Main Games Ada Positifnya!

children-playing-videogames

Tahun 2014 ini, UI kembali memberi penghargaan Mahasiswa Berprestasi untuk mahasiswa yang dianggap berprestasi baik di bidang akademis maupun non-akademis. Gelar Mapres tahun ini diraih oleh mahasiswa Fakultas Hukum, sebut saja X, bahkan sekarang ia terpilih menjadi Mapres Nasional. Percaya nggak Mommies, ternyata salah satu faktor pendukung di balik kesuksesannya adalah games lho. Kok bisa?

X ini berasal dari keluarga yang kaya raya, namun keluarganya mengalami kebangkrutan hingga jatuh miskin. Untuk mengatasi kegundahan hatinya, ia sering bermain video games. Hingga akhirnya dari games tersebut, ia mendapat pembelajaran bahwa pihak yang kalah pada akhirnya dapat bangkit kembali. Ia pun berpikir, “Aku seharusnya juga bisa seperti itu.” Bangkitlah X dari kegundahan hatinya dan terus berjuang hingga akhirnya berhasil masuk UI dan menjadi Mapres Nasional. Hebat sekali ya?

Jadi, video games tidak selamanya buruk dong? Ternyata memang tidak Mommies. Salah satu penelitian yang termuat di American Psychological Association menyebutkan bahwa video games dapat mendukung pembelajaran, kesehatan, dan keuntungan sosial.

Penelitian yang dilakukan oleh psikolog perkembangan anak, Isabela Granadi dkk menunjukkan bahwa apabila selama ini video games dianggap membuat malas, ternyata bermain video games dapat meningkatkan beberapa kemampuan kognitif. Kemampuan kognitif tersebut antara lain, navigasi spasial, pemahaman, dan memori & persepsi. Video games yang dapat meningkatkan beberapa kemampuan kognitif tersebut adalah permainan tembak-tembakkan. Walaupun permainan tersebut mengandung kekerasan, penelitian yang dilakukan pada tahun 2013, menunjukkan bahwa bermain video games dapat membuat individu membayangkan objek dalam bentuk 3 dimensi yang sama baiknya dengan lulusan sekolahan yang khusus mempelajari bidang tersebut.

Bermain video games juga dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah yang baik. Berdasarkan hasil penelitian jangka panjang, remaja yang suka bermain video games yang membutuhkan strategi, seperti permainan role-playing, menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan nilai sekolah.

Permainan video games yang mudah diakses dan cepat dimainkannya, seperti Angry Birds, dapat meningkatkan mood pemainnya; memberikan relaksasi; menghilangkan kecemasan. Sehingga video games dapat memberikan keuntungan secara emosional. Selain itu,  Isabela juga menekankan adanya kemungkinan video games menjadi alat yang efektif untuk belajar resiliensi dalam menghadapi kegagalan, yang dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Poin ini sesuai dengan kisah Mapres tadi itu ya Mommies.

Stereotip yang sering beredar di masyarakat adalah gamer seringkali mengisolasi dirinya dari lingkungan sosial sekitarnya. Ternyata, 70% gamers bermain dengan teman dan jutaan orang lainnya yang berpartisipasi di video games virtual seperti Farmville. Sehingga orang yang bermain video games, bahkan video games yang berbau kekerasan, menjadi terdorong melakukan kooperasi dan cenderung senang membantu orang lain ketika sedang bermain.

Setelah baca artikel ini, jangan terlalu keras lagi melarang anaknya bermain PS atau video games lainnya ya Mommies. Mungkin sebaiknya hanya dibatasi saja waktu bermainnya dan untuk tidak mencontoh perilaku yang berbau kekerasan. Namun, selama bermain sebaiknya tetap diawasi dan dibimbing ya Mommies :D


Post Comment