5 Tipe Teman yang Sebaiknya Dihindari Bumil

Pregnancy

adiesty・13 Apr 2016

detail-thumb

Punya teman curhat, tempat berbagi pengalaman dan saling memberi semangat tentu saja diperlukan. Masalahnya, nggak semua teman bisa memberikan aura positif. Berikut ada beberapa teman yang sebaiknya dihindari para bumil.

Punya geng perempuan itu sangat menyenangkan, ya! Bisa jadi pelepas stress karena bisa berhaha hihi bareng, yang lebih penting lagi dengan mereka saya bisa berbagi pengalaman dan informasi. Salah satu contoh yang paling terasa, sih, ketika waktu saya hamil. Selain senang membaca artikel kesehatan lewat berbagai media, saya pun paling senang mendengar cerita pengalaman teman-teman yang lebih dulu jadi ibu.

teman yang harus dihindari bumi

Tapiiiii..... nggak bisa dipungkiri, sih, kalau nggak semua tanggapan atau komentar yang mereka berikan itu memberikan semangat. Biasanya, sih, pendapat yang sifatnya negatif ini datang bukan dari lingkaran pertemanan dekat saya. Kalau sudah begini, ujung-ujungnya akan masuk kuping kanan keluar kuping kiri, hahahaha.

Dari pada nantinya malah mengubah energi postif yang sudah saya kumpulkan jadi energi negatif, saya pun memilih untuk menjaga jarak dan nggak mau ambil pusing dengan mendapat masukan semacam ini. Ingat, lho, emosi itu bisa menular. Apalagi seperti ibu hamil pada umumnya, saya pun waktu itu jadi super duper sensitif.

Jadi teman seperti apa, sih, yang sebaiknya dihindari? Saya coba rangkum, ya...

Si percaya mitos

“Dis... jangan makan nanas, lho... nanti loe bisa keguguran....”. “Dis... loe minum kopi? Iiih... nggak boleh tahu!”. “Dis... nanti jangan lupa taro gunting kecil atau peniti buat disimpan di bawah bantal biar setan nggak ganggu loe dan si dedek bayi,”. Terdengar familiar? Paling nggak waktu saya hamil, ada saja teman yang percaya sekali dengan mitos. Dari pada pendapat yang nggak benar ini bikin tegang, lebih baik pendapatnya nggak usah diambil pusing!

Si tahu segalanya

Biasanya, nih, teman tipe seperti ini awalnya akan bertanya segala kondisi dan apa saja yang kita rasakan. Kemudian dia pun akan berubah bak dokter kandungan atau ilmuan yang menyarankan saya melakukan ini dan itu. Bahkan memberikan daftar yang panjang to do list atau not do list. Langsung mengikuti sarannya? Ya, jelas jangan, dong, lebih baik tanyakan pada ahlinya saja.

Tukang kritik

Bukan... saya bukannya nggak mau dikritik. Sejauh kritikannya bersifat membangun dan menjadikan saya orang yang lebih baik lagi, tentu saya akan berterima kasih. Sayangnya, nih, ada saja teman yang doyannya mengkritik. Mulai dari cara berjalan, kasih komentar mengenai persiapan yang kita lakukan, bahkan seenaknya mengkritik sikap suami bahkan orang tua. Rasanya semua yang diungkapnya terdengar asal bunyi saja. Lalu apakah nasihatnya didengar dan diikuti? Ya, jelas nggak, dong!

Si pesimis

Saya masih ingat benar dulu ada salah satu rekan kerja saya yang sering kali pesimis. Jadi, apa yang ia katakan bisa saja mematahkan semangat. Contohnya begini, dulu dia sempat bertanya pada saya, apakah saya ingin melahirkan secara normal atau sesar. Bukannya mendukung dan memberi semangat ia justru mempertanyakan kemampuan saya. “Memang loe kuat melahirkan normal? Saat kontraksi itu sakit sekali, lho, Dis... belum lagi kalau nanti loe harus diinduksi”. Kenyataannya, saya bisa melahirkan normal plus diinduksi. Jadi lebih baik nggak diambil pusing teman seperti ini.

Selalu parno

Nah, ada lagi, nih, teman yang sebaiknya dihindari saat hamil, yaitu teman yang parnoan. Memang, sih, sekilas berbeda tipis dengan teman yang pesimis. Tapi kalau teman yang parnoan ini lebih sering menyebarkan ketakukan dirinya sendiri. Pernah suatu kali ada salah satu teman saya yang menceritakan berbagai pengalaman 'menakutkan' soal proses kelahiran. Belum lagi komentar soal berat badan yang menurutnya nggak bakal bisa turun. Duuh... dari pada menjatuhkan mental, saya pun memilih untuk menjaga jarak ataupun menghindar membahas soal kehamilan dengannya.

Kalau 5 tipe teman ini yang kerap saya temui di kehidupan saya, bagaimana dengan Mommies yang lain?