Now Reading
Motherhood Monday : Anastasia M. Cecilia, Perempuan di Balik Berdirinya Sekolah Rumah Kepik

Motherhood Monday : Anastasia M. Cecilia, Perempuan di Balik Berdirinya Sekolah Rumah Kepik

adiesty

Dan ketika sudah punya anak sendiri, tantangannya makin luar biasa, dong, ya?

Waaah…. iya pasti itu. Kalau dulu anak orang bisa kita pulangin, sekarang nggak bisa. Kerjanya 24 jam, Pak satpam juga kalah, ya, hahaha.

Dengan latar belakang pendidikan anak, ditambah punya sekolah, pernah terbersit rasa takut nggak kalau gagal dalam mendidik anak sendiri?

Banyak yang bilang ke saya, nggak kebayang gimana kalau saya sudah punya anak nanti, saya pun pernah membatin, “ Ya Tuhan, bagaimana ya kalau nanti punya anak sendiri.” Kalau sekarang saya memang sepertinya harus membuktikan kalau produk saya harus berhasil juga.

Ada hari-hari yang menjadi beban, ada hari-hari jadi pacuan buat saya sendiri. Masa di sekolah saya bisa mengajarkan anak-anak untuk bisa ini dan itu, sementara sama anak sendiri tidak bisa? Ya, seperti itu. Dan Tuhan itu juga ternyata maha baik, saya diberikan anak yang punya sedikit special needs. Dan Tuhan tahu mungkin ini memang ‘warna’ buat saya. Buat saya, sih, saya ini seperti sudah punya dua anak. Anak pertama Rumah Kepik, dan anak kedua, ya, Alvaro.

tasia2

Buat Anda sendiri, 5 tahun ke depan, akan seperti apa Rumah Kepik?

Untuk sekarang ini, saya sedang memikirkan bagaimana nantinya Rumah Kepik ini bisa menjadi prototype sekolah yang ada di sekitar sini. Atau paling tidak menjadi training center-nya para guru-guru. Itu yang masih ada dalam ide saya. Karena memang kepotong menikah, hamil, dan punya anak, ide tersebut memang masih ‘dikerangkeng’ dan belum saya lepaskan. Tapi memang sudah brain strom. Ibaratnya Rumah Kepik seperti ‘laboratorium’ para guru. Saya ingin menciptakan kualitas guru yang sesungguhnya. Kalau guru sudah oke, tentu murid didiknya akan bisa jauh lebih oke, kan?

Amiin… mudah-mudahan bisa terwujud, ya. Bagaimana denga time management?

Enaknya punya sekolah untuk anak-anak ya, saya masih punya banyak waktu untuk keluarga.  Ini semuanya tidak lepas dari time management. Ini juga yang saya tanamkan pada guru-guru di sini. Ketika pulang, ya urusannya langsung rumah. Setiap kerja, saya selalu mengajak anak. Karana saya tidak punya pengasuh. Di mana induk semangnya ada, di situ anaknya juga selalu ada.

Mungkin ini juga nggak terlepas dari idealisme saya. Ketika punya anak saya sudah memutuskan untuk mengurusnya sendiri. Anak jadi selalu saya bawa ke mana-mana. Sebenarnya ini hanya balik ke  pilihan saja, sih. Kalau memang dipikir-pikir lebih enak ada yang bantu urus anak, tapi inikan pilihan saya. Begitu kita sudah memutuskan apa pilihan kita, ya jalankan dengan segala konsekuensinya. Ketika suami sudah pulang kerja, saya pun sudah selalu ada di rumah. Hal ini juga yang saya tekankan pada guru-guru di sini, kerja di sini mereka juga tetap bisa menjalankan ibadah sebagai ibu dan istri.

Bisa dibilang Anda ini kan menjalankan beberapa peran, ya. Salah satunya sebagai guru. Nah, Anda itu tipe guru seperti apa?

Mungkin saya seperti pemain sirkus, ya, hahaha. Entertainer banget, deh. Jadi murid-murid mau apa? Mau main bola, bisa. Mau main badut-badutan juga bisa. Anak itu kan senangnya dengan sesuatu yang ‘meriah’ dan menyenangkan, jadi saya harus mampu seperti pemain sirkus.

Kalau sebagai sosok ibu dan isteri?

Mungkin sama. Karena selama ini saya memandang anak didik saya bukan anak-anak yang dititipkan ke saya, tapi seperti anak saya juga. Jadi untuk menjadi seorang ibu, saya cukup menghibur dan tentunya disiplin. Tanpa mengurangi level sisi ‘fun’ ke anak. Kalau suami saya bilang saya ini tipe perempuan yang senang diajak diskusi. Sudah lama menjadi guru, takut juga, sih, ketika menjadi istri jadi banyak menggurui. Jadi, saya memang perlu banyak belajar lagi untuk bisa diskusi dan jadi support system buat suami. Lucunya, suami saya bilang saya ini seperti Indovision, banyak channel-nya, mau drama ada, mau komedi ada, mau channel memasak ataupun pendidikan juga ada, hahaha.

Satu pertanyaan terakhir, menurut pandangan Anda, sosok ibu yang ideal itu seperti apa?

Pertanyaan ini cukup bikin deg-degan, lho, karena pada dasarnya semua Ibu pasti ingin jadi ibu ideal untuk anak-anaknya. Soalnya ideal saya dengan Mbak Adis itu pasti berbeda, kan… tapi, menjadi ibu itukan pilihan. Tentunya kita harus bisa memberikan rasa aman, nyaman, dan cinta yang besar untuk anak. Kita bisa mentrasfer ilmu yang kita punya pada si anak. Jadi orangtua itu kan nggak ada buku manual dan sekolahnya. Tapi ibu yang ideal menurut saya adalah ibu yang bisa dekat dengan anak tanpa perlu melupakan norma. Biar bagaimanapun, ‘jamu’ setiap keluarga itu kan beda-beda.

Saya ingin menjadi orangtua yang bisa diandalkan oleh anak dan membantunya untuk tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jwab, tangguh, berempati terhadap sesama dan tumbuh menjadi anak yang penuh cinta.

Wah, sepertinya apa yang menjadi harapan Mbak Tasia juga menjadi mimpi saya dan Mommies lainnya, ya. Yang jelas, saya beruntung mempunyai kesempatan untuk berbicang dengan istri dari Astarra M. Gabriel ini. Pembawaannya yang hangat, membuat waktu pertemuan selama 3 jam seperti hanya 30 menit. Banyak sekali insight menarik yang bisa saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga, apa yang saya rasakan juga bisa Mommies rasakan, ya.

Pages: 1 2
View Comment (1)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top