Motherhood Monday : Putri Langka, Berperang Melawan KDRT

Stop-domestic-violence

Wah, Mommies Daily dengan senang hati kalau bisa kerja sama. Memangnya, saat ini kasus KDRT masih banyak, ya?

Banyak banget! Apalagi kasus yang nggak dilaporkan. Saat ini saya memang tidak sedang memegang kasusnya secara langsung, tapi KDRT ini memang masih banyak terjadi. Kekerasan ini kan juga bentuknya banyak, ya, ada KDRT fisik, psikis, ekonomi, seksual, ataupun spiritual. Kalau kekerasan fisik dan psikis pasti sudah paham bentuknya seperti apa. Sedangkan untuk kekerasan ekonomi ini misalnya dengan kondisi tidak bekerja, istri tidak dikasih uang atau uangnya sangat mepet, sehingga untuk mencukupi makan saja sangat sulit. Mereka harus ngutang, pinjem atau bankan minta ke orang lain. Kalau spiritual itu dia nggak boleh menjalankan keagamaannya.

Yang paling banyak terjadi, kekerasan seperti apa?

Biasanya sih gabungan. Fisik iya, psikis iya, ekonomi juga iya. Apalagi seiring berjalannya waktu, level kekerasannya itu makin lama makin tinggi. Misalnya, biasanya mukulnya sebulan sekali, lalu lama-lama intensitasnya lebih sering menjadi tiga minggu sekali, seminggu sekali bahkan setiap hari. Awalnya mungkin cuma lewat verbal, dikata-katain lalu akan meningkat ke fisik dengan dipukul, ruang gerak istri juga sangat dibatasi, kemudian lanjut dengan kekerasan ekonomi. Makanya, biar bagaimana pun KDRT ini merupakan kondisi yang sangat berbahaya.

Biasanya, faktor apa yang membuat perempuan atau istri tidak bisa keluar dari KDRT? Apakah lebih banyak dikarenakan faktor ekonomi?

Kadang-kadang karena pengkondisiannya sudah lama, mereka jadi kehilangan keberanian, masih berpikir kalau punya tanggungan anak. Untuk istri yang tidak bekerja kondisinya akan lebih sulit lagi. Mereka akan berpikir, kalau saya keluar dari rumah, lalu mau apa? Apa yang bisa saya lakukan? Bagaimana anak-anak? Yang lebih parah, mereka sudah kehilangan kepercayaan dirinya, sehingga berpikir kalau mereka nggak akan mampu untuk keluar dari rumah.

Sebenarnya, rentan mereka bisa menerima kondisi seperti itu tergantung pribadi masing-masing, bagaimana mereka menghayatinya. Ada perempuan yang dibentak saja sudah tidak bisa terima dan merasa cukup buat dia, tapi ada juga perempuan yang merasakan KDRT puluhan tahun bahkan sampai 20 tahun.

Perempuan seperti apa sih Mbak yang rentan kena KDRT?

Ini bisa terjadi pada siapa pun, kok. Lintas ekonomi, lintas budaya, lintas status sosial. Ada di mana istri yang sudah mencari uang, dia yang menghidupi keluarganya, ngurus rumah tangga, uang selalu diminta sama suami untuk memenuhi kebutuhannya, tapi dia tetap kena KDRT. Permasalahan KDRT ini sebenarnya sangat kompleks, kita nggak bisa bilang kalau perempuan yang kena KDRT ini takut keluar rumah karena faktor ekonomi saja. Semua juga bisa terjadi karena pola ketergantungan pada suami yang sangat kuat, sehingga saat harus keluar rumah dia merasa ketakutan.

Selanjutnya: Peran sebagai psikolog dan orangtua memudahkan dalam menerapkan pola asuh nggak ya?