Now Reading
Novi Esra & Frisa, Cerita Dua Pengusaha Berbasis Kain Indonesia

Novi Esra & Frisa, Cerita Dua Pengusaha Berbasis Kain Indonesia

ketupatkartini

Kini banyak sekali pelaku di industri pakaian berbasis kain nusantara, bagaimana brand anda berkompetisi? Bagaimana bertahan di segmen ini?

Frisa : Bertahan dalam bisnis fashion merupakan suatu tantangan yang luar biasa dan tidak berkesudahan serta membutuhkan kerja keras, komitmen dan fokus. Dari segi desain Jeges berkembang dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan mode dan selera pelanggan.

Dari segi operasional, Jeges mendapatkan dukungan dari para rekanan dan team pendukung yang selalu bisa diandalkan dan mudah diajak kerjasama. Dari segi pemasaran, Jeges mengandalkan promosi lewat media sosial. Terakhir namun yang terpenting, pastinya adalah dukungan tiada surut dari keluarga dan teman-teman yang percaya kepada Jeges.

Lebih jauh lagi dari segi desain, pada awalnya Jeges mengutamakan penggunaan tenun Lombok, Bali dan NTT sebagai bahan baku. Tenun pada umumnya bersifat high maintenance karena harus di dry clean. Cutting desain Jeges cenderung sederhana karena ingin menonjolkan keindahan tenun. Terlebih lagi harga tenun pada umumnya adalah premium. Mengikuti kondisi ekonomi yang ‘tidak begitu bagus’ dan minat pelanggan yang menginginkan produk yang mudah perawatannya dengan harga bersahabat, sejak akhir 2015, Jeges mengalihkan pengunaan bahan baku berserat katun seperti lurik, jumputan, batik dan shibori dengan cutting desain yang lebih sophisticated dari yang sebelumnya.

jeges1
Koleksi Jeges

 

Novi: Ziba selalu teratur mengeluarkan koleksi RTW baru dengan mengusung kain tertentu dengan tema tertentu, jadi kami selalu berusaha memberikan sesuatu yg baru dan berbeda namun selalu dalam karakter atau ciri khas Ziba. 

Dan salah satu ciri khas Ziba adalah, kami selalu konsisten di  lini casual ethnic, dengan konsep clean cut, and loose. Customer sudah sangat familiar dengan karakter/ciri ini.

Ziba dan Jeges selalu menyapa konsumen dan dikenal melalui pameran-pameran wastra dan craft. Bagaimana sebenarnya peran ajang pameran seperti ini terhadap bisnis anda?

Frisa : Agar sebuah produk fashion dapat diterima dan diminati, dibutuhkan interaksi langsung dengan pelanggan yang mana sangat mungkin dilakukan melewati ajang pameran. Melalui ajang pameran, kami bisa mendapatkan masukan langsung yang sangat berharga dari pelanggan. Selain itu, kami dapat menjangkau pelanggan yang belum tersentuh jaringan social media. Di sisi lain, pameran merupakan ajang kami untuk berburu bahan baku. Sayangnya, tidak semua pameran bisa sukses dari segi penjualan. 

Novi : Ziba dipasarkan secara online, pameran wastra dan craft, sangat berguna sebagai marketing campaign untuk memperluas pangsa pasar yang tidak terjangkau di online dan untuk bertemu dengan buyer partai besar. Walaupun online business di Indonesia maju sangat pesat, namun untuk sebagian customer, meet up pada saat pameran itu membawa nuansa yang berbeda, dan untuk customer baru, pameran ini memberikan mereka kesempatan untuk melihat produknya secara langsung.

Menurut Anda sebagai pelaku industri ini, apa yang bisa lebih ditingkatkan untuk lebih mengangkat atau mempopulerkan kain-kain Indonesia?

Novi: Perhatian pemerintah baik pusat dan daerah kepada pengrajin kain indonesia,  terutama level UKM, baik dari segi pembinaan dan pembiayaan. Pengrajin kita ini harus disupport dengan baik, bukan hanya sekedar isu, kalo banyak kain tradisional kita terancam punah, karena pengrajin nya sudah sangat sedikit dan tua-tua, sedangkan menumbuhkan minat generasi muda untuk bergelut di proses pembuatan kain tradisinal ini bukanlah hal yang gampang.

Frisa: Para pelaku fashion dapat lebih giat mempromosikan wastra Indonesia melalui media sosial. Penyelenggaraan pameran sebaiknya didukung oleh pemerintah dengan tulus, transparan dan jujur dan diselenggarakan dengan profesional. Lokasi pameran sebaiknya dipilih selain Jakarta.

Oya, kan mau Inacraft nih? Boleh diceritakan bagamana persiapannya, bagaimana ‘tuntutan’ penyelenggara terhadap para tenant? 

Inacraft ini adalah pameran kerajinan terbesar di Indonesia, karena itu persiapan Ziba untuk Inacraft biasanya lebih detil dibandingkan pameran yang lain dan lebih lama juga :) Ziba selalu launching product baru dan limited, begitu juga untuk tahun ini. Tuntutan dari pihak penyelenggara tidak ada yang berlebihan, penyelenggara biasanya sangat fokus mengingatkan kita untuk memenuhi tata tertib Inacraft.

ziba1
Sneak peek Ziba Label for Inacraft 2016

Apa tips dari Ziba & Jeges untuk pemula yang ingin memulai bisnis di segmen ini (fashion & craft berbasis budaya Indonesia)?

Novi: Yang pertama adalah pelajari dulu budaya dan sejarah kain Indonesia, ini penting banget menurut saya. Saya pribadi untuk beberapa hal, sebelum mengangkat kain kain tertentu, cari info sebanyak-banyaknya. Karena ada pakem-pakem tertentu yang sebaiknya nggak dilanggar.

Selain itu  konsep dan segment pasarnya harus jelas, seperti pertanyaan diatas, karakternya mau seperti apa. Kalo untuk pasar, masih luas banget, terlepas dari daya beli masyarakat indonesia yang menurut survey menurun, tapi pangsa pasar untuk produk craft indonesia itu masih terbuka banget dengan berbagai segment di dalamnya.

Frisa: Manfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, terutama ketika menanggulangi suatu masalah. Karena di segmen ini pun, banyaak sekali yang bisa kita explore. Kain Indonesia itu tidak akan habis untuk di eksplore dan dikembangkan.

Pengusaha di bidang ini memang memiliki passion dan kecintaan luar biasa terhadap kain dan craft Nusantara, seperti dua wanita ini. Kreatifitas dan naluri bisnis mereka pun semakin berkembang, menghadapi dinamika dan tantangan pasar. Adakah Mommies di sini yang juga memiliki bisnis berbasis kain nusantara? Kami tunggu share-nya ya ;)

Pages: 1 2
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top