Behind a Sane Mom There’s a Superdad

Saya sendiri terus terang baru belakangan bisa dapat me-time yang berkualitas. Waktu di Semarang, saya nggak tahu harus me-time apa atau ke mana yang seru. Bahkan saat Amel bisa mengunjungi 19 tempat wisata dalam 1.5 tahun, saya nggak ke mana-mana selama empat tahun *keluh*. Itulah efeknya tidak ada pembantu, mengurus 3 anak balita (dan kemudian plus hamil lagi haha), dan rumah di atas bukit. Belum berwisata rasanya sudah capek membayangkan nanti pulangnya kudu berurusan dengan setumpuk baju kotor dan beberes rumah, s-e-n-d-i-r-i.

Sekarang saya lebih banyak kesempatan me-time, yang sebagian nggak bisa terjadi kalau Ayah nggak sanggup ditinggal bersama anak-anak. Bisa mengawal kelas anak-anak saat outing sekolah, kadang kebagian liputan event weekend, atau yang baru saja ini, kesempatan facial di Menard. Rugi, kan, kalau nggak diambil hanya karena nggak bisa meninggalkan the buntuts?

d1234-1Ini yang mereka lakukan saat menunggu saya antri facial :D. Maaf gambarnya agak blur, susah memotret 4 anak dengan benar -_-.

Apa saja yang dilakukan Ayah untuk meng-entertain empat anak berusia 9-2.5 tahun selama menunggu mamanya antre facial? 

  • Pertama tentu makan. Nggak perlu repot cukup fast food biasa saja. Walau nggak terlalu sehat, tapi fast food lebih mudah diterima anak-anak tanpa ribut nggak doyan. Makanan sehat nanti sajalah saat sama Mama :D.
  • Window shopping di toko mainan. Ayah sudah hafal anak-anak bisa sibuk selama beberapa waktu di tempat seperti ini.
  • Ke tempat permainan ketangkasan. Di sini PR-nya memilih wahana yang bisa dimainkan sesuai umur keempatnya, walau biasanya D4 lebih banyak mogok :D.
  • ‘Menyumpal’ camilan. Anak-anak ini kalau pergi nggak peduli dari rumah sudah makan kenyang, sampai tujuan pasti lapar lagi *garukgarukkepala*.
  • iPad atau gadget lain. Dalam keadaan genting, gadget ini biasanya mempan. Tapi tricky kalau mengasuh banyak anak, karena ada kemungkinan berebut.

Kalau di rumah malah gampang. Lebih banyak mainan dan pengalih perhatian, dan tentunya lebih gampang mengawasinya.

Beruntung, ya, punya Superdad di rumah? Semua bisa, kok, punya (dan jadi) Superdad. Kuncinya cuma dua, Mommies beri kesempatan si Ayah untuk bonding dengan anak melalui caranya sendiri, dan untuk para Ayah, jangan gengsi mengurus anak dari kecil termasuk mengganti popok dan menidurkan bayi. Kagok itu biasa. Kalau cara Mama terasa rikuh, cari cara yang lebih nyaman untuk Ayah. Nggak ada cara yang salah, kok, selama popok nggak terbalik dan anak bisa tertidur nyenyak ..hahaha.

Yuk, mulai dari sekarang belajar bonding sama anak biar jadi Superdad. Jangan tunggu sampai anaknya empat seperti saya, lho! :D


5 Comments - Write a Comment

Post Comment