Galau Stanford atau Harvard, Begini Cara Maudy Ayunda Dididik Orangtua

Beberapa waktu yang lalu Maudy Ayunda membuat heboh karena kegalauannya yang sulit membuat orang merasakan hal yang sama. Harus kuliah di Stanford atau Harvard?

Sebagai ibu-ibu jujur saja yang pertama kali terbersit tentu cara orangtuanya membesarkan Maudy dong ya. Kok bisa sih diterima di dua universitas bergengsi seperti itu?

maudy-ayunda-3
Pertanyaan saya terjawab lewat channel YouTube-nya Najwa Shihab. Secara eksklusif, Maudy berbincang dengan Najwa tentang kecintaannya belajar dan bagaimana orangtua membesarkannya hingga ia bisa seperti sekarang.

“Ini akan terdengar aneh tapi aku memang sangat cinta belajar dan sangat enjoy (saat ujian) kaya ada tantangan baru. Dan aku merasa bahwa apapun yang kita pelajari there’s no limit to anyone if they wanna learn it gitu. Jadi ada something yang very powerful about learning and absorbing yang aku suka banget,” ujar Maudy.

Najwa mengamini. Ia juga mengaku senang belajar lho! Duh, saya jadi makin penasaran. Sebagai kaum yang menganggap belajar di sekolah itu membosankan, saya tidak mau anak saya merasakan hal serupa. Gimana sih caranya mendidik anak agar senang belajar plus bisa menjalankan passion juga di dunia hiburan?

maudy-ayunda-2

Untuk mommies yang tidak sempat nonton videonya (setengah jam lho durasinya) ini jawaban Maudy.

Hidup tanpa TV dan bergantung pada buku

Cerita ini sudah pernah diceritakan langsung saat saya mewawancarai Maudy beberapa waktu lalu. Entah karena alasan apa, keluarga Maudy itu tidak punya TV saat ia kecil dulu. Satu-satunya hiburan mereka hanya buku.

“Papaku bisa pulang pergi ke Singapur bawa satu koper cuma beliin anak-anaknya buku karena mungkin di Jakarta belum terlalu komplit,” ujar Maudy.

Nah, coba fokus pada membaca bukunya ya moms. Karena banyak juga teman yang koleksi buku anaknya banyak sih tapi tetep banyakan screen time-nya dibanding baca buku ahahaha.

(Baca juga: Ini Cara Agar Anak Punya Role Model Seperti Maudy Ayunda)

Tak pernah diberi reward

Ini memang bergantung value keluarga banget ya. Karena banyak sekali anak yang sudah dijanjikan ini itu jika naik kelas atau menang kompetisi tertentu. Hal ini tidak berlaku di keluarga Maudy, menurutnya reward di keluarganya hanya sebatas perasaan bangga.

“Kita nggak pernah dikasih insentif yang kaya uang atau jajanan atau apa sih tapi kita bisa melihat bangganya orangtua aja,” paparnya.

Iya, memberi reward memang bisa membuat anak jadi semangat belajar namun berisiko membuat anak semangat untuk mendapat reward bukan untuk prosesnya itu sendiri. :(

Diajarkan skill problem solving

“Di luar itu mamaku plays a big role, mama itu dari kecil suka banget ngajak ngobrol tapi ngobrolnya bukan ngobrol biasa jadi problem solving tentang hal-hal kecil,” ujarnya.

Ia memberi contoh saat umur 9 tahun, mamanya bertanya tentang makanan apa yang tepat untuk rencana kumpul keluarga. Misal Maudy menjawab ‘rendang’. sang mama akan terus mengejar dengan pertanyaan “kenapa harus rendang?” “kira-kira rendang cocoknya disajikan dengan apa?” dan banyak lagi. Sampai di akhir, Maudy sudah akan tahu kalau pilihan makanannya itu tepat karena sudah dianalisis sedemikian rupa.

“Jadi obrolan itu nggak pernah simpel, obrolan itu selalu ada mengapa kenapa sampai di ujung sampai bener-bener kita merasa itu jawaban yang tepat. Kaya gitu itu problem solving yang akhirnya setelah kupikir-pikir … rasa kepedulian, ingin tahu, dan hampir enjoying it karena dibuat like a game. I think it’s the main one, the conversations,” pungkasnya.

Menariknya, jawaban ini ditanggapi Najwa dengan pengalaman yang sama. Ia mengaku sudah diminta membuat list pros cons sendiri sejak SD untuk memilih SMP Islam atau SMP negeri.

Wah, buat saya yang baru memilih jurusan sendiri saat kuliah, ini ilmu baru sekali ini lho! Tidak punya TV sudah sama, tidak memberi reward juga sudah saya lakukan, tinggal mengasah skill problem solving anak. :)

Semoga mommies bisa menerapkan apa yang diajarkan orangtua Maudy Ayunda dan Najwa Shihab ya!


Post Comment