Perempuan Juga Berhak Menolak Punya Anak

Ini bahasan yang sensitif, tapi ya saya serius, kita sebagai perempuan berhak lho menolak punya anak!

Kalau saya ditanya teman yang belum menikah, saya pasti sodorkan dulu list pertanyaan yang harus ditanyakan pada calon suaminya. Salah satunya adalah tentang urusan anak.

Mau punya anak berapa? Kalau ternyata kita punya anak satu dan aku capek banget boleh nggak untuk nggak punya anak lagi? Bahkan kalau memang tidak berniat punya anak, bilang sejak awal kalau tidak tertarik untuk punya anak.

fitrah-perempuan

Karena badan ini milik kita, kita berhak lho melakukan apapun. Demi kesehatan mental, demi anak-anak yang dibesarkan oleh ibu yang waras, bukan ibu yang pasrah.

Kenapa begini, karena pernikahan dan urusan anak itu mengerikan hahahahaha. Pernah lho saya dengar teman yang ditipu suaminya. Suaminya mengaku mengeluarkan sperma di luar tapi ternyata di dalam dan berakhir hamil.

Sebabnya karena si suami ingin punya anak ketiga sementara istrinya merasa cukup dengan dua anak. Kalau sudah hamil mau bagaimana kan. T_______T

Sebaliknya juga, ada istri-istri visioner yang terlalu takut suaminya menipu seperti itu karena ia tahu benar sang suami ingin anak lagi. Istrinya sudah lelah dengan 1 atau 2 anak, jadi ada banget lho istri yang memasang IUD diam-diam tanpa sepengetahuan suaminya.

Saya kok sedih ya. Urusan menambah anak kan bukan simsalabim jadi anak. Bagaimana membesarkannya itu lho yang justru jadi bagian tersulit. Plus, kalau datang dari kalangan menengah ke bawah, gimana bayar sekolahnya?

Jadi mikir banget, suami-suami seperti ini mungkin ngurus anak bagian yang gemes-gemesnya aja. Bagian begadang atau nanggepin anak tantrum lepas tangan. Karena logikanya kalau ikutan capek sama-sama, suami juga akan menerima alasan istri untuk tidak nambah anak.

Solusinya apa? Untuk yang belum menikah, please ini harus didiskusikan dulu. Untuk yang sudah menikah dan suaminya sedang rewel untuk minta anak lagi, jelaskan saja alasan logisnya.

Kalau perlu buat daftar pros dan cons jika menambah anak. Kemarin bahkan ada yang DM saya lho, dia suka membuat presentasi dalam bentuk powerpoint kalau berbeda pendapat dengan suami! Presentasinya berdasarkan riset jadi kalau suami mau membantah harus pakai riset juga.

Bagaimana jika orangtua atau mertua yang minta menambah anak?

Tergantung hahahahaha. Kalau memang secara materi masih dibantu orangtua dan mertua sih menurut saya mereka punya hak lho untuk menuntut anak lagi. Ya asal nanny dan sekolahnya full dibayarin kan?

Kalau tidak, gimana lagi selain main tegas dan realistis: kami tidak mampu.

Begitulah. Intinya tetap di kemampuan berkomunikasi. Tapi kalau memang merasa tidak mampu, jangan mau dipaksa punya anak lagi oleh siapapun!


Post Comment