Motherhood Monday: Nonita Respati – Desainer dan Pengusaha yang Tidak Pelit Ilmu & Ingin Semua Orang Maju

IMG_8570

Dari yang saya tahu, ciri khas batik yang Anda rancang adalah teknik Tie Dye, kenapa pilih Tie Dye? Adakah ciri khas lainnya?

Intinya adalah komitmen Purana dari awal yang akan terus mengeksplorasi kain Nusantara, apapun itu teknik dan motifnya. Batik tentunya tidak saya tinggalkan, hanya saja adakalanya saya ingin bereksperimen, mau ke tie dye dulu deh misalnya. Pada akhirnya dari tie dye, saya merasa rindu dengan batik dan kembali lagi dengan batik. Jadi sebetulnya Purana berkomitmen terhadap kain Nusantara, intinya apapun jenis dan tekniknya.  Meskipun menggunakan teknik kain Nusantara yang sudah didevelop ratusan tahun lalu, tapi kami harus punya ciri khas sendiri, bagaimana caranya? Ya kami mengembangkan sendiri, baik dari segi teknik, motif dan warna. Kami sudah mengolah kan batik kemudian tie dye. Sekarang saya sedang eksplorasi kain tenun yangbekerja sama dengan pengrajin di Bali. Tidak akan berhenti di batik, jumputan dan tie dye. Misalnya jumputan dari Palembang yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, nah, buat saya jumputan Purana harus keluar dengan sesuatu yang berbeda – fresh, modern, young sehingga bisa diterima oleh semua kalangan.

Apakah Anda (juga) merancang pakaian lain di luar batik, misalnya pakaian yang konsepnya casual?

Saat ada beberapa orang yang minta dibuatkan baju, biasanya mereka adalah pelanggan setia Purana. Itu sifatnya jarang-jarang saja. Saya punya komitmen, bahwa setiap produk yang keluar dari workshop Purana dan dilabeli Purana, harus ada unsur pengrajin kain lokalnya. Dan dibeberapa kesempatan, secara kebetulan ada nilai edukasi yang kami lakukan, orang selama ini berpikir bahwa batik itu motifnya, misalnya motif parang, dan ketika itu dilakukan melalui proses dipres orang tetap menyebut tetap batik, padahal itu salah kaprah. Nilai edukasinya adalah batik itu lebih kepada tekniknya. Batik itu berasal dari kata “amba” dan “nitik” dimana proses pembuatan motif, pewarnaan dan perintangan itu dikerjakan menggunakan malam, yaitu semacam wax.

Biasanya, Anda mendapatkan ide mendesain batik darimana?

Kebetulan saya suka travelling dan diving. Misalnya  ada motif tie dye yang terinspirasi saat saya diving, motif ikannya ada yang seperti itu. Karena ketika saya diving, saya berhadapan dengan berbagai macam kombinasi warna dan bentuk yang tidak akrab dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya saat diving saya selalu membawa kamera underwater  sebagai bahan referensi saat mendesain. Inspirasi lainnya datang saat saya mengadakan penelitian untuk proyek yang sedang saya garap. Saya terinspirasi dari motif-motif tegel yang ada di daerah Pekalongan. Dari situ mulai research mencari tegel-tegel yang lain untuk diwujudkan menjadi motif. Selain itu untuk motif retro batik yang pernah saya ciptakan, inspirasinya datang saat saya sempat kost di rumah pengrajin dan melihat sofa dan wallpaper yang sudah usang model tahun 60-70an. Mulailah saya riset motif-motif tahun 60 dan 70.

IMG_4102

Batik mengajarkan kesabaran bagi Nonita, baca di halaman berikutnya.


Post Comment