Now Reading
Budgeting, Kunci Keuangan Aman-Nyaman

Budgeting, Kunci Keuangan Aman-Nyaman

budgeting_family*Gambar dari sini

Budgeting juga membantu kita aware sama pengeluaran yang sifatnya tahunan. Sebelumnya, pengeluaran tahunan ini kerap ‘dilupakan’ – padahal pasti bakal hadir juga bill-nya! Kalau nggak disiapkan, budget-nya jadi dikeluarkan secara mendadak dan terpaksa ‘kan.

Pengeluaran tahunan ini nggak cuma meliputi pengeluaran yang sudah rutin dikeluarkan tiap tahun seperti bayar pajak, premi asuransi, atau dana hari raya, Mommies. Kita juga bisa mencantumkan pengeluaran yang sifatnya sporadis tapi kita tahu akan diperlukan, misalnya untuk perawatan rumah (untuk servis AC, plumbing, repainting, kebocoran, dsb), atau perawatan mobil.

Jangan khawatir income tahunan kita bakal habis untuk membiayai pengeluaran doang dan nggak ada ruang untuk senang-senang, Mommies, karena budget untuk pengeluaran tahunan bisa kita siapkan secara bulanan, kok. Semacam mencicil saja, tapi bukan untuk melunaskan barang melainkan membiayai kebutuhan sendiri.

– Ini manfaat yang paling terasa buat saya: budgeting bisa mengurangi impulse spending.

Mommies tahulah kalau sekarang ini berbelanja nggak perlu harus keluar rumah (dus, dandan, nyiapin anak, and all the hassle) tapi bisa online juga. Practical on one hand, but also can be disastrous for an emotional shopper… like me!

We women are emotional and we tend to be emotional buyers. Kalau lagi suntuk, berbelanja kerap jadi pelarian. Nggak cuma soal belanja buat diri sendiri, kalau ada pihak-pihak yang menawarkan produk atas nama anak dan keluarga, kita perempuan juga bisa ‘terjebak’ untuk membeli produk yang sebenarnya nggak tepat guna. Just because it touches our emotional side.

Akhirnya, demi menuju kondisi keuangan yang sehat, saya dan suami merinci pengeluaran yang dibuat, tujuannya agar bisa menemukan titik-titik kebocoran budget. Pengeluaran yang sudah dirinci itu kemudian dimasukkan ke dalam kategori-kategori untuk memudahkan kami mengontrol rasio atau persentase pengeluaran. ‘Pakem’ pembagian kategori pengeluaran yang kami terapkan sebagai berikut:

  • Cicilan dan hutang maksimal 30%
  • Tabungan dan investasi minimal 10%
  • Pengeluaran rutin 40-60% terdiri dari:
  1. Kebutuhan rumah tangga
  2. Transportasi
  3. Kebutuhan anak
  4. Kebutuhan bersifat sosial seperti zakat/perpuluhan, sedekah, arisan, atau sumbangan lainnya.
  • Kebutuhan pribadi maksimal 20%

(Referensi: QM Financial)

Oh ya, kalau ada uang sisa di cashflow kita, sebaiknya uang itu dibagi ke dalam savings (tabungan) dan discretionary spending (pengeluaran yang sifatnya ‘bebas’ dan nggak esensial) misalnya untuk shopping, liburan, atau hal-hal lain yang sifatnya luxury lah.

Selanjutnya, sesudah menyusun cashflow di MS Excel, saatnya kami membagi-bagi uang secara nyata ke pos yang berbeda-beda.

Terdengar ribet? Coba baca langkah nyata yang saya lakukan secara sederhana di halaman selanjutnya, ya.

Pages: 1 2 3
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top