Now Reading
Budgeting, Kunci Keuangan Aman-Nyaman

Budgeting, Kunci Keuangan Aman-Nyaman

money_post*Gambar dari sini

Pembagian ini menyisakan kami pos-pos berikut:

1. Dompet di rumah (untuk hal-hal yang sifatnya bulanan dan rutin)

2. Dompet di kantor/rekening payroll masing-masing (untuk makan siang)

3. Dompet di mobil (because we literally spent 5 to 8 hours a day on the road. Jadi ini untuk kebutuhan selama kita di jalan: makan, parkir, tol)

4. Rekening kesehatan (untuk membayar jasa kesehatan di luar coverage asuransi dari kantor)

5. Rekening belanja bulanan dan mingguan

6. Rekening reimburse (untuk bayar credit card)

7. Rekening dana darurat

8. Rekening belanja tersier (sifatnya akumulatif, jadi kalau jatah bulan ini gak dipakai, bulan depan jatah belanjanya lebih besar. Selama ini, sih, saya belum pernah berhasil mengakumulasi… hiks!)

9. Rekening untuk ‘belanja’ reksadana.

Jujur aja, nggak semua rekening itu rutin diisi setiap bulan (misalnya rekening belanja tersier *sigh*) karena memang jatah bulanannya tidak selalu ada. Yang penting, posnya sudah ada supaya tidak tercampur dengan jatah pengeluaran yang lain.

Langkah terakhir, ya tinggal praktik. Dan ini yang paling ‘menantang,’ hehehe….

Sampai sekarang, saya dan suami masih suka berdiskusi bagaimana arus uang atau pembayaran yang paling efektif dan efisien. Kami bahkan suka bertukar peran meng-handle urusan cashflow, sengaja, supaya bisa sama-sama merasakan bagaimana susahnya jadi menteri keuangan keluarga, hehe.

Pastinya, setelah dijalankan, selain tantangan konsisten menerapkannya, juga timbul banyak pertanyaan. Misalnya, kenapa yah, adaa aja pengeluaran yang nggak ‘masuk’ ke dalam kategori-kategori di budget kita.

Saya baca di artikel ini, hal inilah yang kerap membuat orang berhenti menggunakan budgeting. Sebenarnya hal ini wajar, dan mudah kok untuk diperbaiki. Kita hanya perlu membuat kategori “Miscellaneous” untuk jenis pengeluaran yang macem-macem itu, atau yang suka muncul pada bulan atau tahun tertentu. Atau, kita bisa melakukan evaluasi ulang untuk menemukan pengeluaran yang mungkin kita underestimate angkanya.

Masih dari artikel yang sama, “Over time you’ll find that your budget more closely reflects your spending patterns, so long as you are honest with yourself about where the money goes.”

Kesimpulannya, budgeting mungkin terkesan nyusahin atau membatasi, tapi sebenarnya hal ini justru bisa membebaskan kita, asal dilakukan dengan pikiran yang terbuka dan berfokus pada tujuan di masa depan. Eyes on the prize, baby!

Bagaimana dengan Mommies sendiri? Apakah ada pengalaman seputar budgeting dan penerapannya yang bisa jadi masukan untuk saya dan Mommies lain? Let’s share it here.

“Kebebasan finansial lebih dari sekadar memiliki sejumlah banyak uang; tapi juga tentang merasa bangga terhadap apa yang yang telah kita miliki dan bersikap realistis mengenai apa yang tidak kita miliki, serta menanamkan kebanggaan itu di diri anak-anak kita.” – Suze Orman

 

Pages: 1 2 3
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top