Sudah Yakin Mau Program Hamil Tanpa Memerhatikan Jarak Kelahiran?

Sponsored Post

adiesty・22 May 2017

detail-thumb

Percaya, deh, mengatur jarak kelahiran anak pertama dan kedua akan jauh lebih baik untuk kesehatan psikologis, baik orangtua maupun calon kakak. Berikut penjelasan Psikolog Keluarga, Nadya Pramesrani, M. Psi.,

"Dis, Bumi sudah besar begitu nggak mau punya adik?"

"Umur kamu sudah berapa sekarang, kok, nggak mau nambah anak juga, sih?"

"Kasihan, tuh, Bumi kalau jadi anak tunggal. Bisa kesepian. Nggak mau tambah anak lagi?"

Komentar dan kalimat tanya seperti di atas rasanya sudah ratusan kali masuk ke kuping kanan saya. Biasanya, sih, langsung keluar lagi lewat kuping kiri. Bukan bermaksud untuk mengacuhkan, tapi untuk urusan nambah anak saya memang nggak mau gegabah. Karena khawatir ‘kebobolan’, nggak lama setelah masa nifas saya pun langsung menggunakan IUD untuk menunda kehamilan.

Sudah Yakin Mau Program Hamil Tanpa Memerhatikan Jarak Kelahiran? -  Mommies Daily

Terus terang saja, awalnya saya sempat bingung saat menentukan alat kontrasepsi apa yang kiranya cocok untuk saya dan suami. Akhirnya pilihan pun jatuh pada IUD, hal ini dikarenakan saya nggak perlu perawatan yang rumit kalau menggunakan IUD. Dengan waktu pemakaian juga untuk jangka panjang, 3 sampai 10 tahun, saya cukup kontrol setahun sekali.

Dan menurut informasi dari dokter kandungan, risiko terjadinya efek samping setelah pemakaian IUD juga sangat kecil. Contohnya, dikarenakan IUD bukan kontrasepsi hormonal, minim risiko terjadinya perubahan siklus menstruasi. Benar saja, sih, selama ini siklus saya berjalan normal. Begitu memutuskan untuk program hamil lagi, saya pun bisa langsung ‘subur’.

Ketika usia anak saya, Bumi, 4 tahun, saya dan suami sepakat untuk melakukan program anak ke-2. Perkara nambah momongan memang nggak mudah. Banyak faktor yang perlu dipikirkan, selain faktor finansial, ada lagi faktor penting yang harus saya pikirkan, yaitu kesiapan psikologis. Baik kesiapan psikologis saya pribadi sebagai ibu, dan tentunya anak saya, Bumi.

Seperti yang dikatakan  Nadya Pramesrani, M. Psi., psikolog keluarga, bahwa kesiapan orangtua dan anak perlu dipertimbangkan. “Sebenarnya kalau dilihat dari kacamata psikologi, tidak ada pakem batasan minimal berapa tahun idealnya untuk tambah anak. Tapi penekanannya justru lebih kepada kesiapan orangtuanya. Jadi balik lagi harus berkaca pada diri sendiri, tipe orangtua seperti apa kita ini?”

Nadya menambahkan, preferensi setiap orangtua pada dasarnya memang berbeda. Ada yang lebih senang dan siap kalau jaraknya berdekatan, dan menganggap tidak masalah untuk ‘repot sekalian’ namun ada juga yang sebaliknya.

“Cuma kita juga perlu mengingat dan merujuk pada isu medis, mengatur jarak kelahiran memang disarankan paling cepat sebaiknya 2 tahun, dilihat dari perlunya anak diberikan ASI eksklusif. Dan pengalaman menyusui itu kan it’s not always happy experience, ya, belum lagi kalau memang harus tandem nursing itu kan tantangannya  lebih banyak. Jadi memang sebaiknya bisa mengatur jarak kelahiran untuk meminimalisir ‘drama’ yang akan terjadi,” papar Nadya lagi.

Selain kesiapan orangtua, coba perhatikan kesiapan kesiapan si calon kakak. Nadya menyarankan, jika si calon kakak masih demanding perhatian orangtuanya, masih belum ada kemampuan untuk membantu dirinya sendiri, seperti sudah bisa makan sendiri, ganti baju sendiri, adanya baiknya untuk tidak terlalu buru-buru menambah anak.

Sudah Yakin Mau Program Hamil Tanpa Memerhatikan Jarak Kelahiran

 

Sebagai psikolog, Nadya sangat menyayangkan kalau sampai saat ini masih banyak orangtua yang lupa dan kurang memahami ketika anak kedua lahir, secara tidak sadar orangtua akan punya tuntutan lebih pada anak pertamanya. Misalnya, orangtua jadi sering melontarkan kalimat, kamu kan sudah besar harusnya sudah bisa melakukan ini sendiri. Ucapan seperti ini memang di bawah alam sadar.

“Sebenarnya orangtua nggak bermaksud seperti itu, tapi tanpa sadar memang melakukannya. Termasuk soal membandingkan si kakak dan adik. Sementara kondisi seperti ini kan yang justru menimbulkan konflik baru lagi antara calon kakak dan calon adiknya. Kalau orangtua belum siap, ya, akan menimbulkan drama yang luar biasa”.

Wah, kebayang, sih, kalau kita sebagai orangtua memang belum siap untuk tambah anak, ya, lebih baik menunda untuk menjaga jarak kehamilan lebih dulu. Untuk itulah, orangtua perlu melihat kemampuan diri sendiri itu seperti apa, termasuk melihat kesiapan si calon kakak. Kalau saya pribadi merasa, kurang adil juga jika perhatian pada si kakak jadi nggak maksimal lantaran ingin buru-buru nambah anak.

Jadi gimana mommies, sudah siap belum memiliki anak lagi?