Balita Tertarik Pada Lawan Jenis?

babyboy

Ternyata, menurut Intan Erlita selaku psikolog anak, kondisi ini memang sangat wajar dialami. Bahkan bisa dibilang jadi salah satu tahapan perkembangan psikoseksual. Kita sebagai orangtua nggak perlu terlalu parno ketika mendengar cerita atau melihat sikap anak yang menunjukan rasa tertarik pada lawan jenisnya. Soalnya, konsep ketertarikan anak-anak memang berbeda dengan anak usia ABG apalagi kita yang sudah pada tahapan umur yang matang.

Bahkan waktu saya bertanya lagi dengan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., psikolog, anak yang lebih akrab dipanggil Mbak Nina bilang, kalau sebenarnya kondisi ini juga bisa diartikan kalau pemahaman kognitif anak kian berkembang. “Itu kan anak berarti sudah paham akan perbedaan jenis kelamin. Mana yang perempuan dan laki-laki. Buat anak laki-laki, mereka sudah paham kalau temannya itu seperti ibunya, mungkin bisa dilihat dari tampilan atau perilakunya. Anak balita itu baru memahami dari tampilan fisik saja. Bukan seksualitas seperti orang dewasa, jadi sebenarnya memang tidak perlu khawatir.”

Mbak Nina juga menyarankan, dari sini kita bisa justru mendapat celah untuk mengajarkan anak-anak bagaimana cara mereka berperilaku dengan benar dan baik, khususnya pada lawan jenis. Jadi tambah yakin, deh, kalau pendidikan seksual itu memang harus ditanamkan sejak usia dini sehingga informasi yang diterima anak juga nggak salah.

Mungkin kalau merujuk pada teori psikoseksual yang dikemukakan Sigmund Freud, anak balita yang mulai menunjukan rasa ketertarikan pada lawan jenis ini masuk dalam fase latensi. Fase ke-4 setelah fase oral (0-1 tahun), fase anal (1-3 tahun), dan fase phallic (3-6 tahun). Di mana fase ini terjadi ketika anak di usia 5/6 – 11/13 tahun. Pada masa ini mereka sudah lebih banyak mengenal unsur-unsur seksual, perubahan pada tubuhnya, perbedaan dengan lawan jenis, juga beberapa di antaranya mulai tertarik dengan lawan jenis.

Dalam terorinya, Freud juga mengungkapkan kalau kemunculan setiap tahapan psikoseksual dan sebagian bentuk perilaku yang terjadi di setiap tahapan dikendalikan oleh beberapa faktor. Misalnya faktor genetik atau kematangan sedangkan isi tahapan-tahapan tersebut berbeda-beda bergantung pada kultur tempat terjadinya perkembangan si anak. Ya, setidaknya teori ini makin mempertegas kalau peran orangtua dan lingkungan sekitar memang sangat memengaruhi proses perkembangan anak, tak terkecuali dalam tahapan psikoseksual.

Tapi, kok, saya jadi makin deg-degan ya, kalau membayangkan proses tahapan perkembangan psikoseksual Bumi nantinya? Saat Bumi memasuki masa puber, apalagi ketika dia masuk dalam fase genital yang biasanya dimulai dari usia 13 tahun. Meskipun sudah cukup tau berbagai teorinya, tetap saja saat praktik pasti akan jauh lebih sulit *lap keringet*. Bukan begitu, bukan?