Saat Anak ‘Divonis’ Kurang Gizi…

The little blue-eyed baby girl drinks juice from a bottle*Gambar dari sini

Wah, membayangkannya saja sudah bergidik, saya pun berusaha keras agar hal ini tidak menjadi kenyataan.

Dimulaikan perjuangan untuk memberi susu tinggi kalori kepada Rachel. Namun Rachel yang sedari lahir minum ASI langsung dari gentongnya, menolak susu formula baik melalui gelas maupun dot. Dalam empat bulan pertama, memberi 400 ml (2 botol) susu tinggi kalori/hari pada Rachel sungguh pekerjaan rumah yang sangat sulit untuk dipenuhi.

Menurut petunjuk, 200 ml harus dihabiskan dalam waktu 24 jam, sedangkan Rachel sekali minum 50 ml pun sudah bagus sekali. Biasanya si anak hanya mau minum susu saat tertidur pulas. Bila ia mulai sadar, dot akan dilepehkan. Di bulan ke-14 saya berhenti memberikan ASI ke Rachel, karena bila diberikan ASI maupun ASI Perah dia sama sekali tidak mau minum susu formula tersebut. Menghadapi segala kenyataan, luntur sudah berbagai idealisme yang telah saya pupuk sejak lama. Pokoknya prioritas saya adalah kurva pertumbuhan anak yang normal – yang akan mendukung tumbuh kembangnya dalam segala area.

Sesudah beberapa lama tanpa hasil yang berarti, saya mencoba ke dokter lain untuk second opinion. Dokter kedua bukan dokter anak, ia adalah dokter umum yang terbiasa menghadapi pasien anak-anak. Saya pikir apa salahnya mencoba (karena saat itu saya sudah di titik nadir menghadapi berat badan Rachel hehehe). Saat pemeriksaan fisik di kunjungan pertama, sang dokter mendeteksi betapa kembungnya lambung Rachel. Ia pun mengusulkan saya untuk mendeteksi pemicu alergi Rachel lebih jauh, serta memberikan obat pereda kembung lambung, vitamin dan juga obat penambah nafsu makan dalam bentuk puyer.

Bila bertemu dengan saya yang dulu, saat nafsu makan Rachel relatif baik, saya agak skeptis dengan resep puyer dokter. Namun karena sudah sangat desperate, saran dokter pun saya jalani. Berdasarkan pengalamannya, dokter berpesan bahwa ada beberapa anak yang kurvanya mungkin sedikit di bawah garis normal, tapi dalam kenyataannya anak tersebut tumbuh dengan normal.

Apa yang terjadi di hari pertama Rachel makan obat dokter tersebut sungguh di luar dugaan. Tanpa trik apapun, dia makan dengan lahap. “Keajaiban dunia Jakarta Barat nih (kami tinggal di sana),” celetuk saya pada suami seraya memamerkan piring Rachel yang telah kosong. Dalam beberapa bulan ke depan, nafsu makan Rachel perlahan meningkat, walau masih ada saat-saat di mana ia makan sedikit sekali. Kurvanya pun berangsur mendekati normal, walau pertumbuhan beratnya tidak sepesat dulu saat masih bayi.

Puji Tuhan, apa yang saya sekeluarga dulu khawatirkan mengenai intelegensi dan tumbuh kembang Rachel pun tidak terjadi. Di usianya yang 22 bulan, dia mudah menangkap konsep dan kosa kata baru, serta dapat merangkai kalimat 2 kata. Misalnya, air tumpah, mama mandi, papa tidur, mobil Rachel, dan sebagainya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjadikan pengalaman Rachel sebagai pakem untuk anak sulit makan, ataupun mengagungkan dokter umum yang berjasa dalam penambahan berat badan Rachel. Namun pengalaman ini telah membawa hikmat bagi saya, si Mahmud Angsa. Sejatinya segala pakem membesarkan anak secara ideal (textbook theories) baik untuk dijalankan. Namun dalam kenyataannya bisa terdapat deviasi di mana saya juga harus menyesuaikan diri. Dalam perkembangannya, saya juga belajar bahwa setiap orang tua pada umumnya tahu apa yang terbaik untuk anaknya. That is, I can’t be too quick to judge as I don’t see the big picture of their kids’ growth as their parents do.


6 Comments - Write a Comment

  1. halo….boleh tau nama dokter umumnya…anak saya 9bulan berat badannya dibawah garis hijau…garis kuning…tolong infokan japri aja kali ya ke meinekuechemrsp@yahoo.com…thx for share ya mom…tulisannya membangkitkan semangat saya untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bagi anak,mskipun diluar tekxtbook karena ada kenyataan yang harus dihadapi…salam kenap

  2. Hi Mommies,

    Sori baru balas pertanyaannya. Untuk info dokter, lebih baik saya infokan japri ya biar enak. Tolong email ke ruthset@yahoo.com.sg. Lebih baik via email karena saya tidak selalu cek website.

    @mommyrachel: dari 14 bulan sampai sekarang formula mom. Skrg ini saya kasi P*dias*re, sebelumnya N*trinidr*nk (hitungan kalorinya lbh banyak dari susu merk P).

    Semangat ya Mommies *pelukkin satu2.

  3. Waaahh…samaan. Nabil jg divonis gizi kurang. Kadang makannya susahhh. Lama bnget klo makan. Setahun 8.4kg, padahal berat lahir 3.89kg. Akhirnya 13 bulan dy sdh ga minum asi lg. Sekarang lagi coba nutr*nidrin*, sebelumnya P*dias*re. Sekarang klo makan selalu ada proteinnya 2 mcm + nasi tim + sayur sedikit. Alhamdulillah perlahan tp pasti BB nya bertambah. Usia 14bln bb nya 9kg. Iya susu N kalorinya lebih tinggi, 120ml x 4 dalam sehari. Kalo susu P 150ml x 4 dlm sehari.

    Saya curiga nabil gizi kurang krn dulu pas mpasi sebelum setahun seringnya saya kasih sarapan buah ato oatmeal keju, roti gandum, beras merah. Bahan makanan yg tinggi serat itu dokter blg agak krg bagus bwt bayi. Kenyang tp kalorinya sedikit. Plus bikin pup melulu.

Post Comment