Dari Mama, Untuk Sanju Di Surga

Pregnancy

intan.maulida・07 Jan 2015

detail-thumb

Nak..

Apa kabar? Ini Mama.. Mama sangat rindu sama Sanju.. Sanju sehat-sehat kan? Baik-baik kan? Mama harap Sanju bahagia dan selalu dalam lindungan Allah..

Newborn-8*Gambar dari sini

Nak..

Sepanjang hidup Mama, Mama selalu berpikir (dan selalu berusaha menganggap) bahwa Mama adalah orang yang bahagia. Alhamdulillah, nikmat Allah begitu banyak dan tak ada satupun yang patut Mama dustakan. Bahkan semua masa lalu, masa kelam, pengalaman-pengalaman buruk, semua Mama anggap hadiah dari Allah, agar Mama belajar menjadi manusia yang lebih baik. Intinya, Mama bahagia. Saat Papamu mengajak menikah, kebahagiaan Mama berlipat ganda. Papamu yang baik, sabar, tulus.. sungguh Mama merasa sebagai perempuan paling bahagia di dunia..

Ketika tak lama kemudian kamu hadir, Mama dan Papa sampai pada puncak bahagia yang tak pernah kami rasakan sebelummya, sehingga kami bingung harus bereaksi bagaimana ketika membaca hasil testpack. Bahagia yang membuncah menguasai hati kami sehingga Mama merasa jantung Mama hampir meledak. Bahagiaaa sekali Nak, membayangkan Insyaallah tak lama lagi, seorang bayi, cahaya mata Mama dan Papa, akan hadir ke dunia. Seketika itu juga Mama dan Papa sepakat memanggilmu Sanju, kependekan dari Sandy Junior. Mama sama sekali tak keberatan kamu dipanggil dengan nama Papamu, karena Mama memang sangat berharap kamu mewarisi kepribadian Papamu, dan kalau bisa, warna kulitnya juga. hehehe..

Kehadiranmu dalam perut Mama adalah pengalaman yang sangat sangat sulit dilukiskan. Mendadak hidup Mama berubah. Mual dan pusing terasa begituu nikmat. Nyeri tulang ekor yang Mama rasakan ketika kamu mulai tumbuh besar pun terasa begituuu membahagiakan, karena Mama tahu, semua sakit itu adalah pertanda bahwa kamu tumbuh dengan baik..

Setelah melewati masa-masa 3 bulan pertama, Mama mulai enak makan, karena mual yang semakin berkurang. Namun ada yang aneh, Mama jadi cintaaaa sekali sama buah Pir. Mama bisa menghabiskan 1kg Pir dalam sehari, sampai Papamu geleng-geleng kepala. Sebaliknya, Mama jadi benciii setengah mati sama nasi, mencium aroma nasi yang sedang dimasak pun bisa membuat kepala Mama serasa berputar-putar. Namun demikian, Mama berusaha untuk menggantikan nutrisimu dengan jenis makanan lainnya, sayuran, buah, vitamin, susu, roti, apapun nak, yang penting kamu sehat..

Ketika umurmu memasuki 16 minggu, teman-teman Mama mulai berkomentar tentang kepribadian Mama yang mendadak aneh. Mama yang dikenal tukang dandan di kantor, sedikit demi sedikit mulai terlihat cuek. Mama tak pernah lagi memakai riasan mata. lama kelamaan, lipstik pun mulai lupa Mama pakai. Beberapa minggu kemudian, Mama mulai berangkat kantor hanya dengan pulasan bedak tipis, dan jilbab asal kancing. Semua aksesori kewanitaan tak terjamah lagi oleh Mama. Awalnya Mama tak menyadari ada yang aneh, sampai teman-teman kantor Mama mulai protes. dan bukan itu saja, Mama pun mulai agak galak. hehehehe.. Teman-teman Mama memprediksi Mama mengandung anak laki-laki.

Saat usiamu 20 minggu, hasil USG menunjukkan bahwa Mama sedang mengandung anak laki-laki. Wah, Mama bahagiaa sekali. Papa juga. Kebahagiaan kami terus berlanjut..

IMG_9447

Kami memang berharap kamu lahir sehat dan selamat, tak peduli apapun jenis kelaminmu. Paman-pamanmu juga tak kalah semangatnya. Yang satu tak sabar ingin mendaftarkanmu di Klub Tarung Drajat, dan satu lagi ingin mendaftarkanmu ke Klub Liverpool. The grandparents? Semua berebut ingin membelikanmu peralatan bayi.

Namun di tengah kebahagiaan itu, Allah menguji kita, kakekmu jatuh sakit dan beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Mama, Papa dan nenekmu mondar-mandir bergantian menjaga kakekmu di rumah sakit. Awalnya semua baik-baik saja, sampai Mama mengalami pendarahan.. Ya Allah nak, Mama takuuuttt sekali. Mama takut sekali terjadi apa-apa pada kamu. Menuruti perintah dokter, Mama pun beristirahat di rumah, bahkan Mama dilarang ke rumah sakit menjenguk kakek karena Mama harus bedrest. Alhamdulillah, setelah beberapa kali dirawat, kakekmu bisa pulang ke rumah, walau kondisinya masih lemah. Mama pun berkurang stresnya.

Nak,

Memasuki usiamu 22 minggu, rumah kita mulai rame, ada banyak sekali acara adat yang diselenggarakan untuk menyambutmu. Mulai dari 7 bulanan yang mengundang nyaris semua handai taulan dan tetangga, sampai acara 7 bulan khusus keluarga besar, dan acara 7 bulanan khusus keluarga inti. Semua kita jalankan dengan hati bahagia, begituuu banyak orang yang mensyukuri kehadiranmu Nak.. Mama dan Papa apalagi, kami seperti terbang ke langit saking bahagianya.

Tak terasa, kamupun bertambah besar. Usiamu sudah 27 minggu. Mama menyimpan semua poto USG-mu. Pertumbuhanmu bagus, organ-organmu lengkap, jaringan otakmu normal, dan kamu aktif sekali. Ini adalah masa-masa paling membahagiakan bagi Mama dan Papa. Kami membacakan ayat-ayat Al Quran sebelum tidur, agar kamu tidur nyenyak. Kami juga mulai membahas pola pengasuhanmu nanti. Namun yang paling membahagiakan adalah kamu punya respon yang sangat baik. Setiap Papa mengelus perut Mama, kamu menendang-nendang dengan kuat, begitu juga setiap kali Mama memanggil namamu, kamu bergerak lincah. Mama bahagiaaa sekali setiap merasakan gerakanmu. Sangat-sangat bahagia.

Ketika usia kandungan Mama 27 minggu, Mama mengalami gatal-gatal di sekitar perut. Beberapa orang mengatakan bahwa itu sangat wajar, karena perut yang membesar menyebabkan kulit mulai pecah dan membentuk selulit, selulit itulah yang mengakibatkan gatal. Semakin hari, gatalnya semakin parah. Bercak merah bentol-bentol seperti digigit semut mulai muncul di perut Mama. Kebetulan itu sudah waktunya kamu cek di dokter, maka Mama dan Papa pun pergi ke dokter kandungan yang kata teman-teman Mama alat USG-nya lebih bagus dari dokter yang biasa Mama kunjungi. Sekalian ingin melihat kondisimu dan berkonsultasi tentang hal-hal lainnya.

Setelah di USG dan diperiksa seperti biasa, dokter menanyakan apa keluhan Mama. Mama menyampaikan keluhan tentang kulit perut mama yang gatal-gatal. Seperti orang-orang lain juga, dokter mengatakan itu semua wajar. Mama tanya lagi, kalau sudah gatal menjurus pedih, dan muncul bercak kemerahan sampai bentol-bentol apa masih wajar? Dokter tetap mengatakan itu wajar, pakai minyak zaitun saja yang banyak, katanya. Keesokan harinya, gatal pedih dan bentol-bentol merah itu mulai menjalar ke paha dan lengan. Mama pun mulai curiga, ini pasti bukan gatal biasa. Maka Mama mengajak Papa ke dokter kulit. Mama malas ke ke dokter kandungan lagi, karena Mama tak suka diperlakukan seolah-olah hanya bisa mengeluh. Dokter kulit memeriksa kulit Mama, dan memberikan krim oles yang aman bagi kehamilan, untuk meredakan gatal. Krim itu lumayan membantu, tidak menyembuhkan, namun Mama jadi bisa tidur karena gatalnya berkurang.

Belum sembuh keluhan di kulit, memasuki 28 minggu kurang 3 hari, Mama merasakan sakit perut yang tak biasa. sakit yang menusuk, di perut kanan bawah. Karena masih sakit ringan, Mama membiarkan saja, namun besoknya sakit itu semakin terasa. Mama khawatir itu usus buntu, maka Mama dan Papa pergi ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter berkata itu tak masalah, orang hamil biasa sakit ini dan itu katanya, dan Mama tak boleh mengeluh. Walaupun Mama agak tersinggung diperlakukan seolah-olah Mama pura-pura sakit, namun Mama pun agak tenang karena dokter bilang kamu baik-baik saja dan dari rumah sakit Mama langsung ke kantor.

Malamnya, Mama kesakitan. Sakit perut itu semakin menyebar. Awalnya ringan, namun semakin lama semakin sakit. Saat itu Mama berpikir mungkin kontraksi palsu. namun Mama tak bisa tidur, karena kontraksinya mulai teratur, 25 menit sekali. Nak, Mama banyaak sekali membaca artikel sejak awal kehamilan, dan saat itu Mama tahu, bahwa kontraksi yang Mama rasakan, bukanlah kontraksi palsu. Pagi itu juga, Papa dan Mama berusaha menghubungi hampir semua dokter kandungan di Banda Aceh, tapi mereka semua sedang ikut simposium di Medan. Papa kemudian membawa Mama ke salah satu rumah sakit swasta terbesar di kota ini untuk diperiksa. Kontraksi semakin intens disertai flek. Mama panik.

Setibanya di rumah sakit, para bidan yang menangani Mama hanya memeriksa denyut jantungmu dengan alat yang didekatkan ke perut Mama, kemudian berkata bahwa kamu baik-baik saja. Mama hanya berlebihan, sakit seperti ini biasa bagi orang hamil, dsb dsb. Mama mengatakan bahwa Mama mengalami flek dan kontraksi teratur, namun hanya ditanggapi dengan "Ibu cuma kecapekan, biasa itu, pasti semalam habis begitu-begituan yaa". Sumpah Nak, Mama marah sekali mendengar itu. Mama memang bukan dokter, tapi Mama adalah pemilik badan ini dan Mama bukan seorang pengeluh, Mama tahu kondisinya tidak seringan itu, Mama tahu ada yang tak beres, namun Mama tak bisa berkata apa-apa karena menahan sakit. Setelah para bidan menelpon dokter kandungan yang biasa menangani Mama (mereka yang menelpon dan bicara pada dokter, bukan Mama yang menyampaikan keluhan Mama sendiri pada dokter), Mama diberikan obat anti kontraksi dan disuruh pulang untuk bedrest. Mama berkeras ingin dirawat, namun para bidan itu meyakinkan Mama bahwa hal seperti ini biasa terjadi.

Pulang ke rumah, Mama mencoba istirahat, namun tak bisa karena Mama sangat kesakitan, kontraksi mulai berjarak 15 menit sekali, dan flek sudah berubah menjadi darah. Mama dan Papa mencoba tetap positif, dengan minum obat anti kontraksi yang diberikan tadi. Namun kontraksi semakin intens, akhirnya Mama memohon untuk dibawa lagi kerumah sakit. Papa berusaha mencarikan dokter kandungan, karena Mama tak percaya lagi pada bidan apapun. Akhirnya Papa menemukan seorang dokter yang bisa segera memeriksa Mama.

Setelah diperiksa keadaan umum dan USG, ternyata firasat Mama benar Nak, yang Mama rasakan sejak kemarin adalah tanda akan melahirkan. "Tak mungkin kontraksi muncul tiba-tiba langsung intens, apalagi anak pertama. Ini pasti sudah berlangsung paling tidak 2 hari", kata dokter. Hasil tes menunjukkan leukosit yang agak tinggi, tanda bahwa Mama mengalami infeksi. Mama curiga infeksi itu berasal dari infeksi kulit, yang kemudian entah bagaimana akhirnya menyebabkan kontraksi. Dokter mencoba segala cara untuk menghentikan kontraksi. Injeksi pematang paru, anti kontraksi, antibiotik, dan segala macam jarum dimasukkan kedalam tubuh Mama. Sakit ditusuk-tusuk jarum sudah tak terasa lagi karena Mama bersedia melakukan apapun, apapun Nak, yang penting kamu baik-baik saja.

Kelahiranmu yang datang lebih cepat...

boise_lifestyle_photographer0111*Gambar dari sini

Setelah 40 menit berusaha, kondisi Mama tidak membaik, kontraksi sudah nyaris tak bersela, Mama mulai menangis kesakitan, dan dokter memutuskan untuk memeriksa dilatasi. Hasilnya, terlambat, bukaan sudah sempurna, kamu harus segera dilahirkan. Hari itu, 18 September 2013, kamu, anak Mama, yang kami panggil Sanju, lahir dengan proses persalinan normal.

Tangisanmu meledak sesaat setelah kamu lahir, tangan dan kakimu bergerak-gerak melawan ketika digendong oleh dokter. Mama hanya melihatmu sedetik, ketika dokter kandungan menyerahkanmu ke dokter anak untuk dilarikan ke NICU. Kamu begitu mungil.. kecil.. 1,2kg, namun tangisan dan gerak tubuhmu memberi Mama dan Papa harapan besar. "Anakku prematur, kecil, namun lengkap dan sehat, dia akan bertahan, insyaallah", begitulah suara dalam benak Mama. Papa terlihat sangat bahagia, berkali-kali Mama mendengarnya mengucap syukur. Dan Mama? saking bahagianya Mama sampai tak merasa sakit ketika dokter melakukan jahitan episotomi.

Malam itu Mama tak bisa tidur sama sekali. Mama teringat Sanju.. Mama ingin sekali menggendong dan segera menyusui Sanju, tapi Mama tahu, bahwa NICU adalah tempat terbaik bagi Sanju saat itu. kamu butuh perawatan ekstra dan pengawasan penuh. Mama menghabiskan malam dengan bersyukur dan berkhayal, jika kamu sudah stabil dan boleh dibawa-bawa, Mama ingin sekali membawamu ikut bersama Mama ke tempat-tempat pengajian Nak.

Esok paginya, 19 September, nenekmu pulang ke rumah setelah semalaman menginap dirumah sakit, beliau punya kewajiban lain dirumah, kakekmu masih butuh perawatan. Papa menerima telpon dari NICU, meminta Papa datang ke rumah sakit. Mama ketakutan setiap kali mendengar dering telpon, Mama takut telpon itu membawa kabar buruk. Namun wajah Papa tenang, maka Mama tenang. Tak lama kemudian Papa kembali dan mengatakan dokter memanggilnya untuk meminta persetujuan memasang alat bantu nafas yang lebih canggih padamu, karena kamu terlalu kecil, paru-parumu belum mampu bernafas walau sudah dibantu dengan alat nafas yang regular. Mama bertanya tentang keadaanmu, dan Papa bilang kamu sehat, tak henti-hentinya bergerak, matamu terbuka lebar dan melihat ke sana ke mari. Papa, dengan ditemani kakekmu yang satu lagi, bahkan sudah membeli beberapa peralatan mandi dan selimut (warna pink, karena itu warna kesukaan Mama, padahal tahu anaknya laki-laki.hehe) dan mengantarnya ke NICU. Papa tak diperbolehkan lama-lama bersamamu, karena kamu di bawah pengawasan dokter.

Menjelang siang, Papa menerima telpon lagi dari NICU. Mama tak berprasangka apa-apa, namun wajah Papa berbeda. Papa menerima telpon itu di luar kamar perawatan Mama. Papa menyampaikan bahwa kondisimu memburuk. Paru-parumu tetap tak mampu bekerja walau sudah dibantu alat, dokter meminta kami berdoa yang terbaik. Mama ketakutan setengah mati Nak. Mama mulai menangis. Papa juga. Kami berdoa dan memohon pada Allah untuk memberimu kesempatan hidup, kesempatan bagi Mama dan Papa untuk melihatmu tumbuh besar. Namun 30 menit kemudian dokter mengabarkan bahwa kamu sudah berpulang..

Dunia Mama seakan runtuh hari itu itu. hati Mama hancur, Mama berteriak-teriak tanpa sadar. Papamu berusaha menenangkan Mama, namun Mama sudah setengah sadar. Entah beberapa jam kemudian Mama baru sadar sepenuhnya, ketika Mama sayup-sayup mendengar Papa berkata akan pulang ke rumah untuk memakamkanmu. Papa menanyakan sesuatu, yang Mama jawab dengan gelengan, walau Mama tak paham apa pertanyaannya. Mama memohon pada dokter untuk pulang, namun dokter tak mengizinkan karena kondisi fisik Mama yang lemah dan mental yang tak stabil. Papamu pulang setelah menitipkan Mama pada kerabat.

Setelah 2 malam dirawat, Mama akhirnya bisa pulang. Kakekmu dari pihak Papa beserta beberapa anggota keluarga menjemput Mama dari rumah sakit. Setibanya dirumah, orang-orang masih ramai yang melayat. Semua menangis, meyalami Mama, menyemangati Mama. Mama berusaha tegar di depan orang lain. Mama tak ingin menangis di depan orang lain. Mama berusaha terlihat kuat. Saat itu, Mama bertanya pada Papa, mengapa sebelum dimakamkan, Sanju tak dibawa keruang perawatan dulu untuk bertemu Mama. Papa menjawab, itu pilihan Mama. Mama yang menolak ketika ditawarkan untuk melihat Sanju. Ah Nak, ternyata itu pertanyaan Papamu sebelum ia pulang. Mama setengah sadar waktu itu, sehingga menjawabnya dengan gelenganpun Mama tak ingat.

Hanya Papamu dan Allah yang tahu, betapa setiap malam Mama tak bisa tidur karena menangis. Saat itu Mama marah. Marah pada dokter di rumah sakit A yang mengatakan Mama hanya berlebihan. Marah pada bidan-bidan di rumah sakit B yang mengatakan semua normal-normal saja. Marah pada semua dokter kandungan yang pernah Mama datangi selama hamil namun tak ada ketika dibutuhkan. Mama marah pada diri sendiri yang masih saja melakukan pekerjaan-pekerjaan fisik yang berat padahal sedang hamil. Mama marah pada diri sendiri yang selama hamil seringkali stres memikirkan pekerjaan dan kondisi kakekmu.

Setelah fase marah berakhir, Mama mengalami fase menyesal. menyesal karena merasa bersalah atas kematianmu. Menyesal karena merasa sudah menjadi ibu yang buruk. Mama menyesal dan menyalahkan diri Mama sendiri atas semua yang terjadi. Dan semua fase-fase itu Mama jalani sambil menangis. setiap malam. Mama berhenti menangis karena Papamu, sambil menangis, meminta Mama berhenti.

Firasat yang hadir sebelumnya..

IMG_9436

Sayang, satu hal yang selama ini belum pernah Mama sampaikan kepada siapapun, termasuk Papamu adalah, ketika hamil, Mama punya firasat, bahwa Mama akan kehilanganmu. Mama masih ingat dorongan-dorongan yang kuat dalam diri Mama yang membuat Mama seringkali membuka-buka blog tentang ibu yang kehilangan bayinya, dan bagaimana ia bisa tegar. Seringkali Mama tiba-tiba entah bagaimana caranya, menemukan ayat-ayat tentang iman-iman yang diuji. Mama ingat, ketika kamu 20 minggu dalam kandungan, Mama memohon pada Papa untuk pergi ke toko perlengkapan bayi dan membeli perlengkapan untukmu. Kata Papa "Masih juga 5 bulan, jangan buru-buru", Mama menjawab "Takut nanti nggak sempat lagi". Entah darimana jawaban itu datang, Mama mengucapkan itu tanpa berpikir. Terucap begitu saja.

Termasuk ketika beberapa kali USG, kamu selalu menyembunyikan wajahmu. Ketika akan dimakamkanpun, tanpa sadar mama menolak untuk melihatmu. Setelah kamu berpulang baru Mama tahu, itulah firasat.. Ah Allah memang Maha Tahu, Ia pasti tahu bahwa jika Mama melihatmu, akan semakin sulit bagi Mama untuk Ikhlas..

Allah memang tak akan membiarkan hamba-Nya terpuruk terlalu lama. Allah mengirimkan seorang kerabat untuk menasihati Mama. Beliau datang ke rumah untuk merawat Mama setelah melahirkan. Ummi berkata bahwa saat ruh manusia ditiupkan, di dalam rahim, Allah menunjukkan kepada setiap kita sebuah presentasi, mengenai hidup kita, takdir kita, dan skenario apa yang akan kita jalani dalam hidup. Kemudian Allah memberi kita pilihan, untuk melanjutkan hidup atau kembali kepada Allah sebelum terlanjut berbuat mungkar.

Dan kamu, Sanju, memilih untuk berpulang. Sejak kamu meninggal, Mama sudah mendengarkan banyak sekali nasihat-nasihat dan petuah, namun nasihat Ummi adalah yang paling mengena di hati Mama. Mengetahui bahwa Allah memberimu pilihan, dan kamu menjalankan apa yang menjadi pilihanmu, membuat Mama sedikit lega. Mama sayang sama Sanju, Papa sayang sama Sanju, namun Allah lebih sayang, sehingga Allah menawarkan pilihan untuk menjagamu dengan tangan-Nya sendiri, dan kamu menyetujuinya..

Nak, 9 bulan sudah sejak kamu mengambil pilihanmu. Mama dan Papa merindukanmu setiap saat. Mama teringat padamu setiap Mama melihat bayi. Terkadang di saat iman Mama sedang fluktuatif, perasaan marah dan menyesal masih kadang-kadang muncul. Namun Mama selalu dikuatkan. Papamu Nak, adalah tokoh di balik ketegaran Mama.

Sanju anakku, Mama yakin kamu tahu bahwa Mama mencintaimu terangat sangat. Mama yakin kamu mencintai Mama juga. Mama yakin kamu tahu bahwa Mama dan Papa sudah berusaha sebaik-baiknya menjagamu. Namun nak, Mama tetap ingin meminta maaf. Maafkan Mama jika tanpa Mama sadari, Mama membebanimu. Maafkan Mama nak, yang seharusnya lebih kuat menjagamu, mempertahanmu, membela hak Mama dan hak kamu untuk mendapatkan pengobatan terbaik. Maafkan Mama Nak..

Sayangku, cinta dan sayang Mama kepada Sanju takkan cukup dituliskan pada berapa halamanpun. Cinta Mama pada Sanju jauh lebih besar dari apa yang Mama tuliskan di sini. Mama mungkin tak sempat melihat, menggendong dan menciummu, namun Mama yakin Sanju paham perasaan Mama, sedalam apa cinta Mama..

Cinta Mama lah yang membuat Mama akhirnya ikhlas melepas Sanju. Cinta Mama lah yang membuat Mama tegar bertahan. Cinta juga menghadirkan kamu di rahim Mama. Mama dan Papa mempercayakanmu pada Allah, Ia akan menjagamu dengan baik, menjadikanmu malaikat kecil shaleh dan menempatkanmu di syurga-Nya.

Nak, hari-hari Mama dan Papa masih sepi, kami menanti hadirnya adik-adikmu. Semoga Allah berkenan mempercayakan Mama dan Papa anak-anak yang shaleh dan shalehah. kepada mereka nanti akan Mama dan Papa ceritakan kisah tentangmu. Tentang Sanju, abang mereka yang kuat dan hebat.

Baik-baiklah di sana Nak.. Mama cinta Sanju..