Ini Jawaban Tepat Saat Anak Laki-Laki Bertanya Tentang Menstruasi

Dan tibalah saatnya anak sulung saya yang berusia 10 tahun mempertanyakan apa yang terjadi ketika mama tidak shalat, sementara seluruh anggota keluarga shalat berjama’ah ketika Magrib tiba. Bagaimana cara menjawabnya?

Sebenarnya dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolahnya dia sudah mendapatkan pengetahuan mengenai haid. Tentu di bagian syarat wajib shalat dan berpuasa, apa yang membatalkan wudhu, dan sejenisnya. Tapi sepertinya belum sempat penasaran. Penasarannya baru sekarang.

Saya pun kemudian dapat bocoran dari mbak Irma Gustiana A, M.Psi, Psi, apa yang harus kita jawab ketika anak, dalam hal ini anak laki-laki menanyakan seputar pubertas pada laki-laki dan perempuan.

Marak Hoax Penculikan, Tetap Waspada Ajarkan Anak Pertahanan Diri - Mommies Daily

Jawab dengan jujur dan ilmiah

Terus terang saya sempat merasa ragu untuk gamblang menjelaskan mengenai sistem reproduksi. Karena pada akhirnya penjelasan akan menjurus ‘ke sana’, kan? Tapi menurut mbak Irma jelaskan saja semuanya seilmiah mungkin. Di usia 9-12 tahun, kemampuan kognitifnya sudah semakin berkembang dan rasa ingin tahunya mengenai lawan jenis juga semakin besar.

Momen ini sebaiknya juga dijadikan momen kita memberikan pendidikan seksualitas anak, yang sangat dibutuhkan saat anak mulai beranjak ke usia pubertas. Kita bisa mulai dengan membicarakan mengenai perbedaan reproduksi laki-laki dan perempuan (duh, aku deg-degan), tanda-tanda pubertas seperti menstruasi dan mimpi basah, atau tentang munculnya karakteristik sekunder seperti bulu-bulu halus, payudara yang tumbuh, sehingga bagaimana menjaga menjaga kebersihan dari organ seksual.

Lalu ketika masuk ke bagian apa itu menstruasi, menurut mbak Irma, kita bisa menjawab dengan, “Jadi Nak, kalau anak laki-laki akan mengalami mimpi basah, anak perempuan mengalami yang namanya menstruasi. Menstruasi merupakan proses alami yang terjadi pada anak perempuan, yaitu cara sistem reproduksi tubuh membersihkan rahim, untuk mempersiapkan siklus reproduksi yang akan datang. Menstruasi merupakan tanda bahwa tubuh seorang perempuan itu sudah siap hamil.”

Kita juga bisa menambahkan (kalau muslim) bahwa itu sebabnya ada momen mama nggak bisa ikut shalat dan berpuasa.

Bila memungkinkan gunakan media

Pendidikan seksual sebenarnya diajarkan pada anak sesuai dengan tahapan usianya. Kalau untuk balita, media yang digunakan untuk memberikan pendidikan tersebut bisa dengan boneka, mengeksplorasi tubuh sendiri, atau gambar yang menarik. Karena di usia tersebut pendidikan seksual masih berupa pengenalan bagian tubuh termasuk alat vital, mengenalkan beda laki-laki dan perempuan, serta menginformasikan mengenai bagian tubuh lengkap dengan fungsinya.

Di sini juga seharusnya kita sudah bisa mengenalkan bentuk penis dan vagina karena anak laki-laki juga kelak perlu paham bahwa penisnya akan bertambah besar seiring dengan pertumbuhan fisiknya. Begitupun anak perempuan, yang akan alami perubahan pada perkembangan payudaranya.

Sementara untuk usia 9-12 tahun pendidikan seksual sudah lebih mendalam seperti misalnya Informasi mengenai perubahan tubuh, reproduksi secara biologis, perkembangan payudara, menstruasi dan mimpi basah.

Menurut mbak Irma paling baik media yang digunakan adalah video dokumenter mengenai proses tumbuh kembang manusia sambil kita berdiskusi. Bahan diskusi bisa tentang bagaimana hubungan pertemanan yang sehat dan hubungan yang tidak sehat.

Ini juga saat yang baik menginformasikan pada anak, ketika ia telah puber lalu mengalami menstruasi dan mimpi basah, itu artinya tubuhnya telah siap untuk memiliki bayi (kok, saya makin deg-degan, ya? Hahaha…).

Di usia menjelang pubertas ini, anak pada dasarnya sudah bisa memahami nilai-nilai sosial sehingga mudah untuk kita mengajarkan kerugian apa yang akan ia alami kalau mengekspos diri sendiri, apa risikonya kalau sampai terjadi kehamilan di usia dini, apa itu STD, atau bisa juga apa yang boleh di-share di media sosial (tentunya bila orangtua sudah mengizinkan anak memiliki akun media sosial, ya).

Challenging juga, ya, punya anak jelang remaja. Tapi setuju, sih, sama mbak Irma. Kuncinya adalah menjelaskan segala sesuatunya seilmiah mungkin, tanpa memandang tabu pendidikan seks. Karena ketika diskusi itu berlangsung, biasanya yang rikuh itu ya orangtua, anaknya, sih, woles aja. Ya, kan? Hahaha…


Post Comment