8 Cara Memberikan Dukungan Kepada Orangtua yang Anaknya Terkena Penyakit

Ditulis oleh: Febria Silaen

Saat anak divonis menderita sakit keras tentu bukan hal mudah untuk orangtua menerimanya. Sebagai teman, ada baiknya kita berhati-hati dalam bersikap. Jangan ikutan melakukan yang nomor satu dan delapan, yang seriiiing banget dilakukan banyak orang.

Nggak ada yang bisa menolak datangnya musibah yang kerap datang tanpa permisi. Apa pun bentuk musibah tersebut. Seperti baru-baru ini yang ramai menjadi berita dan kepedulian banyak orangtua, yaitu tentang putri Denada serta Jerry Aurum yang terkena kanker darah.

Baca juga: Gejala Leukimia Pada Anak

Refleks kita pasti ingin menghibur dan memberi semangat untuk mereka yang terkena musibah. Karena kita suka membayangkan, bagaimana jika saya yang mengalami. Nggak kebayang sedihnya, kan.

Nggak ada yang salah jika ingin menunjukkan simpati dan empati kita. Tapi yang salah adalah jika kita tidak peka dalam menunjukkan empati. Jadi seperti apa sih baiknya menunjukkan rasa empati dan bagaimana cara memberikan dukungan jika anak teman kita terkena penyakit berat?

8 Cara Memberikan Dukungan Kepada Orangtua yang Anaknya Terkena Penyakit - Mommies Daily

1. Jangan, sekali lagi saya bilang, jangan pernah bilang “Mungkin ini peringatan atau cobaan dari Tuhan.”

Sudahlah, kalau kalimat ini yang ini yang mau kita keluarkan atau tuliskan di sosial media mereka, lebih baik tutup mulut kita rapat-rapat. Dalam kondisi terpukul seperti ini, mereka nggak butuh mendengar ini semua. Yang mereka butuhkan adalah bahwa Tuhan yang bisa menjawab doa-doa mereka dan memberikan kesembuhan. Paham ya kalian yang kerap suka bersikap menjadi wakil Tuhan di dunia ini :).

2. Jangan banyak bertanya alias kepo dengan kejadian yang dialami

Bertanya ala kadarnya tentu sah-sah saja, tapi jangan lantas bersikap seperti detekif yang teruuuus bertanya tanpa jeda. Kapan tahunya? Apa gejalanya? Apa sih penyebanya? Siapa yang memberitahu? Sudah mencari second atau third opinion? Terus mau dirawat di mana? Biayanya besar dong ya? Ada asuransi? Dan seterusnya.

Mereka tidak butuh segudang pertanyaan, karena mereka sendiri mungkin masih bertanya-tanya di dalam hati dan masih sulit menerima kenyataan. Secara psikologis mereka sedang tidak baik, pahami saja mereka butuh untuk didengar bukan harus memberikan klarifikasi. Cukup berikan satu dua pertanyaan, sisanya biarkan mereka bercerita sendiri jika mau.

3. Jangan bersikap menyudutkan atau menyalahkan

Kendalikan diri untuk saat mengeluarkan kalimat agar tidak menyudutkan atau menyalahkan. Jangan sampai keluar kalimat “Mungkin selama ini makannya nggak dijaga sih ya?” atau “Jangan-jangan orangtua terlalu sibuk jadi kurang perhatian ya…”. Mereka sedang dalam tahap yang super sensitif, jadi pilih benar-benar kalimat yang mau kita ucapkan.

4. Jangan mengatakan kalimat ini, “Aku mengerti dan paham betul perasaanmu.”

Mungkin kita pernah mengalami situasi yang sama, tapi kondisi belum tentu sama. Jadi sebaiknya hindari mengatakan bahwa kita sangat memahami perasaan mereka. Apalagi melontarkan kalimat, “Kalau aku bisa melalui ini. Kamu juga pasti bisa.” Cara orang menyikapi sebuah masalah berbeda-beda. Dan waktu untuk orang berdamai dan menerima kenyataan atas musibah yang baru dialami pun tidak bisa sama satu sama lain.

5. Jangan memaksa untuk bertemu

Bertemu langsung dan memberikan support adalah hal yang baik. Tapi pahami ada saatnya orang yang sedang mengalami kesedihan memang ingin sendiri. Jadi tunjukkan rasa empati dengan cara memahami apa yang dialami penderita. Berikan situasi yang tenang dan senyaman mungkin bagi penderita. Biarkan ia menangis, berikan waktu untuknya sendiri. Namun tunjukkan bahwa keluarga dan orang terdekat selalu akan mendukung di dekatnya.

6. Jadilah pendengar yang baik

Terkadang saat kita sedang sedih dan mengalami masalah berat. Apalagi saat buah hati atau pasangan mengalami sakit kronis, fisik dan psikis terkuras, saat itulah kita butuh tempat untuk bercerita. Mari kita posisikan diri sebagai pendengar yang baik. Dengarkan saja semua keluh kesahnya. Telinga yang mendengar dengan sabar akan lebih baik dari banyak kalimat bijak ketika mendampingi orang yang sedang terkena musibah.

7. Posisikan kalau diri sendiri yang mengalami

Sebelum kita memberikan dukungan, ada baiknya berikan waktu buat diri sendiri merenung. Bagaimana kalau musibah itu menimpa saya. Ini akan membuat kita bisa lebih bijaksana bersikap dan berhati-hati dalam melontarkan kalimat.

8. Tawarkan bantuan yang riil

Mereka yang terkena musibah tentu sangat membutuhkan bantuan. Tidak hanya materi, tetapi juga waktu, kalimat penyemangat dan doa. Tawarkan bantuan yang memang sanggup untuk dilakukan dengan konsisten. Misalnya, menemani saat berobat atau mengantarkan ke rumah sakit.

9. Bijak menggunakan media sosial

Seringkali kita memosting foto-foto kunjungan ke penderita atau kebersamaan bersama dengan orang yang terkena musibah. Kalau saya, selalu menghindari menampilkan foto orang yang sakit dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Apalagi jika dia sedang tidak sadar dengan infus atau alat bantu di mana-mana. Tentu orang itu tidak nyaman di saat sakit, semua orang melihat kondisinya yang seperti itu. Atau orangtua juga pasti sedih melihat foto anaknya yang sakit terpampang di social media.


Post Comment