banner-detik
KINDERGARTEN

Tak Hanya Sekedar Les Tari

author

irasistible04 Nov 2014

Tak Hanya Sekedar Les Tari

IMG_20141101_124541Sudah sekitar dua bulan ini, saya masukkan Nadira ke sebuah sanggar tari tradisional di Jakarta Timur. Bahkan, akhir pekan lalu, ia tampil di sebuah acara di sebuah mall bersama teman-temannya, menarikan tarian Kupu-kupu asal Jawa Tengah.

Selama itu, saya melihat dia senang sekali dengan aktivitas barunya ini. Dia tak pernah mau bolos latihan sekalipun. Setiap hari, ia juga tak bosan-bosannya berlatih sendiri di rumah. Saya pun jadi lega, berarti keputusan saya sudah tepat.

Saya memang sengaja memasukkan Nadira ke sanggar tari tradisional dengan berbagai alasan. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Sesuai minat anak
  • Sejak kecil, Nadira suka menyanyi dan menari meniru gerakan di video klip lagu anak-anak yang saya putarkan. Waktu itu, saya menganggapnya wajar karena memang rata-rata anak sebayanya gemar melakukan itu.

    Saat ia masuk playgroup, di sekolahnya ada latihan menari jelang kenaikan kelas. Yang membuat saya kaget, gurunya melaporkan bahwa Nadira cepat hafal dengan gerakan-gerakan yang diajarkan oleh pelatihnya.

    “Akhirnya kami menyuruh teman-temannya untuk melihat Nadira sebagai contoh karena dia yang paling hafal semua gerakan tari,” kata gurunya.

    Saya terkejut sekaligus bangga. Soalnya saya benar-benar nggak mengira, lho. Dan benar saja, saat pentas kenaikan kelas, Nadira bisa menari dengan baik dan benar.

    Lalu, keluarga kami pernah berkunjung ke Desa Wisata Cinangneng, Bogor. Di situ, ada pelajaran singkat tari Jaipong yang bisa diikuti Nadira dengan baik. Padahal dia baru pertama kali melihat tari Jaipong di situ.

    Saya pun langsung semangat mencarikan sanggar tari untuknya. Setelah berkali-kali mencari, Alhamdulillah ketemu yang dekat dengan rumah.

  • Melatih rasa percaya diri
  • Meski suka menari dan menyanyi, rasa pede Nadira masih minim. Dia hanya berani beraksi di depan keluarga dekat dan orang-orang yang membuatnya nyaman saja. Begitu ketemu orang baru, semangatnya pasti langsung kempis.

    Bahkan di sekolah, saking minim pede dan mudah nervous, Nadira hanya mampu menyelesaikan soal-soal latihan sederhana jika berada di dekat guru kelasnya. Jika gurunya diganti , ia akan berkeringat dingin, dan hasil soalnya akan berantakan.

    Saat saya berkonsultasi dengan gurunya, ia menyarankan agar Nadira diberi kegiatan tambahan untuk melatih rasa pede. Saya langsung teringat rencana kursus tari tradisional yang sudah saya agendakan sejak beberapa saat sebelumnya. Apalagi sanggarnya ini cukup sering mengajak anak murid untuk tampil di berbagai pentas maupun acara di televisi.

    Benar saja. Waktu tampil kemarin, Nadira bisa menguasai diri, dan tampil dengan baik. Padahal saya sendiri nervous luar biasa, mengingat acaranya digelar di tengah mall yang super crowded dengan penonton yang tidak dikenal. Saya khawatir Nadira tiba-tiba ngambek tampil dan menangis. Untung semuanya bisa berjalan lancar. Mudah-mudahan bisa pede terus ya, Nak!

    Ada hal lain yang menjadi alasan saya mengkhususkan pemilihan pada tari daerah. Simak di halaman selanjutnya, ya.

    IMG_20140831_102431

  • Memupuk rasa cinta pada kebudayaan Indonesia
  • Sejak dulu, saya memang punya janji pada diri sendiri. Jika saya punya anak, saya akan memasukkannya ke sanggar seni tradisional. Entah itu sanggar tari, musik, patung, atau lainnya.

    Kenapa? Saya ingin agar anak saya tidak lupa pada kebudayaan tradisional negeri tempat ia dilahirkan.

    Saya miris melihat betapa banyaknya anak-anak yang lebih paham kebudayaan negara lain ketimbang negara sendiri. Saya juga malu saat melihat mulai banyaknya warga negara asing yang jago menari tradisional atau menjadi dalang wayang kulit. Sementara anak-anak Indonesia sendiri, jangankan berlatih, diajak menonton pun banyak yang tidak mau.

    Dengan memasukkan Nadira ke sanggar tari tradisional, setidaknya saya sudah mengenalkannya ke langkah awal untuk mencintai dan menghargai kebudayaan para leluhur. Jadi ke depannya, ia akan lebih banyak berinteraksi dengan dunia ini. Mudah-mudahan, dia juga tidak akan segan-segan terjun lebih dalam lagi untuk melestarikan kebudayaan nasional. Karena kalau bukan kita, siapa lagi dong?

  • Tambah aktivitas gerak
  • Saya akui, aktivitas harian Nadira tidak terlalu mendorongnya untuk bergerak, bergerak dan bergerak. Pulang sekolah, ia lebih banyak berada di rumah. Aktivitas menari membuatnya jadi lebih banyak bergerak. Sebab, meski hanya dilakukan seminggu sekali, tapi efeknya lumayan banget, lho.

    Apalagi, setiap latihan, saya sering merekam kegiatan di sanggar. Nah rekaman itu selalu dijadikan Nadira sebagai panduan bagi dirinya untuk berlatih sendiri di rumah. Alhasil, meski tak banyak keluar rumah, ia tetap bergerak, bergerak dan bergerak.Tambah extra skill untuk masa depan.

  • Tambahan skill untuk masa depan
  • Bertahun-tahun lalu, saya pernah mengikuti sebuah konferensi pemuda se-ASEAN mewakili Indonesia. Saya berangkat bersama rombongan yang terdiri dari penari, pemusik dan perupa berusia muda. Hasil obrolan saya dengan mereka, memberi saya tambahan ilmu tentang pentingnya kemampuan seni budaya tradisional bagi anak-anak.

    Seorang teman saya, Lia, mengaku sudah melanglang buana sejak masih duduk di bangku SMP berkat kemampuannya menari tradisional. Sudah lebih dari 30 negara yang pernah ia kunjungi.

    “Semua gratis, dan saya pun dibayar serta mendapat penghargaan karena menjadi duta budaya Indonesia,” katanya. Saat masuk kuliah, ia juga mendapat kemudahan untuk masuk sebuah perguruan tinggi negeri ternama karena kemampuan dan talentanya itu. Asyik, kan?

    Seorang teman saya yang lain, Risa, juga bercerita kisah serupa. Saat kuliah di luar negeri atas program beasiswa, Risa sering tampil menari di kedutaan maupun di restoran atau acara seni budaya lokal. Kebetulan, sejak kecil, Risa memang sudah piawai menari tarian Bali.

    “Lumayan honornya bisa saya gunakan untuk kehidupan sehari-hari. Tahu sendiri kan mahasiswa penerima beasiswa itu tight budget banget. Beruntung saya bisa nari jadi bisa dapat tambahan uang, sekaligus memperkenalkan Indonesia di masyarakat setempat,” tuturnya.

    Selain itu, setahu saya, memiliki skill di bidang seni budaya tradisional adalah poin plus jika ikut program pertukaran pelajar, dan berbagai program kepemudaan lainnya. Siapa tahu jika Nadira konsisten di bidang seni tradisional, dia bisa seperti teman-teman saya di atas yaa *amiinnnn*

     

    PAGES:

    Share Article

    author

    irasistible

    -

    banner-detik

    POPULAR ARTICLE

    banner-detik
    banner-detik

    COMMENTS