10 Kiat Mengajarkan Anak Lancar Bicara

Behavior & Development

mamul・26 Feb 2015

detail-thumb

Selama dua tahun pertama dalam masa pertumbuhannya, anak kami pernah mengalami hambatan dalam berbicara. Sejak awal ia mulai bisa ngomong hingga usianya mencapai dua tahun, Kakang, panggilan kami untuk Fadhlan, baru bisa melontarkan kata-kata seperti mama, papa, dan bawa. Selebihnya, hanyalah pelafalan huruf vokal layaknya aaaaa, iiiuuuuuu, dan sejenisnya yang ia ucapkan dalam nada yang panjang. Jujur saja, kondisi ini sempat bikin saya kelimpungan dan sedikit stress. Apalagi, Kakang juga selalu mengucapkan kata 'bawa' dalam setiap kesempatan. Baik saat menanyakan atau menunjuk pada sesuatu hal yang ingin ia ketahui. Pusing sendiri 'kan saat kita harus menerjemahkan apa maunya Kakang. Kalau diperhatikan, untuk anak seusianya, Kakang kurang cerewet.

K

 

Saya pun sempat ingin membawa Kakang ke klinik tumbuh kembang anak karena penasaran dan ingin tahu lebih detail mengenai keadaan anak saya. Meski jauh di lubuk hati, saya merasa bahwa Kakang tidak ada masalah, melihat caranya melafalkan huruf karena ia gampang meniru huruf-huruf yang saya kenalkan saat sedang bermain sambil belajar. Beruntung, tante dari pihak suami seorang lulusan psikologi. Jadi setiap kali kami pulang ke Bandung, saya sempatkan untuk berkonsultasi secara gratis dengan tante dan minta diberi petunjuk untuk mengatasi keadaan Kakang.

Menurut tante, apa yang dialami Kakang saat itu adalah hal yang normal, mengingat ia baru mengenal cara berbicara. Ditambah lagi, ia masih berusia kurang dari dua tahun. Penjelasan tante membuat saya lega. Satu pesan dari tante untuk saya dan suami, harus optimis saat mengajak Kakang berbicara serta ucapkan setiap kata yang keluar dari mulut kami secara perlahan dengan lafal yang jelas.

Saran dari tante menjadi pedoman bagi kami. Setiap kali berbicara dengan Kakang ataupun saat saya dan suami ngobrol berdua di hadapan kakang, kami berupaya melafalkan setiap kata dengan jelas dan perlahan. Intonasi yang digunakan juga tenang sehingga Kakang dapat memahami apa yang sedang dibicarakan oleh orangtuanya. Memang, sih, terkadang kami lupa pedoman ini. Untungnya, saya dan suami saling mengingatkan agar kembali melaksanakan saran tante untuk tetap mempertahankan bagaimana cara berbicara yang jelas.

Apa yang kami lakukan akhirnya berbuah manis. Yang saya ingat, Kakang mulai bisa menempatkan kata apa, kenapa, papa di mana, papa ke mana, sesuai dengan situasi yang ia maksud hingga akhirnya ia mampu menambahkan menjadi tiga kata dalam satu kalimat dan mulai bisa merangkai kalimat panjang. Bahkan, Kakang akhirnya mampu bercerita sesuai dengan keadaan yang ia alami atau lihat. Kemajuan yang sangat terasa ialah dia bisa merangkum apa yang saya ceritakan padanya dan ia ceritakan kembali menggunakan bahasanya sendiri. Hati ini mulai lega melihat perkembangan bicara Kakang yang mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

Selanjutnya: Kiat saya mengajarkan Kakang berbicara.

784658

Sebenarnya, apa yang kami lakukan selaku orangtua Kakang adalah hal yang bisa diterapkan oleh orangtua manapun. Bahkan, terkesan sebagai cara yang sederhana untuk mengajarkan Kakang berbicara. Jika ditarik kesimpulan, maka inilah beberapa pedoman yang kami lakukan saat mengajarkan Kakang berbicara, antara lain:

  • Lafalkan setiap kata yang kita ucapkan dengan jelas. Sebisa mungkin, ucapkan sejelas-jelasnya di hadapan anak.
  • Jaga intonasi suara saat sedang mengajak akan berbicara. Intonasi yang tenang dapat membuat anak memperhatikan kita. Gunakan intonasi suara yang riang atau enak didengar oleh anak.
  • Tatap kedua mata anak saat berbicara dengannya.
  • Jangan pernah memaksa anak untuk langsung bisa mengucapkan atau mengerti apa yang kita maksud saat itu juga.
  • Libatkan anak saat kita sedang berbicara dengannya. Buatlah omongan kita menjadi percakapan dua arah, di mana kita seakan-akan meminta respon dari anak. Jika hasil respon anak adalah anak hanya menjawabnya dengan satu atau dua kata, maka kita bisa menambahkan jawaban si anak. Tujuannya untuk memperjelas maksud dari omongan kita sehingga tercipta obrolan yang panjang.
  • Bisa menggunakan media buku bacaan anak atau lagu untuk mengajarkan anak berbicara. Saya sendiri merasa sangat terbantu dengan media buku bacaan yang berwarna warni serta musik yang enak didengar mampu menimbulkan minat “bicara” pada Kakang.
  • Jangan pernah merasa lelah mengajarkan anak untuk berbicara. Iya, sih, di awal masa pembelajaran ini, kita sebagai orangtua akan terlihat seperti radio karena terus menerus berbicara pada anak dan terkadang respon yang kita dapat dari si anak adalah respon yang singkat. Namun, semakin sering kita mengajaknya berbicara, semakin sering pula ia mendengarkan dan perlahan iapun mulai belajar dari cara berbicara kita.
  • Jangan membatasi diri pada percakapan yang itu-itu saja. Apapun bisa menjadi bahan percakapan yang menarik minat anak. Seperti contoh, saat mengajak Kakang berjalan pagi, saya selalu menceritakan tentang kendaraan yang lewat itu apa saja, warnanya apa, kemudian tumbuhan yang kami temui, siapa saja yang tadi saya sapa dan lain halnya. Pun langit yang berwarna biru menjadi menjadi bahan percakapan kami berdua saat sedang di rumah.
  • Jaga hubungan kerjasama dengan suami dalam mengajarkan anak berbicara. Dukungan dan kerjasama dengan suami dapat memudahkan proses pembelajaran anak.
  • Jika dirasa anak masih mengalami hambatan dalam berbicara, ada baiknya segera dikonsultasikan kepada ahlinya (bisa ke psikolog anak atau menghubungi seseorang yang ahli dalam tumbuh kembang anak).
  • Walaupun awalnya terasa melelahkan, namun manfaatnya sangat terasa. Bukan hanya tentang perkembangan cara berbicara Kakang yang mengalami peningkatan, kami juga merasa bahwa tingkat kesabaran kami berdua dalam menghadapi Kakang semakin bertambah. Sebagai orangtua, situasi ini juga mengajarkan kami agar menempatkan posisi pada Kakang. Mengajarkan untuk tidak menjadi egois, karena kami berusaha untuk berbicara perlahan dan jelas di hadapan Kakang. Otomatis, tidak seenaknya saat berbicara di depan Kakang. Pilah-pilih kata dan berusaha menguraikan kata hingga menjadi kalimat, membuat saya dan suami menjadi lebih kreatif dalam mengajak Kakang berbincang.

    Sekarang, Kakang berusia empat tahun. Tingkat kecerewetannya mulai menyamai saya. Semua orang yang mengenal Kakang pun berpendapat bahwa Kakang yang sekarang sangat berbeda dengan Kakang yang dulu. Jika dulu ia agak susah berbicara dengan orang lain hingga akhirnya ia memilih untuk diam seperti menutup diri, sekarang Kakang bisa mengajak orang lain untuk mengobrol lebih dulu dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Tante yang menyarankan banyak hal pada kami dalam mengajarkan Kakang bicara pun menyadari perubahan cara berbicaranya yang lebih berkembang.

    Banyak pelajaran yang bisa dipetik setelah menjadi orangtua. Salah satunya adalah untuk terus belajar memahami keadaan anak-anak kita. Bagi kami berdua, mengajarkan Kakang berbicara adalah satu hal di mana kami “dituntut” untuk belajar memahami keadaan Kakang yang pada saat itu kurang bisa berbicara dengan benar. Ke depannya, mungkin ada banyak hal yang akan kami pelajari dalam memahami keadaan Kakang selanjutnya. Yang pasti, tidak mudah menyerah dan selalu sabar dalam menghadapi keadaan anak-anak kita, apapun situasinya.