Persiapan Untuk Para Calon Ibu!

mom to be2Gambar dari sini

PASCA MELAHIRKAN

Cari dan Nikmati Ritmenya

Sesampainya di rumah, rutinitas mengurus jabang bayi dimulai. Di satu bulan pertama saya belum menemukan ritme yang pas dari aktivitas ke aktivitas lainnya (boleh dibilang masa-masa paling sulit untuk adaptasi diri menjadi ibu baru), alhasil saya sempat terkena baby blues syndrom di mana perasaan ini semacam berkecamuk – bahagia, sedih, dan letih bercampur jadi satu. Solusi yang memungkinkan saat itu adalah sharing dengan suami, ibu atau sahabat terdekat yang sudah terlebih dahulu berpredikat sebagai ibu.  Jangan malu jika harus menangis, luapkan saja emosi Mommies, pada akhirnya Mommies akan merasakan efek “the power of sharing” – sebagian ruang di relung hati lega karena “sampah” telah lenyap. Perlahan tapi pasti saya mulai menemukan ritme mengurus seorang bayi mungil dan mulai menikmatinya, terutama saat umur Jordy menuju dua bulan.

Asupan Makanan

Di poin ini saya sempat kewalahan, di sela-sela kehebohan mengurus Jordy saya juga harus fokus memperhatikan asupan gizi yang seimbang untuk diri saya, demi produksi ASI yang lancar. Akhirnya saya jujur kepada orang rumah bahwa saya memerlukan bantuan mereka, karena melahirkan melalui operasi caesar maka pada sebulan pertama saya belum diperbolehkan beraktivitas berat. Dikarenakan tidak asisten rumah tangga yang menginap atau pengasuh, akhirnya orang rumah membuat jadwal memasak, bergantian antara Mama atau Papa saya.

Solusi ini pun saya rasakan cukup efektif. Setelah satu bulan pertema terlewati, saya  mulai rajin memasak, itu pun dengan syarat saat Jordy sudah tertidur pulas. Nah, ini erat kaitannya dengan kepatuhan kita dengan jadwal menjemur, memandikan dan menyusui. Jika sudah bisa mematuhi jadwal-jadwal tadi, artinya Mommies juga memiliki kesempatan untuk melakukan kegiatan lainnya. Walaupun pada akhirnya, jasa delivery service adalah pilihan terakhir yang paling logis saat situasi dan kondisi tidak memungkinkan memasak sendiri :D

Libatkan Pasangan

Namanya juga parenting, artinya harus ada unsur kerja sama istri dan suami. Walau secara alamiah – naluri seorang ayah dari pasangan kita juga akan membantu proses mengurus si kecil, tapi tetap jangan segan untuk meminta bantuan suami. Apalagi jika kondisinya kedua belah pihak baru pertama kali menjadi orangtua, pasti ada kekurangan di sana-sini. Dibutuhkan peran komunikasi dua arah, yang berwujud saling pengertian dan saling mengingatkan.

Misalnya adalah, meminta tolong kepada suami untuk mengingatkan saya perihal asupan minum dan makan yang proper setiap harinya. Walau terdengar sangat sederhana, nyatanya cukup ampuh membuat saya merasa diperhatikan. Sampai-sampai, hingga detik ini suami saya masih rajin membawa aneka macam makanan usai pulang kantor.

Kita semua tentu sudah tau ya, faktor apa saja yang dapat membuat ASI berlimpah. Salah satu hormon yang berperan besar terhadap keluarnya ASI adalah hormon Oksitosin. Hormon Oksitosin adalah hormon cinta, hormon kasih sayang. Bagaimana hormon ini dapat bekerja dengan maksimal? Apabila ibu dalam keadaan bahagia, nyaman, tenang, merasa diperhatikan dan dicintai, atau perasaan-perasaan positif lainnya. Di poin hormon Oksitosin inilah saya mengingatkan suami bahwa, perasaan bahagia dapat membantu saya memproduksi ASI yang maksimal. Tak lupa sebelum melahirkan saya rajin ngobrol mengenai hal ini dengan suami. Efeknya?  Suami selalu ingat untuk berusaha menjaga perasaan saya, agar tetap bahagia! :D

Bagaimana dengan Mommies? Bagi dengan kami apapun cerita, pengalaman atau kiat Mommies menjadi ibu baru, karena pasti bisa membantu para Mommies to be di luar sana :)