Family Friday: Moza Pramita, “Punya Anak Puber, Harus Punya Mata Mata”

Tantangan terberat punya anak puber, apa, sih, Mbak?

Tantangannya sekarang masih dalam rangka mencari tahu perkembangan anak-anak tapi tidak langsung dari anaknya melainkan dari orang lain. Selain itu yang mulai berasa, sih, soal belajar, ya. Meskipun untuk pelajaran  kedua anak saya tidak perlu dipaksa-paksa. Tapi yang namanya masa puber, pelajaran agak menurun dan untuk menghapal harus berulang-ulang. Dan saya ternyata tidak sesabar itu untuk mengajarkannya. Tapi kita harus tahu, lho, soal ini.

Hal ini juga banyak saya pelajari dari teman-teman. Semakin kita menggelegar, makin stress anaknya nanti untuk belajar. Jadi apabila memang membutuhkan guru tambahan, ya, kenapa tidak? Kita harus bisa mengakui kalau kita memang membutuhkan bantuan, dan tingkat kesabaran kita mungkin tidak sama dengan para guru. Ini yang terkadang banyak orangtua yang susah menerima. Susah menerima, dan melepaskan bagi saya berbeda lho, ya. Melepaskan itu memang terlihat seperti tidak peduli, sementara saya sudah mencoba tapi ternyata Maliq lebih efektfif jika belajar bersama gurunya tanpa ada paksaan.

Kalau temannya, dapat 100 atau 9o dan ternyata nilai dia di bawahnya, Malik merasa nggak apa-apa. Baginya yang penting tidak mendapatkan nilai yang jelek dan sudah mencoba secara maksimal. Spirit seperti ini juga yang dulu saya dapatkan dari ibu saya juga, paling tidak kita sudah mencoba yang terbaik, nggak perlu jadi histeris. Soalnya saya kan juga banyak belajar dari pengalaman dulu, banyak teman-teman yang over achievement.

Pendidikan paling dasar yang selalu Anda ajarkan pada anak-anak?

Pastinya agama. Saya ini juga sudah banyak sekali ikutan workshop, seminar, kelas leadership, ataupun kelas yang lainnya. Ternyata dasar pengajaran semuanya itu memang agama.

Contoh, kedispilinan. Orang masih banyak yang susah sekali untuk bangun pagi, sementara saya sudah harus bangun sebelum weker bunyi untuk sholat shubuh. Kalau pola seperti ini dari kecil sudah dibiasakan, kan tidak akan ada masalah. Ketika sudah besar, sudah mulai bekerja, banyak yang mengeluh, “Aduh nggak bisa makan siang, nih”, sementara saya sudah terbiasa berhenti melakukan sesuatu untuk melakukan sholat Dzuhur, setelah itu kan bisa makan. Atau ada yang mengeluh, aduh pegal banget kerja di depan laptop, padahal dengan sholat Ashar selama 5 menit aja, kita sudah bisa mereggangkan otot.

Saya melihat segala macam metode-metode kehebatan yang ada di dunia yang selama ini saya banyak pelajari, sebenarnya sudah dijalankan dalam agama. Kalau mau berbagi, ya, sudah ada juga pelajarannya di agama. Agama menjadi sesuatu yang membahagiakan buat saya ataupun anak-anak saya. Dengan kedisiplianan ini kalau main, mereka juga sudah tahu kapan harus berhenti.

Moza

Dari sekian banyaknya pendidikan agama yang diajarkan orangtua, pelajaran apa yang paling Anda ingat sampai sekarang?

Dari dulu Ibu saya selalu mengajarkan saya kalau Magrib sudah harus ada di rumah. Jadi, saya sudah terbiasa kalau Magrib harus ada di rumah. Magrib ada di rumah membuat kita belajar untuk mengetahui prioritas. Dulu, sih, kesal. Mikirnya, ketika teman-teman lagi pada nongkrong, gue malah harus pulang? Tapi ini jadi rem saya sampai sekarang. Coba kalau nggak, saya mungkin bisa kebablasan.

Tapi namanya masih remaja, sempat ada masa melawan, gitu nggak, Mbak?

Ada, tapi saya tidak melihat manfaatnya. Buat apa? Mau menyenangkan teman-teman, ya buat apa juga kalau akhirnya tidak dapat uang saku dari orangtua? Takut dibilang nggak hits lagi di depan teman? Ya, buat apa juga? Di depan mata orangtua kita selalu menjadi hits. Iya kan? Logika berpikir kita jadi enteng. It remarks you all a long the way. Nggak tahu, ya, buat saya, it’s easier for me jika pondasi dalam kehidupan itu adalah agama, tapi tanpa perlu menjadi agamis. You know, what I mean, ya? Buat saya dan keluarga saya agama ini tidak menyusahkan.

Oh, ya, bisa cerita sejauh mana, sih, keterlibatan Mbak Moza di Yayasan Ar Rahman ?

Sekolah Ar Rahman ini merupakan yayasan yang sudah didirikan keluarga ibu saya dan kakak dan adik-adiknya. Saya menjadi bagian keluarga yang harus meneruskan dan memperbaiki. Sistemnya sudah berjalan dengan baik, kami bukan yayasan yang break through. We are what we are, and that make us different, unique and powerful.

Wah, saya setuju sekali dengan apa yang diungkap istri dari Panya Arifin Siregar ini. Bahwa pendidikan agama memang menjadi landasan pendidikan yang wajib diajarkan pada anak sedini. Sejak dulu, saya sendiri bisa dibilang pengagum rahasianya Mbak Moza. Betapa tidak, di tengah segudang aktivitasnya, ia selalu mampu mengatur jadwal antara keluarga dan pekerjaan. Dan, lagi-lagi kedisiplinan manjemen waktu ini ia dapatkan juga lewat pendidikan agama. “Kita juga harus paham time attachment.” tambahnya.

Sebenarnya, obrolan saya masih berlanjut mengenai bisnis yang dijalankannya beberapa tahun belakangan ini, yaitu Lashes By Moza. Namun, ceritanya akan saya buat dalan artikel yang berbeda. Nantikan, ya, Mommies.


Post Comment