antara isak tangismu. Tangis yang bagi mama bukan hal langka. :)

Karena isakan itu hanya kau tunjukkan pada mama seorang. Ya, kamu pernah jatuh di rumah kakek, lututmu bercucuran darah tapi yang kamu lakukan adalah menggertakkan gigi, meringis menahan tangis..

Maaf mama waktu itu tak di sana, sayang, karena pekerjaan yang sulit sekali selesai siang. Tapi mama diam-diam senang ketika mama pulang, kamu langsung memeluk mama dan menangis lama sekali. Tangis yang kamu tahan sejak tadi karena ingin terlihat kuat di depan semua orang.

Semua orang kecuali mama.

Teringat satu malam ketika kamu hampir ketiduran di pelukan mama. Satu pertanyaan yang membuatmu tak berpikir lama untuk menjawab pertanyaan “sampai kapan tidur harus dipeluk dulu sih?” Kamu menjawab tegas “sampai umurku 41!”

Mama tertawa. Tentu mama dengan sukarela akan memelukmu sampai kapan pun kamu mau. Tapi tidak ketika kamu sudah punya istri hahaha. Saat itu tiba, mama akan di sana, siap menerima telepon kapan saja, siap mendengar ceritamu, juga pelukanmu. Jika kamu mau.

Itu yang dilakukan ayahmu hingga kini. Menelepon nenekmu setiap hari, mengabari banyak hal, dari mainan barumu hingga headphone baru miliknya. Mama harap kamu pun akan berlaku demikian.

Tapi jangan pula berharap mama akan selalu ada dan jadi bodyguard-mu. Seharusnya kamu tau itu karena toh sekarang, dan sejak dulu ketika kamu masih lebih kecil lagi, ketika mama bilang tidak, mama tidak akan berubah pikiran. Tidak adalah tidak.

Ketika kamu melanggar aturan, ketika kamu melawan kesepakatan, ketika kamu tak sabaran, mama di sana untuk mengingatkan. Agar kamu tak keluar batas, agar kamu menghargai proses dan tidak selalu mau jalan pintas, agar kamu tahu bahwa yang kamu dapatkan itu karena kamu pantas.

Tak apa jadi anak mama. Tak perlu malu jadi anak yang memang menyayangi papa dan mamanya. Semua manusia, perempuan atau laki-laki berhak memeluk dan mencium mamanya sebanyak yang mereka bisa.

I love you, my forever mama’s boy.

Mama


Post Comment