Motherhood Monday: Nita Puspita, “Semua Perempuan Bisa Melahirkan Normal”

imd

Hal apa sih yang bikin Mbak Nita yakin melahirkan secara normal?

Awalnya saya dan suami pasrah-pasrah saja dan mengikuti saran dokter untuk operasi, tapi saya coba gooling melahirkan tanpa rasa sakit yang intinya saya ingin melahirkan secara nyaman walaupun jika akhirnya operasi juga. Intinya, sih, saya lebih ingin mempersiapkan mental dan akhirnya saya menemukan referensi dari www.bidankita.com dan Gentle Birth Untuk Semua atau GBUS. Dari situ, saya yakin dan percaya bahwa semua perempuan pasti bisa melahirkan normal, tentunya dengan kondisi yang baik.

Karena dokter menjatuhkan vonis caesar dikarenakan minus mata saya yang tinggi, maka saya mulai ke dokter spesialis retina untuk memeriksakan mata, dan hasilnya bukan minus, plus atau silinder mata yang menjadikan alasan malahirkan dengan cara caesar atau tidak. Ibu dengan kondisi mata normal pun bisa saja caesar dikarenakan kondisi retina yang tidak baik, misalnya kondisi retina tipis sehingga mudah robek.

Alhamdulillah kondisi retina mata saya baik, dokter pun menulis semacam surat referensi untuk dokter kandungan yang menyatakan bahwa kondisi mata saya baik dan boleh melahirkan normal dan mengejan.

Sempat terbayang nggak, sih, risikonya saat melahirkan normal dengan beberapa kondisi yg mbak alami tersebut?

Pada saat awal-awal kehamilan saya sempat stress berat dikarenakan kondisi saya yang memang menurut dokter harus di operasi ditambah lagi saya punya sakit asma, keturunan dari kakek, terkena rubella, cmv. Tiap malam saya sampai tidak bisa tidur nyenyak gara-gara memikirkan risiko dari beberapa kondisi yang saya sebutkan tadi.

Apa komentar keluarga terdekat, khususnya suami ketika Mbak keukeuh mau melahirkan normal?

Kalau keluarga, khususnya orangtua saya awalnya tidak setuju dan lebih mengikuti saran dokter. Tapi saya jelaskan pelan-pelan tentang ilmu gentle birth ini dan lambat laun akhirnya mendukung saya. Ketika saya menyampaikan isi web tersebut ke suami, untung saja dia mau menerima bahkan sangat mensupport. Saya sampai 2 kali bolak balik Klaten untuk menemui bidan dan mengikuti workshop gentle birth bersama suami, karena bidan yang expert gentle birth dan menurut saya bisa memanusiakan manusia adanya di Klaten, hehehe. Untungnya lagi, bidan tersebut juga bisa melakukan persalinan secara waterbirth.

Kok, milih ke bidan, kenapa tidak dokter?

Mengapa saya memilih bidan yang khususnya buka praktik di rumah sendiri, karena menurut saya tidak sedikit dokter yang  nggak sabaran lalu melakukan interverensi medis yang tidak perlu. Misalnya cepat memutuskan untuk induksi, episiotomi, vakum, forcep, atau tidadakan yang lain. Ujung-ujungnya, bisa caesar juga. Lagipula pembukaan saya termasuk lama, mulai dari jumat jam 02:00 sampai sabtu jam 17:30.

Akhirnya saya memilih melahirkan di bidan praktik di Malang karena kebetulan bidan di Malang juga support gentle-waterbirth. Bidannya buka praktik di rumah sehingga suasananya hommy dan dekat dengan Surabaya. Untuk daerah Surabaya-Sidoarjo, saya belum menemukan bidan yang support gentle-waterbirth. Ada 1 rumah sakit di Surabaya yang menyediakan fasilitas waterbirth dengan biaya 16 juta, tapi sekali lagi saya anti Rumah Sakit dan dokter, hehehe.

Jumat jam 06:00 saya mendatangi bidan dekat rumah untuk periksa pembukaan, dan ternyata sudah pembukaan 1. Jam 10:00 saya berangkat ke Malang dan sempat mampir makan siang dan dalam kondisi macet, setiap 10 menit sekali saya menahan kontraksi. Diperkirakan bidan, jumat malam sudah lahiran, ternyata sampai besoknya belum lahir juga. Waktu itu bidan sempat menawarkan untuk suntik vitamin B1 untuk menipiskan serviks tapi saya tolak, saya yakin bayi itu pintar dan punya waktunya sendiri untuk lahir,  jadi saya menunggu dengan sabar dan menikmati setiap gelombang cinta yang datang.

Pembukaan 1 sampai 7 saya masih bisa tertawa, pembukaan 8-9 mulai, deh, meringis-meringis ke suami, hehehe. Malah bidannya sempat komentar, mbak ini kontraksi apa enggak, sih, kok gak kedengeran suaranya. Katanya saya pasien satu-satunya yang tenang dan sabar, hehehe.

Sabtu sore keluarga saya dan suami datang. Ibu saya tipe-tipe orang yang manut dokter, jadi dari awal saya tidak mau lahiran nanti ditemani ibu. Terbukti ketika beliau datang dan saya proses pembukaan 8-9, ibu saya sudah tanya-tanya ke bidan misal kalau tidak bisa normal bagaimana, tanya rumah sakit terdekat, tanya operasi caesar, dan itu secara tidak langsung menjatuhkan mental saya. Beberapa saat kemudian orangtua saya pulang, dan hanya keluarga suami yang tinggal di rumah bidan menemani saya.

Boleh tau nggak, sih, biayanya berapa?

Biaya yang saya keluarkan untuk persalinan waterbirth dengan bantuan bidan 3,2 juta. Saya ingin proses melahirkan senyaman mungkin, sealami mungkin dan dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Jadi tidak ada kata trauma melahirkan, yang ada hanyalah bahagia luar biasa bisa mempersembahkan yang terbaik bagi buah hati. Intinya knowledge is power :)

Selanjutnya: Mengapa water birth dan hypnobirthing?


5 Comments - Write a Comment

  1. hiksss, pengen banget waterbirth + hypnobirthing. kemaren waktu Gaby lahir, uda ke bidan kita (Klaten) juga, tapi malah KPD terus ditunggu smp 12 jam belum lahir juga padahal janin uda distress :( akhirnya dianter bu Yessi ke solo, sc deh akhirnya. tapi yang penting saya dan Gaby sehat & selamat :)
    Semoga anak kedua nanti bisa vbac, ngerasain nikmatnya waterbirth + hypnobirthing, amiiiinnnn :))

  2. Di Belanda sangatlah umum ibu melahirkan di rumah dengan bantuan bidan jika tidak ada komplikasi. Ya mungkin gak 1/2 tapi sekitar 1/4 sampai 1/3 ibu hamil memilih melahirkan di rumah. Konon katanya supaya lebih tenang, gak setres dst dst karena rumah sakit sini membudayakan 3 jam habis lahiran normal ibu langsung disuruh pulang jadi percuma repot2 ke RS. Masuk RS pun baru boleh sesudah kontraksi 5 menit sekali. Perawatan ibu dan anak dilanjutkan oleh suster yang datang ke rumah selama 8 hari pertama *dibayar asuransi*..

    Saya kebeneran punya ibu yang tenaga medis dan saudara2 ibu saya pun hampir semuanya tenaga medis, jadi sedikit overmedicated. Saya dengan sadar memilih rumah sakit sebagai tempat yang aman untuk melahirkan. Untung saja saya memilih rumah sakit karena bayinya setres jadi harus dikeluarkan ASAP. Dari cuma 2 orang yang bantu di ruang melahirkan (bidan dan suster) langsung saya dikelilingi sama 9 orang termasuk 1 residen obgyn tingkat akhir dan 1 orang obgyn yang bertanggung jawab atas segala proses yang terjadi. Kebayang kalau iseng nunggu di rumah, yang ada panik :p

  3. suka quote nya “knowledge is power”
    si “knowledge” inilah yang dulu membuat saya yakin bisa melahirkan normal dan sekarang yakin bisa menerapkan RUM untuk Gendra.

    jadi, jangan berhenti cari ilmu moms
    banyak baca baca baca….

Post Comment