Anak Dan Uang

Kids

umnad・11 Aug 2014

detail-thumb

kids_money

Belum lama ini saya rajin memantau tagar #kidsNmoney dari @mrshananto di Twitter tentang anak dan uang. Saya suka sekali mengikutinya, sekalian belajar untuk diri sendiri dan tentu saja menerapkannya pada anak-anak saya :) .

Mungkin ada Mommies yang suka kelimpungan kalau anak minta jajan terus atau minta mainan tiap jalan-jalan ke mal. Atau malah kitanya sebagai ortu yang selalu menebar ‘racun'nya alias sebenarnya itu hobi kita namun diatasnamakan untuk anak :D .

‘Children see children do’. Sebenarnya anak-anak melihat bagaimana cara ortunya memperlakukan uang. Masih inget dong, ya, kalau orangtua adalah teladan untuk anak-anaknya? Jadi, mau seperti apa anak memperlakukan uang, yaa... sebagai orangtua kita perlu mengarahkannya.

Masalah keuangan, anak belajar tentang :

  • Earning,
  • anak perlu tahu, bagaimana cara menghasilkan/mendapatkan uang. Misalnya bekerja sama orangtua, angpau, dan seterusnya.

  • Giving,
  • anak perlu tahu, dari uang yang didapatkan ada hak orang lain di dalamnya. Misalnya infaq, sedekah, dan lain-lain.

  • Saving,
  • anak perlu tahu, dari uang yang didapatkan ada yang perlu ditabung, disimpan atau diinvestasikan untuk kebutuhan serta kepentingannya. Misalnya beli gadget pertamanya, kendaraan pertamanya, dan lain-lain.

  • Spending ,
  • yaaay..! Ini bagian yang paling disukai anak (juga orangtua, ya, haha ). Anak perlu tahu, bagaimana membelanjakan uang yang didapat, mana yang perlu atau butuh mana yang tidak. Misalnya beli mainan, buku kesukaan, dan sebagainya.

    Kapan sih, momen yang tepat untuk mengenalkan uang pada anak? Lihat di halaman selanjutnya ya!

    moneykidsBuat yang baru mau memulai belajar mengenalkan anak pada uang, bisa dimulai dari sekarang. Mumpung pada masih fresh uang angpau anak-anak, hahaha! Jadi, dari uang ini kita bisa belajar macam-macam. Mau belajar meneladani tentang kepemilikan, bisa dimulai dari uang angpau mereka. Mau belajar melatih anak buat keputusan, bisa dimulai dari uang angpau mereka juga, mereka memutuskan untuk apa saja uang yang mereka dapatkan.

    Tentu saja, diiklankan tentang apa yang selanjutnya perlu dilakukan setelah mereka terima uang. Kalau saya selalu nanya, uangnya mau diapain, yang jelas dibagi 3, infaq, nabung (investasi), belanjain (beli sesuatu/jajan).

    Dan tahun ini, mereka memutuskan untuk nggak beli apa-apa. Si Kakak mau nabung untuk gadget pertamanya, anak ketiga mau nabung untuk motor keren seperti om nya :D . Jadi setelah dipotong untuk infaq, mereka memutuskan untuk menabung/menginvestasikannya, lalu sebagian untuk jajan mereka.

    Masalah jajan juga anak bisa belajar tentang uang. Suatu ketika di bandara, anak-anak mau beli permen. Saya bilang, boleh saja, tapi coba liat dulu harganya, perlu nggak beli sekarang juga. Kemudian, anak-anak pergi ke toko tersebut untuk melihat harganya dan menyebutkan harganya pada saya. Lalu, saya kembali bertanya, menurut mereka apakah harga sekian sesuai? Apa nggak lebih baik belinya nanti ketika tidak di bandara? Tapi kalau mau tetap beli ya silahkan saja, keputusan tetap pada mereka, toh uang yang dipakai juga uang mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk nggak beli di bandara.

    Lalu setelah beli permen di luar bandara, mereka berkomentar “Kalau tadi kita beli di bandara cuma dapat satu ya, kalau beli di sini kita bisa dapat dua daan jajanan lainnya”, dengan wajah bahagia. Di sini, mereka belajar dengan nominal yang sama mereka belajar tentang ‘spending’.

    Yang terpenting dari mengajari anak tentang uang adalah, anak bisa belajar apa yang diperlukan/dibutuhkan. Tujuan orangtua kan ingin anaknya menjadi dewasa, salah satunya dewasa memperlakukan uang.

    Happy spending :)