Menjadi Ibu: Pilihan atau Sebuah Keharusan?

Featured

fiaindriokusumo・26 Aug 2015

detail-thumb

Bagi saya pribadi, dilahirkan menjadi seorang perempuan itu namanya takdir. Tapi apakah kita mau hamil kemudian menjadi seorang ibu, itu sepenuhnya pilihan.

Semalam, mbak Affi mengirimkan sebuah link tulisan tentang seorang gadis yang memutuskan untuk memilih tidak menjadi ibu. Buat saya, isi tulisannya menarik, ditulis dengan gaya yang ringan, sekadar opini pribadi tanpa sedikit pun menghakimi. Naaah, yang lucu adalah komen-komen yang kemudian muncul. Kenapa lucu, karena pada akhirnya selalu ada orang yang menghakimi (salah satu ciri masyarakat kita yang unik dan menarik ini) :p.  Padahal itu kan pendapat pribadi si gadis ya, biarin aja sik, selama nggak menyakiti kita yang membacanya (eh tapi ya nggak tau ya kalau kemudian ada yang merasa tersakiti).

cutouts.iStock_000004933275Small-300x268

*Gambar dari sini

Well, bicara tentang menjadi seorang ibu, saya sendiri adalah seorang ibu dari dua anak, yang duluuuu pernah tidak ingin memiliki anak. Semua sahabat-sahabat saya pasti tahu banget, kalau yang namanya Fia itu nggak cocok berinteraksi sama anak-anak dan sudah sesumbar bahwa tidak akan mau punya anak. Bukan karena saya tidak suka, atau kalau ada yang sok mengulik dari sisi psikologis menganggap bahwa saya memiliki trauma masa lalu, sama sekali tidak. Saya hanya tidak mau. Titik.

Tapi, akhirnya sekarang? Saya memiliki dua orang anak. Apakah kemudian saya membenci anak-anak saya? Ya sudah pasti tidak. Cinta saya ke dua anak saya nggak akan pernah bisa dibandingkan dengan apapun juga. Apakah ketika hamil dulu, saya ada perasan takut nggak bisa mencintai anak-anak saya dan membesarkan mereka dengan baik? Yes, ada perasaan takut itu, tapi toh, 9 tahun berjalan dengan dua anak, terbukti anak-anak saya baik-baik saja, mereka tidak terlantar dan  saya bisa yakin 100% mereka happy menjadi anak-anak saya. Dan menjadi ibu memang menjadi titik balik bagi saya menjadi pribadi yang lebih baik, sama seperti yang dialami oleh Ira di sini.

Apakah saya memiliki anak karena dipaksa suami? Tidak. Atau dipaksa Orangtua? Nggak juga. Saya menjadi ibu karena pada akhirnya saya memilih untuk menjadi ibu. Itu saja. Tanpa paksaan dari siapapun. Itu hak saya untuk menentukan.

“Ah.... pasti memutuskan untuk punya anak karena takut masa tua nggak ada yang urus kan?”

Nah, ini saya setuju dengan pendapat penulis nih. Percaya deh (yah kalau nggak mau percaya juga nggak kenapa-kenapa sik). Tapi sejak dulu sebelum saya punya anak, saya selalu berjanji di dalam hati, kalau memang suatu saat saya memiliki anak, saya tidak akan membuat anak-anak saya harus bertanggung jawab pada masa ketika saya dan suami saya tua nanti (setidaknya secara finansial). Itulah kenapa kami sudah menyiapkan dana pensiun. Harapan saya di masa tua cuma simple kok, tetap sehat dan tetap memiliki komunikasi dan hubungan yang baik dengan anak-anak saya tanpa menjadi ‘beban’ untuk mereka (Amiiiiiin).

Jadi, dari yang awalnya tidak ingin punya anak, sekarang tahu kan indahnya memiliki anak? Iya tahu dan paham banget. Jadi setuju dong kalau perempuan yang memutuskan untuk tidak mau memiliki anak itu sangat egois dan aneh? Ya NGGAK SETUJU laaaah.

Wait, konteks di sini nggak ada hubungannya dengan aborsi ya. Konteks di sini adalah tentang perempuan yang memang dari awal nggak mau hamil dan menjadi seorang ibu.

Saya lupa, sudah cerita atau belum, tapi kakak saya yang sulung sejak awal memutuskan untuk tidak memiliki anak. Dan hingga detik ini usia pernikahan mereka memasuki tahun ke 13, kakak saya dan suaminya masih konsisten dengan pilihan mereka. Apakah itu kemudian membuat mereka menjadi tidak berbahagia? NO. Agak picik menurut saya kalau kebahagiaan hanya diukur dari punya anak atau tidak. Tanpa harus mengamini ‘tuntutan’ masyarakat yang beranggapan bahwa menikah itu harus punya anak, kakak saya sangat bahagia kok. Saya saksi matanya.

Tapi, kalau hanya berdua saja mereka sudah bahagia, dengan memiliki anak pasti kebahagiaan mereka bertambah. Kata siapa???  Yakin amat kalau punya anak pasti lebih bahagia. Masing-masing orang kan punya standar yang berbeda. Standar bahagia saya mungkin bisa berpelukan dengan kedua anak saya saat bangun tidur. Standar bahagia kakak saya sudah jelas berbeda.

Apakah kemudian saya sibuk menceritakan ke kakak saya betapa enaknya memiliki anak? Nggak. Buat apa? Kakak saya pasti juga udah bisa lihat dengan mata kepala sendiri, kalau adik bungsunya yang super manja ini memang bahagia memiliki dua krucil yang kadang perilakunya sungguh ajaib dan menguji kesabaran. Tanpa perlu saya menjejalkan pemandangan itu ke hadapan kakak saya.

Apakah kemudian saya sibuk membujuk kakak saya untuk segera membuka ‘pabrik’nya dan mengikuti saya untuk memiliki anak? Sekali lagi jawabannya TIDAK. Karena jika saya dipaksa untuk melakukan sesuatu hal yang saya tidak suka, saya juga pasti akan keberatan.

Symptoms-of-a-Heart-Attack-in-Women-700x395

*Gambar dari sini

At the end,  bolehlah kita belajar untuk saling menghargai perbedaan pendapat tanpa harus mengeluarkan kalimat-kalimat menghakimi yang setajam pisau, yang kadang dilontarkan oleh sesama perempuan. For mother’s in the workplace, it’s death by a thousand cuts – and sometimes it’s other women holding the knives. Tapi ternyata kalimat ini nggak hanya berlaku di dunia kerja, di dunia maya pun juga sama :).

It’s time to turn judgment and criticism into kindness and support untuk sesama perempuan. Pertanyaannya? Maukah kita melakukannya?