Now Reading
Mengukur Keinginan Dan Kenyataan

Mengukur Keinginan Dan Kenyataan

family_reading

Lalu, jika terjadi masalah dalam diri anak, entah itu menyangkut dirinya sendiri atau menjadikannya berkonflik dengan anak lain, apakah saya akan dengan emosionil menunjuk berbagai faktor dan juga pihak-pihak untuk disalahkan? Atau saya buru-buru mengecek adakah tindakan saya yang berkontribusi terhadap masalahnya itu?

Tak hanya itu, seberapa sering, sih, saya bisa bersikap netral ketika anak menghadapi konflik dengan temannya? Lalu, apakah saya bisa dengan kepala dingin mencari tahu apakah anak butuh solusi, mencari bemper, atau hanya perlu tempat curhat ketika ia sedang menghadapi konflik?

Belum lagi jika ‘masalah’ di diri anak membuatnya merugikan orang lain, apa saya bisa legowo meminta maaf, mengambil tanggung jawab sebagai primary caretaker, dan mengoreksi diri? Atau malah in denial, berkata, “Ih, anak saya NGGAK MUNGKIN kayak begitu!”?

Dan, jika masuk ke ranah pilihan pribadi maupun keluarga; seberapa banyak yang dibuat karena memang perlu, dan berapa yang hanya karena ikut-ikutan orang lain?

Baik pilihan yang terkait anak seperti pilihan sekolah, pilihan ekskul atau les, maupun pilihan-pilihan untuk diri sendiri. Apakah kita sudah mampu memilih secara mandiri?

Can we afford what we buy? Do we run after what we really need? But, first and foremost, do we know what we really matters to us?

Yang terakhir, apakah kita sudah tahu metode bagaimana yang paling tepat namun juga paling nyaman diterapkan untuk mendidik anak?

Sudahkah kita tahu karakteristik generasi anak-anak kita, yaitu generasi Z?

Apakah kita sudah mendidik mereka sesuai zamannya?

Masa di mana anak-anak terhubung sejak mereka lahir ke seluruh dunia melalui internet. Masa di mana online activities akan menjadi bagian tak terelakkan dari keseharian mereka; mereka “bertemu” dengan teman-temannya secara online, namun mereka juga terekspos pada celah-celah kelam dunia maya yang diisi oleh online bullying, sexual predator, dan sebagainya.

Sudahkah saya membatasi screen time agar mereka tidak asyik memeloti gadget sementara kami sedang duduk bersama-sama di meja makan?

Waduuh, panjang sekali, ya, daftar pertanyaan untuk “reality check” saya, Mommies. Tapi tentulah tidak mungkin semuanya kita tanyakan all at once.

Dari yang saya baca, ada baiknya reality check dilakukan secara berkala namun berkelanjutan, misalkan saat “family meeting” mingguan atau bulanan. Momen ini bisa menjadi ajang diskusi dengan pasangan, maupun dengan anak-anak saat mereka sudah paham.

Saat itu, kita bisa mengajukan topik untuk dicek sesuai situasi, misalkan saat akan membuat sebuah pilihan. Tak hanya seputar pengasuhan, kita juga bisa melakukan reality check terhadap hal-hal lain, misalnya kesehatan, aturan di keluarga, keputusan finansial, dan lain sebagainya.

Lalu, apa yang diperlukan dalam melakukan reality check? Baca di halaman selanjutnya.

Pages: 1 2 3
View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top