Now Reading
Jangan Memuji Anak!

Jangan Memuji Anak!

nenglita

mom-daughter-feet*Gambar dari sini

Alih-alih melontarkan berjuta kalimat manis penuh pujian, coba deh lakukan ini:

  • Katakan yang dilihat

Saat anak bisa mengikat tali sepatu sendiri, “Eh, anak ibu sudah bisa ikat tali sepatu sendiri, ya..”. tanpa perlu banyak kata, anak tau bahwa kita bangga. Ucapan yang keluar dari hati, akan lebih bermakna dibandingkan dengan kalimat puja puji yang keluar dari mulut saja.

  • Banyak tanya, sedikit komentar

Misalnya, anak menunjukkan gambar hasil karya yang ia buat di sekolah. Sebelum melontarkan pujian, ajukan berbagai pertanyaan mengenai hal yang ia tunjukkan misalnya, “Wah, gambar rumahnya besar, ya. Ini rumah siapa?” dan seterusnya.

Dengan mengajukan pertanyaan, kita akan lebih menjalin percakapan dengan anak dibandingkan saat kita hanya mengucapkan pujian. Selain itu, anak akan lebih merasa dihargai karena berarti kita benar-benar mengamati hasil karyanya. Setuju?

  • Puji prosesnya, bukan hasilnya

Berkaitan dengan poin di atas, kita fokus pada proses, bukan pada hasil gambar tersebut. Sama halnya dengan misalnya anak memilih pakaian sendiri, daripada mengatakan “Anak Ibu cantik banget sih”, sebaiknya “Wah, baju yang kamu pilih, cocok deh!”. Atau saat anak mendapatkan nilai 100, misalnya. Katakan “Kamu sudah rajin belajar sih, ya, jadi dapat 100 deh!”. Dengan pemilihan kalimat seperti ini, anak belajar bahwa ada proses yang harus lalui untuk mencapai sesuatu.

  • Mengucapkan pujian di saat-saat yang tepat

Buat saya, anak menghabiskan makan atau mengikat tali sepatu adalah suatu keharusan dalam hidup. Ya nggak sih? Lalu kapan saat yang tepat untuk memuji?

Kata-kata yang paling menohok saat seminar itu adalah, orangtua seringnya hanya berkomunikasi dengan anak di 2 hal: saat anak melakukan kenakalan atau kehebatan. Jadi komunikasi yang terjalin dengan anak seringnya, memarahi atau memuji. Selain dua hal itu, seringkali, nihil.

Kemudian Ibu Delfie menyarankan pujilah anak saat dia tak melakukan apa-apa. Misalnya, “Duh, ibu bahagia punya anak kamu”, padahal si anak lagi duduk diam sambil main boneka. Kenapa hal ini justru disarankan? Karena dari sini, si anak akan bertanya kenapa, lalu kita bisa menerangkan hal yang sejujurnya kenapa kita bahagia punya anak seperti dia. Bukan karena makanan yang ia habiskan, piala yang ia bawa pulang, atau kemampuannya mengancingkan kemeja.

Ya, tunjukkan pada anak bahwa kita mencintai dia, apa adanya :)

 

 

Pages: 1 2
View Comments (5)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top