Motherhood Monday : Putri Langka, Berperang Melawan KDRT

IMG-20141024-WA0003 (1)

Sebagai psikolog, Mbak pasti sudah banyak tau berbagai teori soal parenting, mana yang boleh dan tidak. Dalam praktiknya suka merasakan melakukan hal yang bertentangan nggak mbak?

Banyak sekali. Contohnya gini, kita kan diajarkan untuk nggak boleh nakutin anak. Tapi dalam real life pasti kan ada momen yang bikin kita capek. Apalagi waktu anak-anak masih kecil, akhirnya kadang-kadang kita juga melakukan hal-hal yang memang tidak boleh dilakukan. Kalau dibiarkan nggak bisa, kalau diturutin kita juga capek. Tapi kemudian kita mencoba untuk ngebenerin. Misalnya ketika lagi pergi, anak-anak maunya lari ke sana ke sini. Kalau melarang dengan cara nakutin, kan nggak bisa juga. Biasanya kalau kondisi seperti ini saya akan cari alasan lain, dengan bilang jangan ke sana karena mama nggak bisa temenin sehingga nggak bisa awasin kamu. Di sana juga mungkin ada orang yang nggak baik sama kamu karena nggak semua orang itu baik. Kalau memang rasa keingintahuannya begitu besar, ya, memang kadang kita sebagai orangtua harus mengalah.

Tapi, dengan menguasai ilmu psikologi pasti sangat membatu dalam hal pola asuh, dong?

Dengan belajar psikologi saya sudah bisa memprediksi ke mana arah ‘larinya’ anak saya. Memang kita bisa mengarahkan lewat pola asuh, tapi bagaimanapun karakter anak itu nggak bisa dipaksa karena punya ciri khas sendiri. Bagian itu yang sudah kita pikirkan. Jadi yang bisa saya lakukan lebih dulu adalah menciptakan kondisi bagaimana anak-anak bisa cerita ke saya. Tanpa ada yang ditutupi, bahkan hal jelek sekalipun saya tau.

Mendidik anak zaman sekarang itu banyak deg-degannya. Nggak tau deh, gimana keadaan 10 tahun mendatang. Makanya saya suka ngeledek ke suami, kalau anak-anak sudah besar harus ada pembagian tugas. Anak perempuan ke kamu, anak laki-laki ke saya.

Kenapa, sih, Mbak ada kecendrungan pembagian pola asuh seperti itu? Bagian anak perempuan adalah ayah. Sementara anak laki-laki bagiannya ibu?

Hahaha, iya. Tapi kenyataannya anak-anak biasanya akan lebih dekat ke ibunya karena lebih sering berinteraksi. Begitu juga dengan saya. Tapi ketika anak-anak sudah tumbuh dewasa, biasanya para ayah akan sangat melindungi anak perempuannya karena mereka tau dunia laki-laki seperti apa. Rumusnya begini, para ayah selalu berpikir tidak akan ada laki-laki yang bisa melindungi anak perempuannya sebaik dirinya.

Seorang ibu pun akan berpikir tidak akan ada perempuan mana pun yang bisa mengerti anak laki-lakinya seperti dirinya. Sebagai perempuan sekaligus ibu kita juga tau mana perempuan yang baik dan tidak untuk anak kita. Makanya sering timbul masalah antara menantu perempuan dan ibu mertua, hahaha.

Tapi kita juga harus sadar kalau anak itu punya pilihan yang mungkin kita tidak bisa ikut interfensi. Dengan pola asuh yang tepat, ketika anak memutuskan sesuatu value dari orangtuanya juga yang ikut berperan.

Dalam dunia parenting sendiri, siapa yang Mbak jadikan role model?

Orangtua saya, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Orangtua zaman dulu itu kan sudah jelas sekali pembagian tugasnya. Bapak saya bagian prestasi, sementara ibu saya soal bersosialisai. Jadi kalau ngobrol sama bapak itu yang nggak akan jauh-jauh soal pendidikan dan prestasi, soal etika dan ngomongin soal pacaran baru ke Ibu, hahaha.

Sudah merasa jadi role model yang baik bagi anak-anak belum sih, Mbak?

Belum, sih. Semakin tau banyak, tentu kita akan merasa semakin bodoh. Kok, saya belum bisa gini, ya… kok saya belum bisa begitu ya… Tapi memang tidak semua teori, termasuk teori psikologi bisa dipraktikan di lapangan secara sempurna. Justru pengalaman di lapanganlah yang memberikan insight baru. Orangtua itu kan nggak ada sekolahnya, sebanyak apapun teori yang saya tau, praktiknya itu juga sering berbeda. Jadi memang akan ada trial and error. Kita akan selalu menemukan hal-hal yang baru.

—–

Wah… banyak sekali insight menarik yang bisa saya petik lewat obrolan bersama Ibu dari Ellena (6,5 tahun) dan Aleeon (5 tahun) ini. Buat saya, ngobrol dengan seorang psikolog terlebih yang sudah punya pengalaman di dunia parenting seperti Mbak Putri selalu menyenangkan dan memberikan saya inspirasi. Harapannya, sih, ilmu yang sudah saya serap darinya bisa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Rasanya pantas, nih, kalau Mbak Putri jadi nominasi Women Of Worth. Selain bisa memberikan inspirasi, dirinya saya anggap merupakan sosok perempuan yang mengiingatkan kita semua kalau kaum perempuan harus bisa menghargai diri sendiri sekaligus mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Termasuk terbebas dari belenggu KDRT.

Mommies punya kerabat yang menginspirasi seperti Mbak Putri? Daftarkan diri mereka di laman Women of Worth yuk!