Ketika YKS Dihentikan Sementara…

Di artikel ini, Lita menyebutkan hasil penelitian Human Communication Resources, yang menyatakan bahwa menonton televisi bisa menyebabkan kurangnya interaksi antara orangtua dan anak. Selanjutnya terlalu banyak menonton televisi bisa mengurangi kemampuan menulis, membaca, dan bahasa anak. Menurut Ibu Elly Risman, kecepatan perubahan warna, gerak, dan suara ini sangat cepat (per 2-3 detik), bandingkan dengan daya tangkap anak yang hanya 4-6 detik per sinaps. Nah, ini sebab televisi menjadi pembatas daya konsentrasi anak. Selain itu, menonton televisi juga menjadi penyebab obesitas pada anak. Anak-anak kurang bergerak karena aktivitasnya hanya duduk di depan TV. Iya, enak buat yang jagain, jadi nggak cepat lelah karena si balita dengan energi yang luar biasa bisa diredam dan ditenangkan dengan televisi. Tambah lagi, otot mata anak bisa kelelahan atau athesnopia karena terlalu lama nonton TV. Duh!

pg guideGambar dari sini

Saya yakin lembaga penyiaran punya aturan batasan umur untuk setiap acara televisi. Tapi pertanyaannya, di Indonesia ini, apakah peraturan ini dipatuhi? Bahkan saya merasa lembar “Tayangan Ini Sudah Lulus Sendor” yang diperlihatkan sebelum acara mulai, kok, hanyalah formalitas belaka.

Kembali ke acara yang katanya dihentikan sementara. Bagaimana dengan variety show yang hadir di prime time? Kalau saya, sih, inginnya acara seperti itu dihentikan saja, tidak baik. Iya, orang dewasa bisa terhibur dan tertawa. Anak-anak yang melihat dan ikut tertawa bagaimana? Tapi kalau misalnya acara tersebut memang masih akan tetap mendapat izin siar, setidaknya keluarkan larangan tayang langsung sehingga semua tayangan tadi bisa melalui proses editing. Dan kepada para editor, semoga berbaik hati mau menyunting setiap adegan dengan tulus tanpa pesan sponsor dari si A, B, dan C!

Jangan lupa, saringan utama anak ada di tangan orangtua. Jangan sampai bullying semakin merajalela, dan pelecehan seksual menjadi hal yang ‘biasa’. By the way, saya kadang mendengar pembenaran seperti “Kalau saya, sih, nggak apa-apa anak nonton TV, kan saya ada di sampingnya!” Benarkah ada kehadiran Mommies? Atau hanya duduk disampingnya sambil konsentrasi ke layar gadget Anda? *GRIN*


4 Comments - Write a Comment

  1. Saya malah br tau kalo yks dihentikan. Tp kayanya ada penggantinya yg gak jauh beda jenis2nya..
    Apalagi pas ramadhan gini lho, banyak acara menjelang buka puasa & waktu sahur yg bener2 gak mendidik. Joget2 gak jelas, becanda menghina fisik, banci2an. Padahal banyak usia anak2 yg nonton buat nemenin sahur..

  2. Believe me selama masi ada yg nonton, acaranya ga akan pernah mati. D1 (9th) tadinya seneng. Tapi sambil gw brainwash. Apa sih itu kok gini gitu? Apa sih gitu doang kok xyz? Karena dia sambil nonton natgeo sama runningman gw jd bisa bandingin tuh sama YKS. Mau lucu tp ga seabsurd YKS, tuh runningman lebih lucu. Mau yg bikin pinter, dapet ilmu/tau sesuatu lebih banyak, ada Natgeo. Lama2 ngeh dan bosen sendiri malah bisa nyela2 hahaha.

    But still ya undeniable klo acara tsb (plus acara2 semodel lain) sumber periuk nasi banyak org.

  3. Sebagai orang yang dulu pernah terlibat di produksi acara sejenis, gue malu lho. Asli. Dan merasa beruntung sekarang nggak harus terlibat secara langsung sama program-program sejenis ini.
    Tapi bener banget, live sama taping itu secara psikologis emang beda buat para pemain (juga kru). Untuk lebih seru, lebih seru love. Tapi risiko jauh lebih tinggi. Bukan cuma masalah melanggar UU penyiarannya aja, tapi trouble sama pemain, audio, dsb itu gede banget. Kalo taping, lebih aman. Cuma sekali lagi, efeknya beda.

    Mudah2an acara sejenis ini bisa dihentikan SELAMANYA, deh. Nggak mendidik, apalagi anak-anak malah ikut diekspos di acara sejenis. Atau kalau bukan anak2, ada juga orang dewasa yang postur tubuhnya seperti anak-anak, jadi bulan2an. Anak2 kita banyak yang belum paham kalau itu adalah orang dewasa kan? Duh, semoga KPI melakukan sesuatu untuk ini.

    Dan yang paling penting, semoga kita sebagai orangtua juga aware dengan hal-hal semacam ini.

  4. Televisi (yang bukan berbayar, ya) memang masih menjadi hiburan termurah bagi sebagian besar masyarakat, Jadi, walopun mereka tau tayangan seperti YKS, sinetron, dll itu jelek dan gak bermutu, di sisi lain mereka pun butuh hiburan. Jadilah mereka menonton.

    Kalau saya, kembali kepada kita sendiri. Kalau udah tau jelek, jangan tonton. Cari kegiatan lain yang menghibur (dan solusinya gak selalu harus dengan berlangganan tv kabel). Kembali kepada tekad kita. Mau pasrah dengan hiburan yang ada atau mencari hiburan lain yang lebih bermanfaat.

    Saya sih setuju YKS dibubarkan selamanya. Tapi, kalau cuma dihentikan sementara trus dibikin acara baru dengan format sama, judulnya dibikin mirip, misalnya ‘Bukan YKS’. Saya lebih gak setuju lagi. Sama aja televisi tersebut secara terang2an seperti mengejek buat saya.

Post Comment