Tenang Saat Anak Tantrum

dadgirlairplanepose

Selalu menjelaskan kenapa tidak boleh, kenapa dilarang, akan membiasakan anak berpikir lebih luas dan negotiable. Itu yang saya rasakan bermanfaat sampai sekarang. Anak terbiasa tau kenapa dia dilarang. Hal itu akan lebih menyerap di otaknya. Selain tegas dan konsisten, Saya juga selalu menerapkan reward and punishment. Memberi hadiah saat mereka berbuat baik/patuh, dan hukuman jika mereka tidak nurut. Tapi hukuman yang saya maksud tidak terus menjadi ancaman ya, dikit-dikit diancam, wah jadi anak penakut nantinya. Nggak berani melangkah, sudah takut ancaman duluan. Hukuman di sini lebih untuk mengenalkan pada anak hubungan sebab akibat, anak jadi tau risiko. Sedangkan hadiah, tidak melulu barang, pujian juga sudah hadiah.

Pengalaman saya, saat Aal dan Rasyid ikut belanja ke toko mainan, pastilah pengin ini itu, sibuk sendiri milih-milih minta dibeliin. Nah, saya cukup tanya, “Aal sudah pinter apa minta dibeliin itu?”, yang sudah-sudah sih, mereka jadi mikir sendiri, “Iya ya, pinter apa ya..”, hehe. Setelah itu dia akan mundur teratur (walau kadang ya tetep aja keukeuh). Namun,biasanya saya diam-diam membeli yang ia inginkan dan menyimpannya di rumah. Saya akan berikan saat ia berbuat baik atau patuh. Tak lupa saya jelaskan, hadiah ini karena Aal sudah melakukan hal yang baik.

Oya, selain mainan, Kadang semangkuk mi instan pun sudah cukup jadi hadiah. Haha, iya, makan mi! Karena jarangnya makan mi, menjadikan mi sebagai menu yang ditunggu anak-anak.

Alhamdulillah, kami sangat bersyukur selama ini kami tidak pernah mengalami anak tantrum hebat (nangis sampe guling-gulingan, teriak, dsb). Banyak mengobrol dengan anak membuat kita tau apa keinginannya. Luangkan waktu sejenak untuk itu. Anak yang terlalu dimanja dan dilindungi bak raja hanya akan memicu tantrum saat keinginannya ditolak. So, mari kita atur ulang pola asuh kita dalam mendidik anak-anak.

Saya sangat setuju dengan sebuah buku yang judulnya  Mengasuh Anak Tanpa Panik. Dan memang begitulah seharusnya, karena  itu tanda kesiapan kita menjadi orangtua, tidak panik menghadapi anak. Sekedar saran untuk para orangtua baru, ketika anak mulai 2 tahun, lebih rajinlah membaca buku atau artikel tentang anak, karena mulai usia ini perilaku anak mulai tambah macam-macam dan kita harus tau cara yang benar menghadapinya.

Satu lagi nih, jangan pernah merasa cukup untuk mencari ilmu mendidik anak karena menjadi orangtua memang harus terus belajar. Setuju?