Sandra Dewi dan Kahiyang Ayu Berbagi Kisah #SenangnyaJadiIbu

Sponsored Post

annisast・03 Jan 2019

detail-thumb

Melahirkan dan punya anak jadi fase baru dalam kehidupan seorang perempuan. Begitu pula dengan aktris Sandra Dewi dan Kahiyang Ayu yang mengaku hidup mereka berubah banyak saat sang buah hati hadir.

Menikah pada November 2017, Kahiyang Ayu langsung dikarunai putri yang diberi nama Sedah Mirah (3 bulan). Disinggung mengenai gaya pengasuhan dan tantangan yang dihadapi, ia mengaku kini lebih positif dalam memilih kata-kata yang diucapkan karena takut ditiru oleh Sedah Mirah.

kahiyang ayu

“Tantangan sebagai ibu baru menurut saya nggak ada sih ya, nggak terlalu kerasa perubahan psikologis. Tapi anak kan panutannya orangtua, jadi sekarang jadi jauh lebih sabar lebih banyak kontrol diri karena takut yang saya ucapin ditiru sama anak. Saya juga jadi banyak senyum biar anak jadi ikut senyum juga,” papar Kahiyang saat hadir di acara peluncuran kampanye Mother’s Day #SenangnyajadiIbu dari Mothercare Indonesia di Restoran Bunga Rampai beberapa waktu lalu.

Kampanye Senangnya Jadi ibu digagas Mothercare sebagai wadah bagi para Ibu untuk saling berbagi dan menginspirasi satu sama lain. Juga sebagai salah satu cara untuk menyebarkan kebahagiaan menjadi seorang ibu dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Ingat, gaya pengasuhan tidak perlu dibanding-bandingkan karena motherhood bukanlah sebuah kompetisi. We might have different parenting styles, but the love for our children is similar, isn’t it? ☺

Berbeda dengan Kahiyang, bagi Sandra Dewi, salah satu tantangan yang dihadapi justru gaya pengasuhannya dengan suami. Sandra Dewi kini sudah dikaruniai satu putra, Raphael Moeis yang sudah berusia 11 bulan.

“Ibu saya penuh cinta, sementara papa saya yang suka marah, jadi pas punya anak saya agak mix sih. Kadang tegas juga biar disiplin. Suami bilang jangan dimarahin tapi saya masih berusaha disiplin. Dulu saya juga nggak peduli suami pulang kerja jam berapa, sejarang itu teleponin untuk nanya pulang jam berapa. Tapi sekarang saya teleponin terus pulang jam berapa karena mau pipis aja harus saya tahan karena anak mau sama saya terus. Jadi aku bilang suami sekarang kamu kerja secepatnya harus pulang, jangan sama anak weekend aja,” ujar Sandra

Sandra dan Kahiyang tentu punya gaya pengasuhan yang berbeda karena mereka dibesarkan dalam budaya yang berbeda. Sandra berasal dari Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung sementara Kahiyang dibesarkan dengan budaya Solo. Memang ada hubungannya gaya pengasuhan dan budaya? Ada!

Menurut penelitian McClelland Institute di University of Arizona, gaya pengasuhan dapat dipengaruhi oleh budaya. Ada indikasi dalam beberapa budaya, gaya pengasuhan tertentu memang terbukti lebih efektif. Namun gaya pengasuhan yang sama tidak selalu efektif di semua budaya.

Contohnya, pola asuh otoriter, yang tinggi dalam kehangatan dan responsif tetapi kontrol moderat, efektif dalam keluarga kulit putih Amerika. Namun, pada keluarga Asia, gaya otoriter - yang lebih rendah dalam kehangatan dan dukungan tetapi lebih tinggi dalam kendali - tampaknya lebih efektif.

kahiyang-ayu-sandra-dewi

Psikolog Klinis, Liza M Djaprie yang juga hadir dalam acara itu menambahkan, “Ikatan antara orangtua dan anak adalah hubungan paling awal yang akan dimiliki seorang anak di sepanjang hidupnya dan dapat mempengaruhi perkembangannya. Perbedaan budaya dapat mempengaruhi cara orangtua berinteraksi dengan seorang anak, tetapi respon orangtua adalah kunci dalam budaya apa pun.”

Hal ini diamini oleh Sandra Dewi yang mengaku ngefans pada ibunya sendiri. Ia selalu melihat ibunya sebagai sosok yang penuh dengan cinta dan kasih sayang.

“Saya ngefans banget sama mama, beliau adalah sosok yang penuh cinta sekali. Beliau selalu menjelaskan pada kami kenapa kami harus sayang sama keluarga, adik, kakak, Tuhan. Mama selalu memberikan alasan kenapa harus begini dan begitu dan selalu memberikan jawaban. Wah sampai sekarang beneran sih ngefans banget sama mama,” ujar Sandra.

Bagaimana dengan perbedaan prinsip pengasuhan dengan orangtua yang bisa menimbulkan konflik?

“Ibu emang suka melarang jangan kaya gini jangan kaya gitu, tapi saya bilang ke ibu, ibu lakuin ke saya dulu, sama saya ke anak dulu mungkin beda karena ngikutin zaman. Saya kasih pengertian ke ibu karena saya nggak mungkin halangi timbuh kembang anak tapi nggak mungkin juga melawan ibu. Intinya kalau sama ibu, yang baiknya saya copy, yang kurangnya ya saya nggak,” jelas Kahiyang.

Menanggapi hal tersebut, Vice President Mothercare Indonesia, Lina Paulina menjelaskan ”Para Ibu di Indonesia sangat beruntung dapat hadir di dalam keberagaman norma-norma budaya yang ada. Kami memiliki begitu banyak kisah menarik dan emosional tentang bagaimana mereka membesarkan anak-anak mereka di kampanye-kampanye sebelumnya. Setiap Ibu memiliki cerita yang berbeda, latar belakang yang berbeda, namun satu kesamaan diantara semuanya ialah cinta Ibu pada anaknya.”

Mothercare sendiri memang konsisten mendampingi ibu-ibu di Indonesia dalam menyambut para calon orangtua untuk masuk ke fase baru dalam mengasuh anak. 'Welcome to the club’ menghubungkan orangtua dan membangun support system untuk ibu dan ayah baru dengan mengapresiasi segala bentuk dan gaya pengasuhan dari para orangtua.

Turut memeriahkan kampanye #SenangnyaJadiIbu, Mothercare meluncurkan sebuah video bertema ‘Mother’s Love in Diversity’ . Video ini menceritakan bagaimana keberagaman yang hadir di tengah-tengah menjadi orangtua menjadi motivasi dalam mengasuh dan menggambarkan kebahagiaan momen bersama dengan pentingnya kasih sayang seorang Ibu.

Dengan ini, Mothercare mengajak para ibu dan calon Ibu untuk membagikan kisah mereka dalam mengasuh dengan latar belakang berbeda dan bagaimana bahagianya menjadi seorang Ibu.