Akui Saja, Pemicu Depresi Ibu Millennial itu Media Sosial

Siapa sih yang hari ini nggak punya media sosial alias medsos? Duh kayaknya hampir semua ibu apalagi para ibu milenial pasti punya. Ya, saya pribadi juga punya dua medsos dan termasuk pengguna aktif sih, Facebook dan Instagram.

Banyak manfaatnya lho punya media sosial, inspirasi bertebaran. Mulai dari menu makanan, dekorasi rumah, fashion, tempat liburan sampai hal remeh temeh, soal gosip para artis jadi hiburan.

Bahkan yang mendulang rejeki dengan aktif di medsos pun tak terhitung. Dudududu saya suka iri lho. Lalu pengen seperti mereka. Tapi kok semakin sering saya kepo dan keasyikan berselancar di medsos, saya banyak keinginan ya. Pengen ini, pengen itu. Duh, kok saya nggak bisa kaya si itu dan si anu. Saya jadi banyak mau banget.

instagram
Dan jeleknya, saya suka jadi netizen yang julid. Misal karena terlalu sering melihat postingan rumah nan apik. Bersih dan stylish banget yang berseliweran di IG.

Tapi ketika melihat realita di hadapan, semua beda jauh. Hahaha. Saya pun jadi mudah marah ketika suami atau anak karena mereka tidak bisa menjaga kerapian rumah. Belum lagi baper ketika melihat postingan liburan si anu ke sini dan ke situ.

Akhirnya saya menyadari, kalau kondisi ini tidak baik.

Tapi saya ternyata tidak sendiri. Beberapa teman pun merasakan hal yang sama. Medsos membuat stres. Tapi candu, kalau nggak kepo kok rasanya ada yang hampa.

Seorang teman bercerita, ada teman suaminya di kantor kewalahan menyikapi istrinya yang selalu mengubah interior rumah. Sang istri terlalu rajin belanja furnitur, menata rumah, mengubah tata letak. Terobsesi dengan rumah yang Instagramable hingga sang suami merasa asing di rumah saking seringnya rumah itu berubah.

Jadi yang harus diakui ternyata penyebab ibu milenial stres dan depresi kini bukan hanya karena pekerjaan kantor, mengurus anak, tugas rumah tangga yang tidak kunjung habis. Tapi juga karena medsos yang dilihat hampir setiap waktu.

Media sosial berkaitan erat dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, bullying dan FOMO (Fear of Missing Out, ketakutan untuk tertinggal berita). Medsos juga memberikan harapan tidak realistis dan menciptakan perasaan ketidakcukupan serta kepercayaan diri rendah.

Jleb. Ya saya merasakan itu.

Lebih mudah emosi di rumah, merasa minder kalau belum ke tempat yang sedang ngehits di media sosial. Atau ikut membeli barang yang lucu dan Instagramable untuk bisa diposting. Saya menjadi merasa tertekan.

Sampai saya menemukan artikel tentang hubungan beristirahat sejenak dari Facebook terhadap tingkat stres dan kebahagiaan seseorang yang dibuat oleh para peneliti dari University of Queensland di Australia.

Menurut dr. Eric Vanman, berhenti main Facebook selama lima hari bisa menurunkan hormon stres bernama kortisol. Ia mengakui sempat merasa tenang dan rileks ketika sementara waktu tidak terhubung dengan Facebook.

Saya pun tertarik mencoba, Facebook dan Instagram untuk sementara waktu, saya off. Awalnya susah tapi saya keukeuh karena ingin membuktikan apa yang dikatakan Vanman. Setelah dua tiga hari, saya merasa lebih enak, perasaan tertekan berkurang, dan tidak terlalu banyak keinginan ini itu.

Jadi ya memang satu-satunya jalan untuk mengatasi stres dan depresi karena media sosial itu memang memiliki batas waktu. Bukan berarti harus berhenti sama sekali tapi punya catatan waktu dalam sehari berapa jam habiskan untuk bermain medsos. Sekarang ini pun bisa dilakukan dengan mudah lewat fitur screen time di Instagram. Kita lho yang harus membatasi diri kita.

Trik lain, saya harus punya tujuan dengan memantau medsos. Lebih selektif memilih konten mana yang akan dilihat kemudian diberikan “like”. Dan menghindari postingan yang terkesan sempurna. Alias tidak mengambarkan realita. Jadi siapa yang harus kita unfollow hari ini? :)


Post Comment